"THE EARLY SPRING" Tembus Top 2 Global Netflix, Jadi Drama Non-Inggris Terbanyak Ditonton di 22 Negara
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Drama romansa Mandarin "THE EARLY SPRING" meraih posisi kedua di daftar Netflix Global Top 10 Non-English Shows pada pekan 24—30 Agustus, mencatat 2,4 juta penayangan dengan akumulasi 21,5 juta jam tonton sejak perdana 26 Agustus lalu. Sutradara Chiang Chi-cheng dan penulis Gao Xiao-xian mengemas kisah cinta rahasia antara Flora Shang (Sun Qian), karyawan baru yang tulus, dan Luke Luan (Jing Bo-ran), direktur kreatif berkarisma, di latar dunia korporat yang serba cepat.
Kehebohan tidak terbatas pada pasar global. Serial ini menempati daftar 10 besar mingguan di 22 negara — termasuk Indonesia, Malaysia, Brasil, Venezuela, dan Qatar — serta menduduki puncak di Thailand, Taiwan, Hong Kong, dan Vietnam. Ritme "slow burn" hubungan kedua tokoh, dilengkapi momen intim yang dinilai berkelas, jadi daya tarik utama penonton di berbagai wilayah.
Jing Bo-ran mengaku terlibat mendalam dalam membangun karakter Luke. "Dia selalu datang ke set dengan persiapan matang. Sebelum syuting, kami sering diskusi panjang soal perjalanan emosional karakternya," ujar Gao Xiao-xian. Aktor kelahiran 1979 itu bahkan merancang busana Luke menggunakan koleksi pribadi dicampur merek ternama, serta menjalani olahraga harian untuk mempertahankan stamina dan proporsi tubuh yang sesuai citra bos karismatik.
Sun Qian, yang memerankan Flora, mengakui sempat gugup beradegan mesra. "Jujur, saya belum banyak melakoni adegan intim. Awalnya merasa malu dan gugup banget. Untung ada koordinator adegan intim yang bikin prosesnya nyaman," tuturnya. Adegan "body charades" jadi momen paling membekas: "Waktu syuting itu, otak saya rasanya langsung blank!" Ia menemukan paralel hidup nyata — sama-sama bermula dari Harbin, merantau ke Beijing, dan dekade pertama karirnya selaras dengan perjuangan 10 tahun Flora di layar.
Chiang Chi-cheng menegaskan niat menciptakan drama romansa non-konvensional. "Dari gaya visual, dinamika karakter, sampai eksplorasi keintiman dari sudut pandang lebih dewasa. Senang banget lihat respons penonton begitu luar biasa," kata sutradara "Had I Not Seen the Sun" itu. Alur yang relatable dan kimia alami dua bintang dipuji publik sebagai "perfect casting" yang langka di genre serupa.
Serial 24 episode ini kini tersedia penuh di Netflix untuk ditonton marathon.
Analisis Redaksi
Sukses global "THE EARLY SPRING" menandakan pergeseran selera penonton Asia Tenggara yang kini lebih terbuka ke narasi C-drama modern dengan standar produksi internasional. Angka 21,5 juta jam tonton dalam seminggu pertama — tanpa promosi masif di TV terbuka — membuktikan algoritma Netflix dan mulut ke mulut digital cukup menggerakkan massa kritis. Jika tren ini berlanjut, platform streaming akan semakin agresif membeli hak siar drama Mandarin berkualitas tinggi, mendorong rumah produksi Tiongkok menaikkan standar penulisan dan sinematografi.
Yang perlu diwaspadai: keberhasilan ini tidak boleh membuat industri lokal hanya jadi pasar konsumsi. Kolaborasi co-production — seperti yang sudah dilakukan Korea Selatan — jadi jalur logis agar kreatif Indonesia ikut menikmati kue global, bukan hanya jadi audiens. Langkah selanjutnya yang masuk akal: platform dan broadcaster nasional mulai mendanai pengembangan IP asli dengan format serial pendek (8—12 episode) yang ramah binge-watching, sambil merekrut penulis muda yang paham dinamika "slow burn" dan estetika visual kontemporer.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Lima Sinema Drama China Terbaru November 2026: dari Romansa VR hingga Intrik Balas Dendam Kerajaan

Rayakan 10 Tahun, 'Your Name' Kembali Putar di Bioskop Indonesia Beserta Kesan Visual 4K

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026
