Kapal Virgo 8 Tenggelam: Penumpang Selamat Ungkap Tak Ada Alarm, Banyak Korban Terjebak di Kamar

Sebanyak 153 penumpang Kapal Virgo Transport 8 berhasil dievakuasi setelah kapal rute Surabaya-Banjarmasin itu miring dan tenggelam di perairan pada Minggu (13/9) dini hari. Namun, kesaksian seorang penumpang selamat mengungkapkan bahwa tidak ada alarm peringatan saat kapal mulai oleng, sehingga banyak penumpang, terutama perempuan dan anak-anak yang berada di kamar kelas ekonomi, diduga terjebak dan menjadi korban.
Ahmad Saudi, salah satu penumpang selamat yang dievakuasi menggunakan MV Haida ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, menceritakan detik-detik mencekam saat kapal yang ditumpanginya tiba-tiba miring. Saat kejadian sekitar pukul 01.30 WIB, Ahmad sedang tertidur di kursi. Ia terbangun oleh kepanikan penumpang lain yang berlarian.
“Kejadiannya sangat singkat. Waktu saya tidur di kursi, orang berlarian. Saya tanya kenapa? Kapal miring. Terus saya berdiri, ternyata miring sungguhan,” ujar Ahmad di Pelabuhan Trisakti, Minggu (13/9).
Dalam situasi chaos tersebut, Ahmad berusaha bertahan dengan berpegangan pada jendela, lalu berpindah ke bagian atas kapal saat kemiringan semakin parah. Ia mengaku menunggu hingga kapal benar-benar tenggelam sebelum akhirnya melompat ke perahu karet yang dilepaskan ke laut.
“Langsung saya lari ke bawah, terus saya ke jendela, saya pegangan sampai kapal itu miring. Abis miring, saya naik ke atas, nunggu sampai kapal tenggelam. Baru ada kapal karet itu keluar, baru saya loncat,” jelasnya.
Ahmad menyoroti tidak adanya tanda-tanda bahaya atau alarm yang berbunyi sebelum kapal oleng. Ia menduga banyak penumpang di kamar-kamar kelas ekonomi tidak sempat menyelamatkan diri karena proses kemiringan kapal berlangsung sangat cepat.
“Tapi yang lain, ibu-ibu yang tinggal di kamar ekonomi itu mungkin nggak selamat karena terlalu cepat kapal ini kemiringannya. Sedangkan alarm pemberitahuan aja nggak ada. Nggak ada tanda-tanda. Yang keluar ini kan supir-supir aja, orang laki-laki. Yang di kamar-kamar belum bisa keluar,” katanya.
Setelah berhasil berada di perahu karet, Ahmad mengaku situasi belum aman. Gelombang tinggi dan angin kencang membuat perahu karet terombang-ambing selama tiga jam sebelum akhirnya dievakuasi.
“Cuacanya angin, (gelombang) terasa. Wong saya di kapal karet itu aja 3 jam dihantam ombak. Wis pokoknya gelombangnya besar, tinggi. Untung saya sudah loncat di karet itu,” tuturnya.
Data terakhir per pukul 17.00 Wita, Minggu, mencatat 153 penumpang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat maupun meninggal dunia. Kapal penyelamat MV Haida yang bersandar pukul 18.00 Wita mengangkut 69 penumpang selamat. Selain itu, kapal TB TCP, TB Mauhan, dan KM Cahaya Bahari juga dikerahkan dalam operasi penyelamatan. Per pukul 14.30 Wita, terkonfirmasi enam korban meninggal dunia, lima di antaranya diangkut TB TCP dan satu korban di TB Mauhan.
Insiden ini kembali menyoroti lemahnya prosedur keselamatan pelayaran di Indonesia. Tidak adanya alarm peringatan dan lambatnya respons evakuasi menjadi pertanyaan besar yang harus dijawab oleh otoritas terkait. Publik menuntut investigasi menyeluruh terhadap operator kapal dan pengawas pelayaran agar tragedi serupa tidak terulang.
BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Fenomena Gerah di Indonesia: BMKG Jelaskan Penyebab Udara Lembap Meski Hujan Belum Rutin

Solusi Cerdas Limbah Dapur: Transformasi Sampah Organik Menjadi Eco Enzyme Multifungsi

Warisan Darah Thoroughbred: Transformasi Kuda Pacu Indonesia Melalui Program Persilangan Strategis Sejak 1975
