Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M4,6 Guncang Ruteng, Warga Diminta Waspada Aktivitas Sesar Flores

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M4,6 Guncang Ruteng, Warga Diminta Waspada Aktivitas Sesar Flores
BAGIKAN:

Jakarta – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Ruteng, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 14 September 2026, pukul 03.53.47 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan episenter gempa terletak pada koordinat 8.20 LS dan 120.40 BT, tepatnya 55 kilometer arah utara-barat laut (NNW) dari Ruteng, dengan kedalaman sekitar 10 kilometer. Guncangan dirasakan dalam skala intensitas III-IV MMI di beberapa kecamatan di Kabupaten Manggarai, seperti Langke Rembong dan Wae Rii, yang ditandai dengan guncangan nyata di dalam rumah dan benda-benda yang bergoyang.

Hingga pukul 05.00 WIB, BMKG mencatat tidak ada aktivitas gempa susulan yang signifikan. Meskipun demikian, pihak BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami karena magnitudonya relatif kecil dan mekanisme sumbernya berupa sesar naik (thrust fault) yang umumnya tidak memicu deformasi dasar laut secara besar. Namun, masyarakat di pesisir utara Flores diingatkan untuk menjauhi pantai jika terjadi gempa kuat susulan.

Analisis Pakar Geofisika

Dari perspektif tektonik, gempa Ruteng ini merupakan manifestasi dari aktivitas Sesar Flores (Flores Back-arc Thrust), yaitu zona penunjaman dangkal yang terbentuk akibat tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia di selatan, yang kemudian memicu kompresi di bagian utara busur kepulauan Nusa Tenggara. Sesar ini membentang dari Laut Flores hingga ke daratan Pulau Flores, dan menjadi sumber gempa signifikan dalam sejarah, seperti gempa besar M7,8 pada 12 Desember 1992 yang memicu tsunami setinggi 25 meter di Maumere dan menyebabkan lebih dari 2.000 korban jiwa. Meskipun gempa kali ini berkekuatan kecil, lokasinya yang berada di laut dangkal mengindikasikan bahwa akumulasi energi di segmen sesar tersebut masih aktif.

Sejarah kegempaan di wilayah ini menunjukkan siklus pelepasan energi yang tidak teratur; gempa-gempa kecil seperti ini justru dapat menjadi penanda bahwa tekanan tektonik sedang terakumulasi. Analisis mekanisme fokus (focal mechanism) sementara menunjukkan bidang sesar dengan strike barat-timur dan dip ke selatan, konsisten dengan pola sesar naik di zona back-arc. Potensi gempa susulan diperkirakan rendah hingga sedang, dengan magnitudo yang lebih kecil, namun masyarakat tetap harus waspada terhadap bangunan yang retak akibat guncangan. Mengenai tsunami, karena magnitudo 4,6 dan kedalaman dangkal, tidak ada ancaman tsunami, tetapi jika terjadi gempa dengan magnitudo di atas 6,5 di segmen yang sama, maka potensi tsunami lokal perlu dipertimbangkan serius. Oleh karena itu, pemantauan berkelanjutan dan mitigasi struktural di pesisir utara Flores menjadi prioritas untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.

Meow! Tanya Nesi!
😸