Zulhaida Sulap Kulit Jagung Jadi Omzet Rp 5 Juta, PNM Mekaar Buka Jalan Ekspor
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pemotongan gaji mengajar di masa pandemi memaksa Zulhaida Sitanggang meninggalkan meja guru dan mencari nafkah dari rumah, perjalanan yang akhirnya mengantarkannya pada omzet bulanan Rp 5 juta dan sertifikasi pelatih kerajinan tangan nasional. Usaha Aida Craft yang ia bangun dari nol kini menyerap dua karyawan, jauh melampaui penjualan pertamanya dua gelas hias seharga Rp 100 ribu yang dibikin dari pecahan piring dan tali kain bekas.
Titik balik datang tak dari ruang kelas, tapi dari tumpukan barang bekas komunitas alumni yang mengumpulkan bantuan untuk warga terdampak Covid-19. Dari gelas dan piring retak itu Zulhaida melihat peluang: ia menghiasnya, menjualnya daring, dan menyalurkan sebagian hasil untuk amal. Rasa ingin tahu itu membawanya ke rumah saudara, di mana ia pertama kali melihat rangkaian bunga dari kulit jagung — bahan baku yang kemudian ia ambil sendiri dari tempat sampah pasar tradisional.
Belajar otodidak lewat video tutorial tak instan muluskan jalannya. Percobaan awal jauh dari sempurna, namun satu unggahan media sosial cukup menarik perhatian pembeli hingga ke telinga seorang perajin senior. Sang senior itulah yang membimbing Zulhaida memperbaiki teknik pengolahan agar hasil tidak mudah berjamur dan lebih tahan lama, fondasi teknis yang membuat Aida Craft mulai dikenal lewat undangan pernikahan dan liputan media lokal.
Ketenaran justru hadir dengan cibiran. Di sejumlah pameran, karyanya diremehkan karena terbuat "sampah", padahal ia berlatar belakang sarjana. Ketekunan menjawab ejekan itu dengan langkah masuk ke Asosiasi Eksportir Handicraft Indonesia, menjalani pembinaan UMKM tiga bulan, dan meraih sertifikasi BNSP sebagai pelatih kerajinan tangan. Modal untuk melonjak lebih jauh kemudian datang dari pembiayaan PNM Mekaar yang ia kenal lewat tetangga dan resmi digeluti sejak 2024.
Dana pertamanya beli peralatan paling dasar: pot dan lem. "Saat itu usaha belum punya apa-apa selain kegigihan dan tumpukan kulit jagung," ujar Zulhaida. Dukungan PNM tak berhenti di angka pembiayaan. Melalui Mba Maya, program Klasterisasi, hingga Mekaarpreneur, Zulhaida dibimbing memperkuat jejaring dan kewirausahaan. Ia kini rutin jadi pemateri Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) di wilayah binaan Cabang Medan, dari Johor hingga Berastagi dan Binjai, sebagaimana dibenarkan Pemimpin Cabang Medan, Muhammad Wazir.
Jangkauan pemberdayaan meluas ke luar jaringan PNM. Permintaan pelatihan di kawasan pesisir yang tak punya kulit jagung mendorongnya merambah limbah plastik, langkah yang mengantarkannya kenal Ikatan Pemulung Indonesia dan melatih 175 ibu-ibu se-Kota Medan hingga diundang Bank Indonesia mempelajari pengolahan limbah di Bali. "Saya memulai dari sampah, tapi tidak pernah merasa hidup saya sampah, justru penuh berkah," kata Zulhaida yang kini menyiapkan program kursus kerajinan di rumahnya, terbuka bagi siapa saja termasuk yang tak mampu bayar penuh.
Analisis Redaksi
Kisah Zulhaida membuktikan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan paling efektif ketika modal finansial dikawal pendampingan teknis dan akses pasar yang nyata. PNM Mekaar tidak hanya menyalurkan dana, tapi membangun ekosistem — dari sertifikasi kompetensi hingga peran ganda nasabah jadi pemberdaya — yang menciptakan efek multiplier jauh lebih besar dari nilai pinjaman itu sendiri.
Langkah selanjutnya yang logis adalah formalisasi skema pembiayaan berbasis dampak sosial (impact-based lending) agar nasabah seperti Zulhaida yang sudah terbukti menciptakan lapangan kerja dan mengelola limbah mendapat akses modal lebih murah dan tenor lebih panjang. Bank Indonesia yang sudah turun ke Bali memvalidasi model ini justru harus jadi tolok ukur perbankan lain dalam merancang produk kredit UMKM berkelanjutan.


