Ancaman El Nino: 50 Ribu Hektare Lahan Pertanian Terdampak, Stok Pangan Aman

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: CNN Ekonomi
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ancaman El Nino: 50 Ribu Hektare Lahan Pertanian Terdampak, Stok Pangan Aman
BAGIKAN:

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi bahwa sekitar 50 ribu hektare lahan pertanian di wilayah dataran tinggi Indonesia terdampak fenomena kekeringan El Nino pada Senin (14/9). Kendati demikian, pemerintah memastikan bahwa produksi nasional tetap berada dalam batas aman dan tidak mengganggu jadwal musim tanam maupun ketersediaan beras secara keseluruhan.

Strategi Mitigasi dan Pengamanan Stok Pangan

Guna menjaga produktivitas lahan di tengah ancaman cuaca ekstrim, Kementerian Pertanian mengandalkan sejumlah langkah taktis. Pemerintah memprioritaskan penanaman di wilayah irigasi yang telah diperbaiki seluas 3 hingga 4 juta hektare, serta mendistribusikan bantuan benih tahan kekeringan dan alat mesin pertanian gratis bagi petani terdampak.

Selain itu, penerapan metode tanam modern Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) diklaim mampu menghasilkan rata-rata 10 ton per hektare dalam uji coba. Dari sisi suplai, pemerintah mencatat ketersediaan standing crop mencapai 3,8 juta ton, yang jika dikalkulasikan dengan cadangan di sektor horeka dan Perum Bulog, total stok nasional menyentuh angka 26 juta ton. Dengan tingkat konsumsi domestik sekitar 2,6 juta ton per bulan, pasokan ini dinilai mampu mencukupi kebutuhan hingga 10 bulan mendatang sebelum memasuki masa panen raya pada Maret.

Langkah Antisipasi Jangka Panjang

Sebelumnya, pemerintah telah mengantisipasi potensi super El Nino melalui penyebaran sekitar 100 ribu pompa air di berbagai daerah, perbaikan infrastruktur irigasi seluas 900 ribu hektare, optimalisasi lahan rawa seluas 800 ribu hektare, serta pembukaan sawah baru seluas lebih dari 200 ribu hektare. Langkah ketahanan pangan ini menjadi pilar utama untuk meredam risiko gagal panen yang sebelumnya telah diwarning oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Meow! Tanya Nesi!
😸