Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dari Macklemore hingga Roger Waters: Daftar Musisi Internasional yang Berani Bela Palestina di Tengah Tekanan Industri

SelebritiNadia PutriNadia PutriSumber: CNN Selebriti
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Dari Macklemore hingga Roger Waters: Daftar Musisi Internasional yang Berani Bela Palestina di Tengah Tekanan Industri
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Seluruh royalti kedua lagu itu disalurkan ke UNRWA, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, dan keduanya menjadi lagu tema demonstrasi anti-apartheid di berbagai kota AS.
  • "Saya tidak akan diam," tegas Macklemore usai didepak, sementara puluhan musisi lain turut mengeluarkan pernyataan solidaritas.
  • "Bersuara adalah kewajiban moral, saya tidak takut kehilangan peluang," kata pelantun Levitating itu.

Macklemore dipaksa keluar dari rangkaian Loop Tour Ed Sheeran awal September 2026 setelah menyuarakan dukungan untuk Palestina di atas panggung Stadion Gillette Foxborough, Massachusetts, venue yang dimiliki miliarder pro-Israel Robert Kraft. Keputusan itu justru memicu sorotan publik ke deretan musisi global yang selama ini konsisten menggunakan platform mereka untuk menentang okupasi dan menyerukan kemerdekaan Palestina, meski harus berhadapan dengan ancaman karir dan tekanan industri.

Sejak 7 Oktober 2023, penyanyi asal Seattle itu telah merilis dua lagu protes, Hind's Hall dan Hind's Hall 2, terinspirasi kematian Hind Rajab, anak enam tahun yang ditembak mati Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 2024. Seluruh royalti kedua lagu itu disalurkan ke UNRWA, Badan PBB untuk Pengungsi Palestina, dan keduanya menjadi lagu tema demonstrasi anti-apartheid di berbagai kota AS. "Saya tidak akan diam," tegas Macklemore usai didepak, sementara puluhan musisi lain turut mengeluarkan pernyataan solidaritas.

Dua Lipa menampilkan spanduk "Free Palestine" saat Sunny Hill Festival di Kosovo, Agustus 2025, dan memutuskan kerja sama dengan agen lamanya David Levy pada September 2025 pasca edaran industri yang menargetkan artis pendukung Palestina. "Bersuara adalah kewajiban moral, saya tidak takut kehilangan peluang," kata pelantun Levitating itu. Di usia 80-an, Roger Waters tetap gigih menggalang dukungan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS) sejak menyaksikan praktik apartheid di Cisjordania 2006, mengabaikan tuduhan antisemitisme yang menghantui kariernya.

Trio hip-hop Irlandia Utara Kneecap — Mo Chara, Móglaí Bap, DJ Próvaí — menjadikan pembebasan Palestina inti identitas mereka sejak 2023. "Media arus utama selalu menggambarkannya sebagai konflik Israel-Hamas tanpa menyebut genosida, apalagi di Amerika," ujar DJ Próvaí dalam wawancara 2024. "Kami punya wadah, kami wajib menyuarakan narasi lawan." Massive Attack justru sudah memboikot Israel sejak 1999; Robert "3D" Del Naja dan Grant "Daddy G" Marshall baru-baru ini merilis EP Ceasefire bersama Fontaines DC dan Young Fathers, 100 persen pendapatannya untuk Doctors Without Borders di Gaza dan Tepi Barat.

Di ranah kemanusiaan, The Weeknd — Duta Goodwill Program Pangan Dunia PBB — menyumbangkan makanan senilai US$4,5 juta untuk warga Gaza, nominal sama dengan bantuan Jennifer Lopez pada 2024 saat eskalasi serangan tak terduga. Kehlani merilis video musik Next 2 U dan merchandise dijahit di Betlehem, mengumpulkan US$555.000 yang dialirkan ke keluarga Palestina, Kongo, dan Sudan lewat Operation Olive Branch. Zack de la Rocha melewatkan pelantikan Rock & Roll Hall of Fame 2023 demi unjuk rasa di Washington DC, sementara Tom Morello turut hadir di protes mahasiswa anti-genosida.

Billie Joe Armstrong mengenakan bendera Palestina saat konser di Malaysia awal 2025 dan mengubah lirik Jesus of Suburbia di Coachella: "Lari dari rasa sakit seperti anak-anak dari Palestina / Kisah dari keluarga yang hancur lainnya." Damon Albarn menggalang dukungan di Glastonbury 2024 sebagai tamu Bombay Bicycle Club. DJ Snake memutar "Dammi Falastini" di konser besar di Kanada dan memimpin penonton berseru meminta kemerdekaan Palestina, membuktikan dukungan tak terbatas pada genre atau generasi tertentu.

Analisis Redaksi

Kasus Macklemore memamerkan realitas kaku: venue besar di AS masih dikendalikan oleh pemodal pro-Israel yang siap mengorbankan nilai seni demi kepentingan politik. Namun, reaksi balik justru memperluas jaring solidaritas lintas generasi — dari legenda 80-an seperti Waters hingga gen-Z seperti Kehlani — menciptakan tekanan moral yang sulit diabaikan industri. Ketika artis mulai rela kehilangan agen, sponsor, dan panggung utama, narasi "karir hancur kalau pro-Palestina" mulai retak.

Yang perlu diwaspadai adalah upaya standarisasi sensor melalui klausul kontrak dan daftar hitam tidak resmi yang didorong oleh grup lobi. Langkah logis selanjutnya: musisi besar perlu mengkoordinasikan bantuan hukum kolektif dan menciptakan saluran distribusi independen agar tidak tergantung pada infrastruktur yang bisa diblokir kapan saja. Sejarah mencatat, budaya protes yang konsisten — seperti boikot Afrika Selatan era apartheid — justru lahir dari ketidakmampuan industri untuk membungkam suara bawah.

Meow! Tanya Nesi!
😸