Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

CBO: Perang AS vs Iran Kuras Stok Rudal Pencegat, Butuh 5 Tahun Isi Ulang

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

CBO: Perang AS vs Iran Kuras Stok Rudal Pencegat, Butuh 5 Tahun Isi Ulang
BAGIKAN:

Laporan Congressional Budget Office (CBO) mengungkap stok rudal pencegat Amerika Serikat sudah sangat menipis akibat perang AS vs Iran. CBO memperkirakan militer AS telah menggunakan setengah hingga dua pertiga persediaan rudal pencegat dalam operasi di Timur Tengah. Temuan itu menegaskan tekanan perang tidak hanya menghantam medan tempur, tetapi juga merapuhkan fondasi logistik pertahanan Washington.

Dilansir dari Reuters, rudal-rudal pencegat dimaksud mencakup sistem pertahanan Patriot, THAAD, SM-3, dan SM-6. Jenis-jenis ini menjadi lapis utama pertahanan udara AS di berbagai pangkalan dan kapal perang. Jika stoknya terkuras, kemampuan menangkal serangan balik udara otomatis melemah. Badan federal AS ini menyebut butuh waktu setidaknya lima tahun untuk mengisi kembali persediaan.

Produksi rudal pencegat akan menelan biaya sekitar $13,1 miliar (sekitar Rp231 triliun) dari total US$21,7 miliar (sekitar Rp384 triliun) untuk pengisian kembali amunisi. Biaya ini di luar US$7,3 miliar (sekitar Rp129 triliun) untuk mengganti rudal jelajah serangan darat. Angka-angka itu menunjukkan pemulihan persediaan bukan perkara cepat. Butuh rantai pasok, tenaga kerja, dan kapasitas industri yang tak bisa dibangun dalam sepekan.

CBO mewanti-wanti bahwa minimnya stok amunisi AS saat ini berisiko menghambat respons Pentagon jika terjadi konflik di masa depan. Pada Senin (14/9), Pentagon alias Departemen Perang telah mengakui bahwa AS sudah kekurangan amunisi akibat perang di Timur Tengah. “Pengeluaran amunisi untuk Operasi Enduring Freedom (OEF) telah mengakibatkan kekurangan persediaan strategis dan mengungkap hambatan basis industri untuk pemasokan kembali amunisi,” demikian laporan inspektur jenderal departemen kepada Kongres, seperti dikutip Middle East Eye (MEE).

Laporan tersebut juga mengungkap kerugian pada armada AS, termasuk pesawat tempur F-15 yang hancur, satu pesawat tempur F035 yang rusak, tujuh pesawat tanker KC-135 yang rusak, dan sekitar 30 pesawat nirawak MQ-9 Reaper yang hancur. Lebih lanjut, “ratusan bangunan dan struktur” di pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Irak, Oman, dan Yordania juga disebut rusak maupun hancur akibat serangan Iran.

Dampaknya bagi publik tidak kecil. Pembiayaan pengisian amunisi menyedot puluhan miliar dolar yang berasal dari anggaran negara, sementara kekosongan stok meninggalkan celah keamanan di kawasan. Ketika pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah rusak, risiko eskalasi dan ketidakstabilan regional meningkat. Pemerintah AS pun berhadapan dengan pilihan sulit: mempercepat produksi atau mengurangi komitmen operasi di luar negeri.

Analisis Redaksi

Pengakuan CBO dan Pentagon ini bukan sekadar laporan stok gudang. Ia memperlihatkan perang yang panjang menggerus keunggulan militer AS dari dalam, tepat ketika Washington masih harus menjaga jangkauan globalnya. Estimasi lima tahun untuk mengisi ulang menjadi sinyal bahwa basis industri pertahanan AS menghadapi hambatan struktural, bukan kekurangan sesaat.

Yang perlu diwaspadai, kekosongan rudal pencegat dapat mengubah perhitungan strategis negara-negara lain. Lawan bisa membaca celah itu sebagai peluang, sementara sekutu menuntut jaminan keamanan lebih besar. Dalam situasi begitu, kesalahan kalkulasi bisa memicu ketegangan baru, terutama di Timur Tengah dan kawasan lain yang menjadi titik persaingan.

Langkah selanjutnya secara logis adalah percepatan produksi, audit persediaan, dan penataan prioritas operasi. Namun semua itu tetap dibatasi waktu dan biaya. Tanpa perbaikan kapasitas industri, AS berisiko menghadapi konflik berikutnya dengan tabungan amunisi yang belum pulih sepenuhnya.

Meow! Tanya Nesi!
😸