BMKG: Gempa Susulan Flores Mereda, Diprediksi Berakhir 4-6 Bulan
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan aktivitas gempa susulan pasca gempa bumi M7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu kini berangsur mereda. Meski demikian, proses peluruhan itu diprediksi masih akan berlangsung hingga enam bulan ke depan, dengan frekuensi yang terus menurun.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengungkapkan estimasi tersebut dalam konferensi pers daring, Selasa (15/9). "Estimasi mungkin masih bisa berlangsung sekitar 4-6 bulan ke depan. Itu yang hanya tercatat oleh alat, bukan yang nanti bisa terdampak ke masyarakat, bahkan merusak bangunan," katanya. Artinya, aktivitas seismik yang tersisa mayoritas hanya akan terdeteksi instrumen, bukan dirasakan warga.
Gempa utama yang dipicu sesar Flores Back-Arc Thrust ini berpusat sekitar 30 km timur laut NTT pada kedalaman 15 km. Guncangannya terasa hingga tujuh kabupaten: Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Data BMKG hingga 30 hari pascagempa utama mencatat 15.722 gempa susulan dengan kekuatan M0,9 hingga M6,2. Dari jumlah itu, hanya 190 kejadian yang dirasakan masyarakat.
Plh. Deputi Bidang Geofisika Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, frekuensi gempa susulan harian dan mingguan telah menunjukkan pola penurunan signifikan. Catatan mingguan memperlihatkan peluruhan yang konsisten: minggu pertama 5.011 kejadian, minggu kedua 4.267, minggu ketiga 3.158, minggu keempat 2.421, dan minggu kelima menyisakan 864 kejadian. "Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis data gempa terkini, frekuensi gempa susulan harian maupun mingguan menunjukkan pola penurunan dan telah memasuki fase peluruhan," ujarnya.
BMKG merinci, sekitar 75 persen gempa susulan berkekuatan di bawah M3,0—kategori yang hanya terdeteksi jaringan seismograf dan tidak dirasakan langsung. Sementara gempa berkekuatan M3,0-M4,0 diperkirakan masih akan terjadi selama 6-7 minggu ke depan. Adapun gempa di atas M5,0 dalam sepekan terakhir sudah tidak tercatat lagi, meski BMKG mengingatkan kemungkinan itu tetap ada.
Wijayanto menegaskan bahwa estimasi tersebut hanyalah kecenderungan statistik peluruhan, bukan tanggal pasti berakhirnya aktivitas gempa maupun prediksi waktu gempa berikutnya. "Ini bukan berarti tidak akan ada lagi gempa di atas M5,0," katanya. BMKG tetap mengimbau masyarakat waspada karena karakteristik wilayah NTT memang memiliki tingkat kegempaan tinggi.
Analisis Redaksi
Penurunan frekuensi gempa susulan di Flores adalah kabar yang melegakan, tetapi publik tidak boleh lengah. Pola peluruhan yang dipaparkan BMKG menunjukkan siklus alam yang sedang menuju normal, namun status wilayah NTT sebagai daerah rawan gempa tidak berubah. Masyarakat, terutama di tujuh kabupaten terdampak, perlu membaca angka-angka ini sebagai pengingat untuk terus menyiapkan diri menghadapi potensi guncangan susulan yang sewaktu-waktu bisa muncul.
Yang perlu diwaspadai adalah kesalahpahaman atas istilah "berakhir". Estimasi 4-6 bulan bukanlah garis akhir yang pasti, melainkan proyeksi statistik. BMKG sendiri mengakui gempa M5,0 masih bisa terjadi. Karena itu, langkah logis berikutnya adalah penguatan infrastruktur tahan gempa dan edukasi mitigasi yang berkelanjutan, bukan sekadar menunggu status aman. Kewaspadaan warga dan kesiapsiagaan pemerintah daerah menjadi kunci utama menghadapi karakteristik alam NTT yang memang tidak pernah benar-benar diam.
BERITA TERKAIT (Teknologi)

Pemerintah Akselerasi Pengembangan Chip Merah Putih, Ekosistem Desain dan Riset Jadi Fokus Utama
