Empat Tahun PFA dan PAC Cetak Atlet Timnas, PTFI Investasi Rp12 Miliar per Tahun
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

- Manager Sport Management PTFI, Janjai Adii, mengaku bangga meski mengakui perjalanan tidak instan.
- "Menjadi satu tantangan tersendiri bagi kami karena ini merupakan hal yang baru," ujarnya saat ditemui di Kuala Kencana, Papua Tengah, Rabu (16/9).
- Keduanya berkolaborasi dengan PSSI untuk sepak bola dan PASI untuk atletik guna merancang sistem rekrutmen dan pembinaan yang terukur.
Papua Football Academy (PFA) dan Papua Athletics Center (PAC) dalam empat tahun berhasil mengirim puluhan atlet muda ke panggung nasional hingga internasional, dengan investasi operasional Mimika Sport Complex (MSC) mencapai Rp12 miliar per tahun yang dibiayai PT Freeport Indonesia (PTFI).
Manager Sport Management PTFI, Janjai Adii, mengaku bangga meski mengakui perjalanan tidak instan. "Menjadi satu tantangan tersendiri bagi kami karena ini merupakan hal yang baru," ujarnya saat ditemui di Kuala Kencana, Papua Tengah, Rabu (16/9). Keduanya berkolaborasi dengan PSSI untuk sepak bola dan PASI untuk atletik guna merancang sistem rekrutmen dan pembinaan yang terukur.
Hasilnya mulai terukur. PFA yang berdiri Agustus 2022 kembali mengirim tiga siswa ke pemusatan latihan Timnas Indonesia U-16 di Solo, 12 September hingga 11 Oktober 2026: Alfa Christiano Sawaki (Nabire), Daniel Febrianto (Merauke), dan Dicky Carthensz Marani (Jayapura). Sementara PAC mencatat keberhasilan Silfanus Ndiken, atlet lempar lembing yang lolos ke skuad Asian Games 2026, menambah daftar alumni yang pernah tampil di SEA Games dan kejuaraan Asia Tenggara.
Strategi rekrutmen tak hanya mengandalkan turnamen besar. Janjai mengungkap PFA dan PAC menggelar mini turnamen hingga kejuaraan kecil di pedalaman untuk mengendus bakat yang tak tereksplor. "Kita butuh anak-anak yang benar-benar punya cita-cita, bakat, dan kemampuan," tegasnya. Fasilitas MSC—warisan PON 2021—dimanfaatkan penuh, termasuk asrama khusus untuk pemain PFA.
Dampak melampaui medali. Orang tua mengakui perubahan perilaku drastis: anak yang dulunya malas bangun kini mandi pagi, merapikan rumah, dan menunjukkan kedisiplinan serta percaya diri baru. "Ada orang tua yang kaget dan bilang, 'Apa yang kalian lakukan di sana? Anak saya sekarang bangun pagi, langsung ikut membereskan rumah'," cerita Janjai. Respons masyarakat Papua sangat positif, meminta program berlanjut demi dampak lebih luas.
Analisis Redaksi
Keberhasilan PFA dan PAC membuktikan model pembinaan berbasis kolaborasi BUMN-federasi-olympiak bisa berjalan di wilayah yang kerap jadi buta pengelolaan olahraga. Kunci bukan sekadar fasilitas MSC yang mewah, tapi konsistensi sistem: rekrutmen berbasis data via turnamen kecil, kurikulum karakter terstruktur, dan jalur naik ke timnas yang jelas lewat kerjasama PSSI dan PASI. Ini template yang layak direplikasi di Papua Pegunungan, Maluku, atau NTT—wilayah lain dengan potensi bakat serupa tapi minim ekosistem.
Tantangan depan: keberlangsuhan dana Rp12 miliar per tahun di tengah tekanan efisiensi PTFI, serta transisi atlet dari level usia ke senior. Banyak akademi gagal di titik ini—atlet U-16 cemerlang tapi tenggelam di level U-20 atau senior karena kesenjangan kompetisi dan bimbingan karir. PFA dan PAC harus memastikan jalur "keluarga besar" ini tidak putus di ambang profesionalisme. Jika gagal, investasi empat tahun hanya jadi kenangan manis tanpa warisan sistemik.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

PSG kukuh di puncak Liga Champions, Barcelona kejar ketertinggalan setelah matchday keempat

Australia Rayu Mathew Baker, Piala Asia 2027 Diundur, Megawati Hangestri Debut di Liga Korea

Lepas dari BAM, Cheah Yee See Menikah dengan Teo Kok Siang di Bali
