Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Krisis Selat Bab Al Mandab: Ancaman Baru Rantai Pasok Energi Global

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Krisis Selat Bab Al Mandab: Ancaman Baru Rantai Pasok Energi Global
BAGIKAN:

Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang stabilitas ekonomi global setelah jalur perdagangan vital Selat Bab Al Mandab yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden mengalami disrupsi parah akibat ancaman kelompok Houthi sejak akhir 2023. Selat sempit di antara Yaman dan Djibouti ini memegang peranan krusial sebagai jalur minyak dunia alternatif di tengah kerentanan Selat Hormuz, namun kini sebagian besar perusahaan pelayaran internasional terpaksa menghentikan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

Dampak Terhadap Rantai Pasok dan Lonjakan Biaya Logistik

Gangguan keamanan yang terus berlanjut memaksa kapal-kapal tanker dan kargo mengubah rute pelayaran secara drastis dengan memutar Benua Afrika melalui Tanjung Harapan. Keputusan pengalihan rute ini memperpanjang waktu perjalanan hingga satu bulan penuh, yang secara otomatis memicu lonjakan biaya bahan bakar, asuransi maritim, dan tarif pengiriman komoditas global.

Analis senior pasar energi mencatat bahwa volume pengiriman minyak mentah Arab Saudi yang melalui pelabuhan Yanbu dan melintasi Bab Al Mandab merosot tajam dari kapasitas puncak sekitar 3 juta barel per hari menjadi di bawah 400 ribu barel per hari. Situasi ini memperketat pasokan bagi kilang-kilang global dan menjadi katalis utama kenaikan harga minyak mentah dunia di tengah kekhawatiran pasar atas keberlanjutan pasokan energi.

Respons Industri dan Ketidakpastian Pasar

Data dari berbagai lembaga riset pengiriman mencatat penurunan trafik pelayaran yang signifikan di koridor Laut Merah, dengan estimasi penurunan mencapai hingga 70 persen dibandingkan periode sebelum konflik. Tanpa adanya resolusi diplomatik atau keamanan yang memadai di kawasan tersebut, para pelaku industri energi memperkirakan volatilitas harga komoditas dan biaya logistik akan terus menjadi tantangan utama bagi perekonomian global dalam jangka pendek hingga menengah.

Meow! Tanya Nesi!
😸