Pemimpin Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara Teken Pakta Kemerdekaan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Tiga pemimpin wilayah otonom Britania Raya berkumpul di Cardiff pada Senin (14/9) untuk meneken kesepakatan bersama yang menegaskan hak menentukan nasib sendiri dan memicu gelombang baru wacana kemerdekaan. Pertemuan krusial ini mempertemukan Pemimpin Skotlandia John Swinney, Pemimpin Wales Rhun ap Iowerth, dan Pemimpin Irlandia Utara Michelle O'Neill guna membahas langkah keluar dari bayang-bayang London.
Manuver politik ini digalang oleh tiga kekuatan partai politik berbeda di masing-masing wilayah, yakni Partai Nasional Skotlandia (SNP), Plaid Cymru di Wales, serta Sinn Fein di Irlandia Utara. Kendati memiliki visi akhir serupa untuk melepaskan diri dari cengkeraman Westminster, ketiganya masih menyimpan perbedaan pandangan mendasar terutama menyangkut metode referendum dan kerangka waktu pelaksanaan.
Sinn Fein, yang kini memegang kendali pemerintahan di Irlandia Utara, membawa agenda kuat untuk menyatukan kembali wilayah tersebut dengan Republik Irlandia yang telah merdeka sejak 1949. Dinamika politik identitas dan perbedaan pandangan di Irlandia Utara terus menguat, ditopang oleh data dari The Guardian yang menunjukkan adanya peningkatan dukungan publik terhadap opsi reunifikasi dan kemerdekaan.
Di Skotlandia, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah pusat mencapai eskalasinya usai Brexit pada 2016 ketika mayoritas warga Edinburgh memilih bertahan di Uni Eropa namun diabaikan London. Meski telah memiliki institusi pemerintahan mandiri sejak devolusi 1999 yang mengatur sektor kesehatan dan pendidikan, pemerintah Skotlandia merasa dibatasi karena urusan pertahanan, luar negeri, dan makroekonomi tetap dikendalikan penuh oleh Britania Raya.
Sementara itu, konstelasi politik di Wales memperlihatkan peta jalan yang sedikit berbeda di mana data The Conversation mencatat mayoritas warga secara umum belum menghendaki perpisahan total. Meskipun demikian, kelompok nasionalis Plaid Cymru menilai kebijakan London kerap mendiskriminasi kepentingan lokal, sehingga tuntutan yang mengemuka saat ini lebih difokuskan pada desakan otonomi luas dan perhatian kebijakan yang lebih adil.
Analisis Redaksi
Penandatanganan pakta bersama di Cardiff menandai fase baru yang lebih terkoordinasi dalam upaya disintegrasi internal Britania Raya. Selama ini, gerakan kemerdekaan di Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara berjalan secara parsial dan sendiri-sendiri tanpa ada aliansi strategis lintas wilayah. Dengan menyatukan suara di bawah payung hak menentukan nasib sendiri, tekanan politik terhadap Westminster dipastikan akan berlipat ganda dalam konstelasi domestik maupun internasional.
Namun, mewujudkan kemerdekaan ini bukan perkara mudah karena benturan konstitusional dan fragmentasi dukungan publik masih menjadi batu sandungan utama. Pemerintah Britania Raya di bawah kendali Westminster dipastikan akan memperketat interpretasi hukum terkait legalitas referendum susulan pasca-kemenangan kubu unionis di Skotlandia pada 2014 silam. Langkah logis berikutnya yang perlu diwaspadai adalah bagaimana respons hukum dari parlemen Inggris dan eskalasi ketegangan fiskal antara pemerintah pusat dan wilayah-wilayah otonom tersebut.


