Persib Pecahkan Rekor 30 Tahun, Klub Indonesia Pertama Menangi Laga Resmi di Korea
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Persib Bandung mengukir sejarah dengan mengalahkan FC Seoul 1-0 di Stadion Seoul World Cup, Rabu (16/9), mematahkan puasa kemenangan klub Indonesia atas wakil Korea Selatan di pentas kontinental yang telah berlangsung tiga dekade. Gol tunggal Julio Cesar pada babak pertama jadi penentu laga pembukaan Grup E AFC Champions League Two (ACL 2) 2026/2027.
Kemenangan ini istimewa. Sejak 1996, tidak ada satu pun tim Indonesia yang mampu mengalahkan klub Korea Selatan dalam kompetisi Asia. Terakhir kali PSM Makassar berhasil menumbangkan Pohang Steelers 1-0 di tanah air, namun tersungkur 0-4 di laga balik dan gagal melaju dengan agregat 1-4. Pohang Steelers lalu meraih gelar juara musim 1996/1997 itu.
Lebih dari sekadar mengakhiri puasa 30 tahun, Persib juga menjadi klub Indonesia pertama yang meraih tiga poin di Korea Selatan dalam sejarah kompetisi resmi AFC yang bergulir sejak 1967. Selama ini, Negeri Ginseng selalu jadi kubu tak terlukai bagi wakil Merah Putih. Kini tembok itu runtuh, meski hanya di kasta kedua kompetisi klub Asia.
Perjalanan Maung Bandung masih panjang. Lima laga tersisa menunggu di fase grup. Tantangan selanjutnya datang dari Vietnam: Persib akan menjamu The Cong-Viettel pada 14 Oktober mendatang. Laga itu akan berlangsung tanpa suporter karena sanksi AFC yang masih melekat pada tim pelatih Bojan Hodak.
Tiga poin di Seoul memberikan momentum emas, tapi konsistensi jadi kunci. Persib harus membuktikan kemenangan ini bukan sekadar kebangkitan sesaat, melainkan tanda matangnya sepak bola Indonesia di panggung Asia. Setiap laga depan akan jadi uji karakter, tak hanya soal taktik, tapi mentalitas juara.
Analisis Redaksi
Kemenangan Persib di Seoul bukan hanya soal statistik. Ini titik balik psikologis bagi sepak bola Indonesia yang selama ini selalu merasa di bawah wakil Korea Selatan. Ketika Julio Cesar mencetak gol, dia tidak hanya menembakkan bola ke gawang, tapi juga menembus blokade mental 30 tahun. Namun, euforia harus diseimbangkan dengan realitas: ACL 2 memang kasta kedua, dan FC Seoul bukan tim Korea terkuat saat ini. Uji nyata ada di konsistensi lima laga tersisa.
Sanksi AFC yang melarang suporter hadir di laga lawan The Cong-Viettel jadi ujian tambahan. Persib terbiasa bermain di depan tribun penuh, kini harus beradaptasi dengan heningnya stadion. Kemampuan Bojan Hodak mengelola mental pemain di kondisi "tanpa pendorong" ini akan menentukan apakah sejarah di Seoul jadi awal dinastí baru, atau hanya kenangan manis sesaat.


