Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Lepas Pantai Pelabuhanratu, Pakar Soroti Aktivitas Zona Megathrust Jawa

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa Magnitudo 5,5 Guncang Lepas Pantai Pelabuhanratu, Pakar Soroti Aktivitas Zona Megathrust Jawa
BAGIKAN:

JAKARTA — Peristiwa gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,5 mengguncang wilayah lepas pantai selatan Jawa Barat pada Senin, 14 September 2026 tepat pukul 12.27.38 WIB. Hasil analisis seismisitas menunjukkan episenter gempa bumi terletak di laut pada jarak 187 kilometer arah Barat Daya (SSW) dari Pelabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Guncangan dilaporkan dirasakan hingga ke beberapa wilayah pesisir Sukabumi, Cianjur Selatan, hingga sebagian kawasan Banten dengan skala intensitas MMI II-III (getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu). Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai dampak kerusakan bangunan maupun korban jiwa akibat guncangan tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat di sepanjang wilayah pesisir selatan untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga diminta untuk memeriksa kondisi fisik bangunan tempat tinggal sebelum kembali beraktivitas di dalam ruangan.

Analisis Pakar Geofisika

Secara geodinamika, kawasan perairan di sebelah selatan Pelabuhanratu merupakan jalur konvergensi lempeng aktif, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan kecepatan pergerakan rata-rata 6 hingga 7 sentimeter per tahun. Gempa bumi bermagnitudo 5,5 ini berpusat di area batas antar-lempeng yang termasuk dalam zona Megathrust Selat Sunda-Jawa Barat. Kejadian gempa dalam skala menengah seperti ini merupakan manifestasi ilmiah dari pelepasan akumulasi energi (stress release) secara berkala pada batuan kerak bumi.

Dari sisi potensi bahaya sekunder, gempa dengan magnitudo 5,5 secara teoritis maupun teknis belum cukup kuat untuk memicu deformasi dasar laut secara masif yang dapat membangkitkan tsunami. Ambang batas umum pemicu tsunami merusak memerlukan magnitudo di atas 7,0 dengan mekanisme patahan naik (thrust fault) dan kedalaman hiposenter yang dangkal. Meski demikian, potensi munculnya gempa bumi susulan (aftershocks) dengan magnitudo yang relatif lebih kecil masih tetap ada sebagai bagian dari proses reequilibrasi atau penyesuaian kembali tegangan batuan. Pemantauan ketat melalui jaringan seismograf terus dilakukan guna memetakan evolusi respons struktur patahan di wilayah tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ