Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Lemur Terancam Punah Dicuri dari Bangladesh, Berakhir di Kebun Binatang Keluarga Ambani

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Lemur Terancam Punah Dicuri dari Bangladesh, Berakhir di Kebun Binatang Keluarga Ambani
BAGIKAN:

Dua ekor lemur ekor cincin (*Lemur catta*), spesies terancam punah asal Madagaskar, yang dicuri dari Taman Safari Gazipur pada Maret 2025, kini terungkap berada di Vantara—kebun binatang pribadi milik keluarga Ambani di Gujarat, India. Penyelidik Bangladesh mengungkap rantai penyelundupan yang melibatkan petugas keamanan dan perbatasan, serta jaringan penjualan hewan bernilai 4,8 juta rupee.

Lemur-lemur tersebut awalnya masuk ke Bangladesh melalui Bandara Dhaka pada 2018 dengan deklarasi palsu, lalu diselamatkan dan dipindahkan ke Taman Safari Gazipur. Namun, sejumlah pelaku—termasuk seorang petugas keamanan dan petugas perbatasan—mencuri mereka dari lokasi tersebut. Menurut keterangan tersangka, hewan-hewan tersebut diselundupkan melalui perbatasan Darshana di Chuadanga menuju India, kemudian berpindah tangan hingga akhirnya dijual ke sebuah lembaga terkait dengan Vantara.

Penyelidikan Bangladesh mengungkap rincian detail yang mengejutkan: kedua lemur tidak memiliki mikrocip, nomor identifikasi, atau profil DNA yang tercatat, membuat proses identifikasi dan pemulangan menjadi rumit. Pemerintah Bangladesh kini berusaha membuat profil DNA seekor lemur muda yang masih berada di negara tersebut untuk membuktikan hubungan darah dengan dua ekor yang diselundupkan. Foto-foto lemur di media sosial menjadi bukti pertama keberadaannya di Vantara, yang dikelola oleh Radhe Krishna Temple Elephant Welfare Trust dengan dukungan konglomerasi bisnis Reliance milik Mukesh Ambani.

Vantara, kompleks konservasi seluas 3.500 hektare yang diresmikan Perdana Menteri Narendra Modi pada Maret 2025, telah menjadi sorotan kelompok hak-hak hewan karena tuduhan-tuduhan sebelumnya terkait impor hewan ilegal dan kekurangan transparansi dalam proses akuisisi hewan. Kelompok tersebut juga mengkritik pemindahan hewan dari kebun binatang milik pemerintah, seperti di Uttarakhand dan Madhya Pradesh.

Sementara itu, enam dari delapan tersangka dalam kasus penyelundupan ini telah mengakui kejahatan mereka di pengadilan Bangladesh. Namun, proses pemulangan lemur-lemur tersebut menghadapi hambatan hukum dan administratif. Vantara belum memberikan tanggapan terhadap tuduhan-tuduhan terkait keberadaan hewan yang dicuri, meskipun media lokal Bangladesh Ajker Potrika mengungkap rincian yang mengarah pada keterlibatan keluarga Ambani.

Analisis Redaksi

Kasus ini mengungkap kerentanan sistem konservasi di Asia Selatan, di mana hewan terancam punah menjadi komoditas perdagangan ilegal yang bernilai tinggi. Penyelundupan lemur ekor cincin, yang termasuk dalam IUCN Red List, menunjukkan bagaimana jaringan korupsi dan kejahatan transnasional masih beroperasi dengan lancar, melibatkan petugas keamanan dan perbatasan yang seharusnya menjadi penegak hukum. Faktanya, lemur-lemur tersebut tidak memiliki dokumen identifikasi apapun mengindikasikan kelemahan dalam manajemen hewan di Bangladesh, yang membuka celah bagi penyelundupan.

Keberadaan Vantara sebagai pusat konservasi yang didukung keluarga terkaya di India juga menimbulkan pertanyaan tentang prioritas sebenarnya fasilitas tersebut. Apakah fokusnya benar-benar pada konservasi atau justru pada prestasi publik dan investasi infrastruktur? Tuduhan-tuduhan sebelumnya terkait impor ilegal dan kekurangan transparansi tidak dapat diabaikan, terutama saat kelompok hak-hak hewan terus mengkritik praktik-praktik tersebut. Kasus ini juga mengingatkan bahwa hubungan politik dan bisnis dapat mempengaruhi keputusan konservasi, seperti yang terlihat dari dukungan Narendra Modi terhadap Vantara.

Langkah selanjutnya yang logis adalah penegakan hukum yang lebih ketat terhadap penyelundupan hewan, termasuk penguatan sistem identifikasi hewan dan kolaborasi antarnegara melalui Interpol. Selain itu, transparansi dalam proses akuisisi hewan di Vantara harus segera ditingkatkan untuk menghindari kasus serupa di masa depan. Jika Vantara benar-benar ingin menjadi pusat konservasi yang berintegritas, maka harus membuktikannya dengan tindakan konkret, bukan hanya dengan investasi besar-besaran.

Meow! Tanya Nesi!
😸