Eko Yuli Irawan Siap Memburu Sejarah di Asian Games Keenam di Aichi-Nagoya

Selebriti
Rio DewantoRio Dewanto
Sumber: KapanLagi
Rio Dewanto
Rio Dewanto
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Eko Yuli Irawan Siap Memburu Sejarah di Asian Games Keenam di Aichi-Nagoya
BAGIKAN:

Eko Yuli Irawan resmi diproyeksikan memperkuat tim angkat besi Indonesia di Asian Games 2026 yang digelar di Aichi-Nagoya, Jepang, pada 19 September hingga 4 Oktober 2026. Lifter senior asal Metro, Lampung, itu disiapkan turun di kelas 65 kilogram putra, menandakan penampilan keenamnya di pesta olahraga terbesar Asia.

Perjalanan Eko di Asian Games dimulai dari Doha 2006 saat berusia 17 tahun. Jejak kaki lanjut ke Guangzhou 2010, Incheon 2014, Jakarta-Palembang 2018, Hangzhou 2022, dan kini Aichi-Nagoya 2026. Sepanjang lintasan karier, ia mengoleksi empat medali Olimpiade — dua perak dan dua perunggu — serta menjadi atlet Indonesia pertama yang meraih medali pada empat edisi Olimpiade berturut-turut.

Lahir 24 Juli 1989 dengan tinggi 154 sentimeter, Eko dikenal berkompetisi di kelas-kelas ringan: 56 kg, 61 kg, 62 kg, dan kini 65 kg. Ia menembus Pemusatan Latihan Nasional pada 2006, tahun yang sama meraih perak Kejuaraan Dunia Junior di Hangzhou. Setahun kemudian, emas Kejuaraan Dunia Junior di Praha mengunci posisinya sebagai prospek unggulan.

Debut Olimpiade di Beijing 2008 menghadirkan perunggu pertama. Prestasi terulang di London 2012, lalu naik menjadi perak di Rio 2016 dan Tokyo 2020. Di Asian Games, koleksi medalinya berisi perunggu Guangzhou 2010 dan Incheon 2014, serta emas Jakarta-Palembang 2018 dengan total angkatan 311 kilogram. Rekam jejak Kejuaraan Dunia pun panjang sejak 2007.

Pada usia 37 tahun, Eko masih dipercaya menjadi tulang punggung tim Merah Putih. Keikutsertaan di Aichi-Nagoya akan memperpanjang perjalanan dua dekade di panggung Asia, sekaligus menguji ketahanan fisik dan mental sang veteran di kelas berat baru.

Analisis Redaksi

Penaruhan Eko di kelas 65 kg menandakan strategi PB PBFI mengoptimalkan daya angkat relatif terhadap berat badan. Pergeseran dari 61/62 kg ke 65 kg membebaskan ia dari tekanan *weight cut* ekstrem yang selama ini menguras stamina di puncak kompetisi. Jika manajemen beban latihan dan nutrisi berjalan presisi, keuntungan fisikologi signifikan menunggu di pojok.

Faktor usia 37 tahun tak bisa diabaikan. Regenerasi otot, kesehatan sendi, dan motivasi psikologis jadi variabel kritis dua tahun ke depan. Pengalaman empat Olimpiade jadi aset tak ternilai, namun tubuh punya batas biologis. Kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi erat antara pelatih, dokter tim, dan atlet itu sendiri dalam merancang periodisasi yang menghormati usia tanpa mengorbankan eksplosivitas.

Meow! Tanya Nesi!
😸