Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

6 Film Indonesia tentang Perjuangan Mahasiswa yang Menginspirasi

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: KapanLagi
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

6 Film Indonesia tentang Perjuangan Mahasiswa yang Menginspirasi
BAGIKAN:

Enam film Indonesia mengangkat film mahasiswa dari era 1960-an hingga reformasi 1998, menampilkan kisah idealisme, risiko, dan dampaknya bagi generasi kini. Film‑film ini dirilis antara 2005 dan 2026, diproduksi di berbagai kota Indonesia, dan bertujuan mengabadikan semangat kritis generasi muda dalam melawan ketidakadilan.

Gie (2005)

Diadaptasi dari buku harian Soe Hok Gie, film ini dibintangi Nicholas Saputra sebagai aktivis mahasiswa UI yang menolak diam di tengah politik Soekarno. Gie menyalurkan kritik tajam lewat tulisan, menolak kepentingan golongan, dan memperjuangkan keadilan sosial. Film ini meraih tiga penghargaan di Festival Film Indonesia 2005, termasuk Film Terbaik.

Laut Bercerita (2026)

Diangkat dari novel Leila S. Chudori, film ini mengisahkan keluarga Arya Wibisono yang harus menghadapi hilangnya putra sulung mereka, Biru Laut, bersama rekan‑rekannya pada akhir era Orde Baru. Reza Rahadian kembali memerankan Biru Laut, didukung oleh Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, Yunita Siregar, dan Eva Celia. Syuting di Jawa Tengah dan Jawa Barat menambah keotentikan suasana 1998.

Student Movement in Indonesia (2026)

Film dokumenter ini menampilkan rekaman dan kesaksian langsung dari gerakan mahasiswa yang memicu perubahan politik pada Mei 1998. Tanpa pemeran fiksi, karya ini menjadi catatan visual penting tentang aksi unjuk rasa, kekerasan massal, dan keberanian mahasiswa menuntut demokrasi.

Berbagi Ide (2024)

Kisah sekelompok aktivis tahun 1966 yang setelah revolusi harus memilih antara tetap setia pada cita‑cita atau mengejar kekayaan. Ariessa Suryo, Cok Simbara, dan Johan Mardjono berperan sebagai Rima, Danu, dan Bima, sementara Didi Petet menjadi Bustaman, tokoh yang beralih ke kepentingan pribadi. Disutradarai Nico Pelamonia, film ini menyoroti dilema moral pasca‑pergerakan.

Aum! (2021)

Berbentuk mockumentary, film ini mengikuti aktivis muda yang berjuang untuk kebebasan bersuara di bawah rezim otoriter. Jefri Nichol berperan Satriya, target penangkapan pemerintah, sementara Aksara Dena menjadi Adam, militer yang melindunginya. Chicco Jerikho muncul sebagai sutradara yang diam‑diam merekam perjuangan tersebut.

Di Balik 98 (2015)

Chelsea Islan memerankan Diana, mahasiswi yang bergabung dengan gerakan reformasi meski ditentang keluarga militer. Boy William berperan sebagai Daniel, kekasihnya yang juga aktivis keturunan Tionghoa. Film ini menampilkan ketegangan Trisakti, runtuhnya Orde Baru, dan solidaritas di tengah krisis.

Komentar ahli: Film‑film ini tidak hanya menghibur, melainkan berfungsi sebagai arsip visual yang mengingatkan publik akan peran krusial mahasiswa dalam memicu perubahan politik Indonesia.

Meow! Tanya Nesi!
😸