Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Penduduk Jepang Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, Tertinggi di Dunia di Balik Populasi Menyusut

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Penduduk Jepang Berusia 100 Tahun Tembus 100 Ribu, Tertinggi di Dunia di Balik Populasi Menyusut
BAGIKAN:

Jepang mencatat sejarah demografi baru setelah jumlah warganya yang berusia 100 tahun atau lebih menembus angka 107.677 jiwa per September ini, pertama kali melewati ambang 100 ribu sejak survei dimulai 56 tahun lalu.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan lonjakan hampir 8.000 orang dari tahun sebelumnya, menempatkan negara Matahari Terbit sebagai pemilik populasi sentenarian terbesar di dunia. Dari total itu, 88 persen atau 94.298 orang adalah perempuan, dengan Fuyo Kishimoto (114) dari Kyoto dan Hikaru Kato (112) dari Kumamoto masing-masing memegang gelar tertua untuk jeniskelaminnya.

"Saya sangat senang bahwa begitu banyak orang tetap aktif dan sehat dalam waktu yang lama," ujar Menteri Kesehatan Kenichiro Ueno kepada The Independent, Rabu (16/9). Ia mengaitkan pencapaian itu dengan kemajuan nyata di bidang kedokteran dan teknologi, namun dalam kesempatan yang sama memperingatkan tekanan struktural yang mengancam keberlangsungan sistem jaminan sosial.

Angka harapan hidup rata-rata 84 tahun menurut Bank Dunia (2024) memang menopang narasi keberhasilan kesehatan publik. Namun, jejak sejarah pencatatan justru menimbulkan bayang-bayang keandalan data: pada 1963 tercatat hanya 153 sentenarian, angka itu melonjak jadi 1.000 pada 1981 dan 10.000 pada 1998. Audit internal 2010 lalu mengungkap lebih dari 230.000 catatan keluarga bermasalah โ€” puluhan ribu orang ternyata sudah meninggal puluhan tahun silam atau tak bisa dilacak, diduga disembunyikan keluarga untuk menarik pensiun.

Kontraksi populasi memperparah dilema ini. Institut Nasional Penelitian Kependudukan dan Jaminan Sosial mencatat jumlah penduduk Jepang saat ini sekitar 23 juta โ€” angka yang diproyeksikan anjlok drastis menjadi 87 juta pada 2070. Artinya, beban menopang generasi emas yang semakin panjang umurnya akan tertanggung pada bahu generasi kerja yang semakin menyempit.

Analisis Redaksi

Pencapaian 100 ribu sentenarian bukan sekadar statistik kesehatan, melainkan cerminan krisis eksistensial yang menunggu Jepang di depan mata. Ketika Menteri Ueno mengakui tekanan pada jaminan sosial, ia secara tersirat mengakui bahwa arsitektur welfare state Jepang โ€” dirancang untuk rasio dependensi yang lain โ€” sudah tidak muat lagi. Pension fraud yang terungkap 2010 lalu hanyalah gejala; penyakitnya adalah ketidakmampuan sistem beradaptasi dengan realitas demografi baru.

Langkah logis ke depan bukan hanya memperketat verifikasi data โ€” meski itu mutlak โ€” melainkan merombak fundamental skema pensiun, perawatan lanjut usia, dan kebijakan imigrasi tenaga kerja perawatan. Jepang sudah terlambat menunggu "solusi teknologi" seperti robot perawatan; realitas di lapangan butuh tangan manusia. Tanpa reformasi radikal pada pajak, usia pensiun, dan pembukaan akses tenaga kerja asing terampil, angka 107.677 ini akan terus naik sementara fondan pendanaannya terus mengeras. Sejarah akan menilai apakah Jepang berhasil mengelola keemasan usia lanjut ini, atau tenggelam di bawah beban janji pensiun yang tak terpenuhi.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ