Raja Belanda Willem III dan Mercusuar Cikoneng yang Bertahan Usai Letusan Krakatau 1883
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Raja Willem III memerintah Hindia Belanda ketika letusan Krakatau mengguncang wilayah pada 26‑27 Agustus 1883, menimbulkan tsunami dahsyat, menewaskan lebih dari 36.000 orang, dan terdengar hingga 3.000 mil jauhnya.
Latar Belakang Letusan
Letusan gunung berapi di Selat Sunda itu menghasilkan gelombang laut yang menghantam pesisir, mengubah tekanan udara dan permukaan laut secara global. Dampaknya dirasakan di seluruh dunia, menjadikannya salah satu bencana alam paling mematikan dalam sejarah.
Raja Willem III dan Kebijakan Kolonial
Willem III memimpin Belanda dari 1849 hingga wafatnya pada 1890. Sebagai raja yang konservatif, ia sempat berupaya menjual kedaulatan Indonesia kepada Prancis pada 1867, namun kemudian menolak tuntutan Prusia yang menginginkan kemerdekaan wilayah tersebut. Pada masa pemerintahannya, sebagian Limburg digabungkan ke Belanda, dan pengaruhnya di Parlemen menurun setelah krisis Luksemburg.
Pemulihan Pasca‑Bencana
Dua tahun setelah tragedi, pada 1885, Willem III memerintahkan pembangunan kembali mercusuar yang hancur di Anyer. Bangunan baru berdiri kokoh hingga kini sebagai Mercusuar Cikoneng, menara putih setinggi 75,5 meter yang menampilkan nama sang raja di pintu masuknya.
Mercusuar tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk arah maritim, tetapi juga menjadi saksi sejarah tentang upaya rekonstruksi kolonial Belanda setelah bencana alam terbesar pada abad ke‑19.


