Hanya Tersisa Dua Betina, Badak Putih Utara Bergantung pada 39 Embrio di Laboratorium
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Hanya dua ekor betina badak putih utara (northern white rhino) yang masih bernapas di dunia ini: Najin dan anaknya Fatu, yang menghabiskan hari-hari mereka di bawah pengawasan bersenjata di Ol Pejeta Conservancy, Kenya. Keduanya tidak mampu mengandung secara alami, menjadikan teknologi reproduksi berbantu satu-satunya harapan untuk mencegah kepunahan total subspesies ini.
Konsorsium penyelamat badak putih utara telah berhasil menghasilkan 39 embrio murni di laboratorium Avantea, Cremona, Italia, hingga April 2026. Seluruh embrio tersebut dibuahi in vitro menggunakan sel telur dari Fatu — yang kini berusia 26 tahun — dan sperma beku dari badak jantan yang telah mati. Enam di antaranya sudah ditransfer ke enam induk pengganti badak putih selatan di Kenya, namun tidak satupun menghasilkan kehamilan yang bertahan.
Perjalanan ke angka 39 embrio itu dimulai pada 22 Agustus 2019, saat pertama kali tim medis mengambil oosit dari Fatu dan Najin. Enam tahun kemudian, hingga Agustus 2025, Fatu telah menjalani 21 kali prosedur pengambilan sel telur dan menghasilkan 38 embrio. Satu embrio tambahan lahir dari prosedur awal 2026. Najin, yang lahir di Safari Park Dvur Kralove, Republik Ceko, pada 11 Juli 1989, dihentikan dari program setelah tiga kali prosedur tidak menghasilkan satupun embrio.
Sejarah kepunahan badak putih utara tertulis dalam darah dan konflik. Subspesies ini dulunya merambah hutan Uganda barat laut, Chad selatan, Sudan Selatan, Republik Afrika Tengah timur, hingga Republik Demokratik Kongo timur laut. Perburuan liar demi cula dan perang bersenjata di wilayah persebaran mereka menghancurkan populasi dengan sistematis. Empat individu liar terakhir terlihat di Taman Nasional Garamba, Kongo, pada Agustus 2005; jejak mereka masih terdeteksi hingga 2007 sebelum lenyap total.
Upaya darurat dilakukan pada Desember 2009: empat badak — dua jantan (Suni dan Sudan) serta dua betina (Najin dan Fatu) — dipindahkan dari Republik Ceko ke Ol Pejeta dengan harapan lingkungan alami memicu kawin alami. Harapan itu sirna. Suni meninggal Oktober 2014. Sudan, ayah Najin dan kakek Fatu, meninggal 19 Maret 2018 karena usia tua. Pada 2014, diagnosis medis mengonfirmasi gangguan reproduksi serius pada kedua betina, mengunci masa depan subspesies ini di dalam tabung uji.
Saat ini, beban kelangsungan hidup badak putih utara tertumpul pada bahu Fatu sebagai satu-satunya donor sel telur, dan pada enam badak putih selatan yang menjalankan peran induk pengganti. Setiap kegagalan transfer embrio mempersempit jendela waktu, mengingat usia Fatu yang terus bertambah dan kualitas sel telur yang menurun seiring usia.
Analisis Redaksi
Angka 39 embrio tampak menggiurkan pada kertas, tetapi angka itu menyembunyikan realitas teknis yang rapuh: nol persen keberhasilan implantasi hingga April 2026. Kegagalan enam transfer berturut-turut ke induk pengganti badak putih selatan menyarankan adanya hambatan fundamental — bisa jadi pada protokol sinkronisasi siklus estrus, kualitas endometrium induk pengganti, atau kompatibilitas embrio-spesies lintas yang lebih kompleks dari perkiraan awal. Ilmuwan di Avantea dan tim lapangan di Ol Pejeta kini berhadapan dengan pertanyaan kritis: apakah protokol transfer perlu direvisi total, atau apakah badak putih selatan benar-benar kompatibel sebagai induk pengganti untuk embrio badak putih utara?
Secara logis, langkah selanjutnya harus melibatkan evaluasi menyeluruh terhadap enam kasus gagal transfer tersebut — analisis histopatologi uterus induk pengganti, pemantauan hormonal pasca-transfer, dan mungkin pengujian genetik pra-implantasi pada embrio-embrio tersisa. Paralelnya, konsorsium perlu mempercepat pengembangan teknologi gamet in vitro (IVG) dari sel-sel somatic Najin dan Fatu untuk memperluas keragaman genetik, mengingat semua 39 embrio saat ini hanya berasal dari satu induk (Fatu) dan sperma terbatas dari beberapa jantan yang sudah mati. Tanpa variasi genetik, bahkan jika kelahiran berhasil dicapai, populasi yang dihasilkan akan menghadapi hambatan genetik yang parah.


