Saudi Luncurkan 58 Serangan Balasan ke Houthi, Konflik Yaman Kembali Memanas

Pada Minggu (13/9), kelompok Houthi Yaman mengklaim Arab Saudi melancarkan 58 serangan udara dalam 24 jam terakhir, menyusul serangan Houthi terhadap pangkalan militer Saudi. Eskalasi ini menandai babak baru dalam konflik Yaman yang telah berlangsung hampir satu dekade, dengan kedua belah pihak saling melancarkan serangan rudal dan drone.
Serangan Balasan dan Deklarasi Blokade
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan bahwa serangan Saudi tersebut menyasar benteng Houthi di Saada dan distrik perbatasan Monabbih. Sebelumnya, Houthi mendeklarasikan blokade terhadap Riyadh dan menyerang kapal-kapal di Laut Merah, yang mereka klaim sebagai balasan atas serangan militer Yaman yang didukung Saudi terhadap bandara di ibu kota Sanaa pada 13 Juli lalu.
Pekan ini menjadi saksi serangan rudal dan drone terberat Houthi dalam beberapa tahun terakhir. Serangan tersebut menyebabkan kebakaran di situs minyak Saudi dan melukai sedikitnya 73 orang. Houthi juga berhasil merebut pantai Laut Merah Yaman, yang berdekatan dengan Selat Bab Al Mandab, jalur air vital bagi ekspor minyak Saudi, terutama karena Selat Hormuz masih ditutup akibat ketegangan AS-Iran.
Konteks Konflik yang Berkepanjangan
Saudi telah membantu pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam memerangi Houthi sejak 2015. Konflik ini bermula ketika Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014 dan menggulingkan pemerintah. Pada 2022, gencatan senjata yang dimediasi PBB berhasil dicapai, namun perang kembali berkobar pada Juli setelah insiden di bandara Sanaa.
Konteks ini menunjukkan bahwa eskalasi di Yaman tidak hanya berdampak pada kemanusiaan, tetapi juga pada keamanan energi global, mengingat posisi strategis Selat Bab Al Mandab yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Serangan Houthi terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut dapat mengganggu pasokan minyak dunia.
Dampak Kemanusiaan yang Mengkhawatirkan
Menurut badan PBB, pertempuran beberapa pekan terakhir telah menyebabkan hampir 86 ribu orang mengungsi. Lebih dari 2.000 orang dilaporkan telah mencapai Djibouti, menandakan krisis pengungsi yang semakin parah. Masyarakat internasional terus mendesak kedua belah pihak untuk kembali ke meja perundingan, namun eskalasi terbaru menunjukkan bahwa perdamaian masih jauh dari harapan.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
