Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

11 Ilmuwan Lima Negara Raih Ig Nobel Kimia Usai Temukan Energi Susu Kecoak Tiga Kali Lipat Sapi

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

11 Ilmuwan Lima Negara Raih Ig Nobel Kimia Usai Temukan Energi Susu Kecoak Tiga Kali Lipat Sapi
BAGIKAN:

Sebelas ilmuwan dari Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Kanada, dan India meraih penghargaan Ig Nobel bidang Kimia ke-36 usai membuktikan protein susu kecoak Diploptera punctata mengandung energi tiga kali lipat susu sapi, dalam upacara yang digelar di Swiss pada 3 September lalu.

Penghargaan yang diselenggarakan Improbable Research itu memang sengaja menghargai penelitian nyata yang membuat orang tertawa sekaligus berpikir, namun para pemenang — Sanchari Banerjee, Nathan Coussens, François-Xavier Gallat, Nitish Sathyanarayanan, Jandhyam Srikanth, Koichiro Yagi, James Gray, Stephen Tobe, Barbara Stay, Leonard Chavas, dan Subramanian Ramaswamy — tetap bangga karena kerja mereka menarik perhatian global.

Berbeda dengan mamalia yang memproduksi susu lewat kelenjar, kecoak kumbang Pasifik atau Diploptera punctata menyimpan cairan kaya nutrisi di dalam kantung induknya untuk dikonsumsi embrio; cairan itu kemudian terkonsentrasi membentuk kristal-kristal protein, karbohidrat, dan lipid di usus tengah embrio.

Tim peneliti berhasil mengisolasi kristal protein ukuran besar tersebut dan menemukan kemampuannya menyimpan nutrisi dalam jumlah tinggi, fungsi yang esensial untuk mendukung pertumbuhan embrio kecoak dengan efisiensi energi yang luar biasa.

Hasil perbandingan laboratorium menegaskan satu kristal susu kecoak menyimpan lebih dari tiga kali lipat energi dibandingkan volume setara susu sapi, temuan yang dikutip The Scientist dan mengubah pandangan soal potensi biokimia serangga vivipar.

Analisis Redaksi

Penghargaan Ig Nobel kali ini mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan sering bermula dari rasa ingin tahu yang konyol di mata awam; kristal susu kecoak bukan sekadar anekdot, melainkan bukti evolusi menciptakan sistem penyimpanan nutrisi padat yang efisien, sebuah inspirasi desain untuk teknologi pangan masa depan jika skala produksi dan keamanannya terpecahkan.

Yang perlu diwaspadai bukan validitas penelitian — metode ilmiahnya ketat — melainkan lompatan logika publik yang melonjak ke narasi "susu kecoak solusi kelaparan dunia" tanpa mempertimbangkan hambatan bioteknologi, regulasi, hingga akseptabilitas budaya; langkah logis selanjutnya para ilmuwan kemungkinan besar adalah rekayasa genetik mikroba untuk mengekspresikan protein kristal tersebut, jauh lebih realistis daripada membudidayakan kecoak massal.

Meow! Tanya Nesi!
😸