129 Korban KM Virgo Masih Hilang, Basarnas Siapkan Salvage Balikkan Kapal
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Basarnas menyatakan 129 korban KM Virgo Transport 8 yang terbalik di Laut Jawa sejak Minggu (13/9) lalu tetap belum ditemukan hingga hari keempat operasi pencarian, Rabu (16/9) malam. Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengaku hanya berhasil mengumpulkan beberapa atribut dan barang diduga milik korban di permukaan air, tanpa satu pun jasad baru yang berhasil dievakuasi.
Kendala utama hadang tim penyelam saat mencoba turun ke bawah laut. Arus di lokasi tercatat mencapai 6 hingga mendekati 7 knot, jauh melebihi batas aman standar penyelaman yang ditetapkan di bawah 1,5 knot. "Saat teman-teman ini turun segera ditarik kembali, karena faktor safety harus dipenuhi," ujar Syafii di konferensi pers, Rabu malam, menegaskan prioritas keselamatan personel.
Menghadapi kesulitan pencarian bawah air, Basarnas memutuskan menggeser strategi ke operasi salvage — membalikkan badan kapal untuk mempermudah pencarian di dalam ruang-ruangnya. Rencana ini akan dieksekusi jika cuaca terus menghalangi penyelaman. Syafii menegaskan, evakuasi korban di dalam kapal menjadi prioritas utama sebelum bangkai kapal ditarik untuk kepentingan investigasi lebih lanjut.
Sejumlah ahli dari dalam dan luar negeri sudah tiba di Banjarmasin untuk merencanakan aksi salvage tersebut. Mereka akan melakukan observasi udara terlebih dahulu, lalu asesmen teknis untuk menentukan sarana dan prasarana yang dibutuhkan — baik dari Surabaya, Kalimantan, maupun wilayah lain. Estimasi awal proses membalikkan kapal sekitar 24 jam, namun Syafii mengakui durasi bisa berubah tergantung kondisi lapangan.
KM Virgo Transport 8 hilang kontak pada Minggu (13/9) pukul 02.00 WITA saat berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu (12/9). Kapal ro-ro itu membawa 243 orang — penumpang, awak, dan kru. Hingga Senin (14/9), hanya 114 orang yang berhasil ditemukan selamat, menyisakan 129 nyawa yang nasibnya tetap misteri di lautan yang tidak mengampuni.
Analisis Redaksi
Keputusan beralih ke salvage menandakan geseran fase operasi dari pencarian dan penyelamatan (SAR) konvensional ke intervensi teknis berat yang berisiko tinggi. Membalikkan kapal ro-ro berukuran besar di tengah arus 7 knot bukan sekadar soal menghela tali; ia memerlukan presisi perhitungan stabilitas, koordinasi multi-pihak, dan cuaca yang mendukung — tiga variabel yang hingga kini justru jadi musuh. Jika salvage gagal atau justru merusak struktur internal, peluang menemukan korban di dalam ruang tertutup bisa hilang selamanya.
Angka 129 korban hilang bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka tersimpan cerita keluarga yang menunggu di dermaga Banjarmasin dan Surabaya, menahan napas setiap kali helikopter mendarat. Transparansi soal barang-barang temuan — yang hingga kini tak dibeberkan detailnya — jadi uji nyata komitmen Basarnas untuk tidak menutupi informasi. Publik butuh pasti, bukan sekadar rencana. Langkah selanjutnya yang logis: publikasi jadwal pasti salvage, identitas tim teknis, dan mekanisme komunikasi rutin ke keluarga korban agar kepercayaan tak tenggelam bersama kapal itu.


