Gempa M5,1 Guncang Ruteng, NTT: Warga Diminta Tenang dan Waspada Susulan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Gempa bumi dengan magnitudo 5,1 mengguncang wilayah Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin (14/9/2026) pukul 01.40 WIB. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa terletak di laut, tepatnya 48 kilometer arah utara-barat laut (NNW) dari Ruteng, dengan kedalaman dangkal.
Getaran gempa dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah Pulau Flores, terutama di Ruteng dan sekitarnya. Warga yang sedang tidur dilaporkan terbangun dan berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan. Namun, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Indonesia memang dikenal sebagai wilayah rawan gempa karena terletak di pertemuan lempeng tektonik aktif. Khususnya NTT, berada di zona tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Eurasia, serta dipengaruhi oleh sesar-sesar aktif di darat dan laut. Kejadian gempa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana seismik.
Analisis Pakar Geofisika
Menurut analisis pakar geofisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), gempa ini diduga dipicu oleh aktivitas Sesar Flores, yaitu sesar naik (thrust fault) yang membentang di sepanjang busur belakang (back-arc) di utara Pulau Flores. Sesar ini merupakan salah satu sumber gempa paling aktif di NTT. Mekanisme gempa yang terjadi adalah sesar naik dengan arah relatif barat-timur, sesuai dengan karakteristik Sesar Flores yang membentuk jalur kegempaan di wilayah tersebut.
Wilayah ini memiliki sejarah kegempaan yang signifikan. Pada tahun 1992, gempa berkekuatan M7,8 di lepas pantai Flores memicu tsunami dahsyat yang menewaskan lebih dari 2.000 orang. Gempa tersebut juga berasal dari Sesar Flores. Oleh karena itu, gempa dengan magnitudo 5,1 ini merupakan pengingat akan potensi bahaya seismik di kawasan tersebut. Meskipun magnitudo 5,1 relatif moderat, karena berpusat di laut dangkal, getarannya dapat dirasakan cukup kuat di daratan.
Potensi tsunami untuk gempa dengan magnitudo di bawah 6,5 umumnya rendah, kecuali jika terjadi deformasi dasar laut yang signifikan. Dalam kasus ini, belum ada indikasi yang mengarah pada potensi tsunami. Meski demikian, masyarakat pesisir tetap diimbau untuk menjauhi pantai jika merasakan getaran kuat atau melihat surutnya air laut secara tiba-tiba. Gempa susulan (aftershock) sangat mungkin terjadi, meskipun dengan magnitudo yang lebih kecil. Masyarakat diharapkan tidak panik, tetapi tetap waspada terhadap bangunan yang retak atau tidak stabil. Pemerintah daerah dan BPBD setempat perlu melakukan sosialisasi dan pemantauan untuk memastikan keselamatan warga.