Bappenas: Target Indonesia Maju 2045 Butuh Pertumbuhan 7% agar Lolos Jebakan Pendapatan Menengah Sebelum 2040
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Eka Chandra Buana, menegaskan realisasi visi Indonesia Emas 2045 akan langsung terasa oleh rakyat melalui penebalan dompet dan pelongsor ketimpangan kekayaan yang selama ini meluah. Pernyataan itu disampaikannya kepada CNBC Indonesia di Menara Bappenas, Jakarta, Rabu (16/9/2026).
Eka merinci tiga perubahan fundamental yang akan muncul bila cita-cita negara maju tercapai. Pertama, pendapatan per kapita naik signifikan sehingga masyarakat lebih makmur. Kedua, jurang ketimpangan — baik antara wilayah barat dan timur maupun antara 10 persen teratas dengan golongan bawah — akan menghilang. "Nanti kondisi masyarakat di timur itu akan lebih sejahtera. Kemudian pendapatan hanya 10% orang teratas itu pendapatannya jauh jomplang gitu kan. Nah itu akan berkurang," ujarnya.
Ketiga, indeks modal manusia melonjak ditandai lompatan skor Program Penilaian Pelajar Internasional (PISA). Data OECD rilis 2025 menunjukkan Indonesia masih mengumpulkan 389 untuk sains, 364 untuk matematika, dan 365 untuk membaca — jauh di bawah rata-rata OECD 427. Posisi itu menempatkan Indonesia di urutan keenam Asia Tenggara, kalah dari Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Thailand, dan Malaysia. "Jadi kita harapkan PISA pasti akan lebih bagus disitu," tambah Eka.
Keambisian itu dikodifikasikan dalam Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional 2025-2045 dengan lima sasaran visi: pendapatan per kapita setara negara maju, kemiskinan turun dan ketimpangan mengecil, pengaruh internasional naik, daya saing SDM meningkat, serta intensitas emisi gas rumah kaca menurun menuju netral karbon. Di bawahnya tersusun 45 indikator utama yang disesuaikan karakteristik tiap daerah.
Kunci operasional menurut simulasi Bappenas ada pada laju pertumbuhan ekonomi. Rata-rata 6 persen per tahun baru akan mengeluarkan Indonesia dari golongan negara pendapatan menengah pada 2041. Jika berhasil mengejar 7 persen, lolosan "jebakan pendapatan menengah" (middle-income trap) tercapai sebelum 2040. Angka itu menantang mengingat pertumbuhan kuartalan I-2026 hanya menyentuh 5,03 persen year-on-year.
Analisis Redaksi
Narasi Eka Chandra Buana memproyeksikan gambaran ideal, namun kesenjangan antara target simulasi dan realita lapangan masih lebar. Capaian PISA 2025 yang baru dirilis OECD justru menjadi bukti nyata betapa jauhnya rumah modal manusia Indonesia dari standar negara maju — gap 38 poin di sains dan 63 poin di matematika bukan angka yang bisa ditutup dalam satu dekade tanpa reformasi struktural pendidikan yang radikal, bukan sekadar peningkatan anggaran.
Simulasi pertumbuhan 7 persen pun membutuhkan prasyarat keras: efisiensi birokrasi, kepastian hukum, dan peningkatan produktivitas total faktor (TFP) yang selama dua dekade stagnan di angka negatif. Tanpa penetapan kebijakan downstreaming yang konsisten, reformasi perpajakan yang progresif, serta penanganan serius stunting yang masih 21,5 persen (Data SSGI 2023), angka 7 persen berisiko jadi sekadar angka di kertas RPJP. Publik berhak menuntut *roadmap* teknis per tahunan, bukan hanya visi mulia di ujung tahun 2045.


