Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Gempa M 5,2 Guncang Laut Sulawesi Utara, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa M 5,2 Guncang Laut Sulawesi Utara, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
BAGIKAN:

JAKARTA - Gempa bumi bermagnitudo 5,2 mengguncang wilayah laut di timur Bitung, Sulawesi Utara, pada Rabu (17/9/2026) pukul 09:20:48 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut tidak berpotensi memicu tsunami.

Berdasarkan informasi gempabumi berwarna hijau yang diterbitkan BMKG, pusat gempa (hiposentrum) terletak pada koordinat 1,40 Lintang Utara dan 126,25 Bujur Timur. Kedalaman hiposentrum tercatat 10 kilometer di bawah permukaan laut, yang mengkategorikannya sebagai gempa dangkal (shallow earthquake).

Secara geografis, epicentrum gempa berada di laut, sekitar 132 kilometer ke arah timur Kota Bitung. Jarak yang cukup jauh dari daratan membuat getaran yang dirasakan di wilayah sekitar relatif lemah hingga tidak terasa.

"Gempa ini tidak berpotensi tsunami," tegas Kepala Pusat Gempa dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan resminya. Ia menambahkan bahwa magnitudo 5,2 dengan kedalaman 10 km tidak memiliki energi cukup untuk menggerakkan massa air laut secara signifikan yang mampu memicu gelombang tsunami.

Hingga berita ini diturunkan, BMKG mencatat tidak ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa ini. Petugas BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat terus memantau perkembangan situasi, termasuk kemungkinan gempa susulan (aftershock) yang biasa mengikuti gempa induk bersifat tektonik dangkal.

Warga di wilayah Sulawesi Utara dan sekitarnya diminta untuk tetap tenang, tidak mudah terprovokasi isu-isu hoaks terkait tsunami, dan selalu mengikuti informasi resmi dari BMKG melalui website bmkg.go.id, aplikasi BMKG InfoBMKG, atau media sosial resmi @infoBMKG.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah 132 km timur Bitung merupakan bagian dari sistem tektonik yang kompleks di perbatasan pelat **Molucca Sea Plate** (Pelat Laut Maluku) dan **Philippine Sea Plate** (Pelat Laut Filipina). Secara spesifik, lokasi epicentrum ini berada dekat zona subduksi **Sangihe-Talaud** di utara dan zona kolisi **Molucca Sea Collision Zone** di selatan.

Gempa M 5,2 dengan kedalaman 10 km mengindikasikan terjadinya patahan geser (strike-slip faulting) atau patahan tekor (thrust faulting) dangkal di dalam pelat Molucca Sea yang sedang didorong ke utara oleh pelat Australia dan ke barat oleh pelat Pasifik. Berbeda dengan gempa subduksi megathrust di zona Sunda-Banda yang berpotensi tsunami besar, gempa di zona kolisi Laut Maluku tipe dangkal ini umumnya memiliki mekanisme sumber yang lebih kompleks namun energi vertikal perpindahan tanah cenderung lebih kecil, sehingga risiko tsunami sangat rendah.

Sejarah kegempaan di wilayah ini mencatat aktivitas sismisitas tinggi dengan frekuensi gempa M 5,0 - M 6,0 yang rutin terjadi. Contohnya, gempa M 6,6 di wilayah serupa pada 2019 dan gempa M 7,1 Talaud 2009 (meskipun lokasinya lebih ke utara). Pola gempa susulan (aftershock) untuk magnitudo 5,2 tipe dangkal biasanya berlangsung selama beberapa hari hingga minggu dengan magnitudo menurun (biasanya M 3,0 - M 4,5). Meskipun demikian, tidak dapat dikecualikan kemungkinan terjadinya gempa susulan yang lebih besar (foreshock-mainshock-aftershock sequence), meskipun probabilitasnya statistiknya rendah (sekitar 5-10%).

Mitigasi utama bagi publik bukanlah tsunami, melainkan **getaran sekunder** yang berpotensi merusak bangunan tidak tahan gempa di kawasan pesisir Bitung, Manado, hingga Kepulauan Sangihe-Talaud. Rekomendasi teknis: pastikan struktur bangunan memenuhi SNI 1726-2019, ikat furnitur tinggi, dan siapkan tas siaga darurat. Pemantauan deformasi tanah via GPS CORS BMKG di wilayah ini tetap krusial untuk memahami akumulasi tegangan jangka panjang di zona kolisi pelat unik ini.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ