Pelampung Rusak Ditemukan, SAR Perluas Pencarian 8 Hilang di Selat Sunda hingga Lampung
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Pandeglang, BeritaHariIni.net — Tim SAR gabungan memperluas operasi pencarian delapan orang yang hilang di Selat Sunda hingga perairan Lampung pada Jumat (11/9/2026), setelah menemukan benda yang diduga pelampung atau jaket keselamatan. Rombongan terdiri dari lima jurnalis, dua awak, dan satu pemandu itu berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Kabupaten Pandeglang, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB menuju kawasan Gunung Anak Krakatau. Kontak terakhir tercatat sekitar pukul 14.42 WIB, sebelum komunikasi putus sekitar pukul 15.04 WIB.
Pencarian dilakukan melalui jalur laut dan udara. Area di sisi selatan Gunung Anak Krakatau diperluas hingga sekitar 20 nautical mile dari pusat aktivitas gunungapi, lalu digeser ke utara dengan mempertimbangkan arus, gelombang, dan arah angin, termasuk hingga perairan Lampung. Dukungan udara memakai helikopter dan drone. Hingga Kamis (10/9), tim belum menemukan tanda keberadaan delapan orang tersebut di daratan pulau-pulau sekitar, termasuk Pulau Sertung.
Koordinasi Lintas Instansi dan Temuan Pelampung
Operasi melibatkan Kantor SAR Banten dan Kantor SAR Lampung di bawah koordinasi Kepala Kantor SAR Banten selaku Search and Rescue Mission Coordinator. Kabasarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menyatakan perhatian khusus diberikan untuk menemukan dan mengevakuasi korban dalam kondisi selamat. Tim juga menemukan benda yang diduga pelampung atau jaket keselamatan. Benda itu masih diidentifikasi dan belum dapat dipastikan berkaitan dengan rombongan yang dicari.
Pencarian langsung di Pulau Sertung tetap mempertimbangkan keselamatan karena berada dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Unsur yang terlibat mencakup Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, BPBD, TNI/TNI AL, Polri/Polairud, unsur SAR Lampung, pemerintah daerah, nelayan, masyarakat, Potensi SAR, dan pihak terkait lain. Hingga Jumat (11/9), keberadaan maupun kondisi delapan orang tersebut masih belum dapat dipastikan dan pencarian terus dioptimalkan.
Insight Bisnis: Risiko Geologis dan Biaya Ketidakpastian
Dari kacamata ekonomi makro, insiden ini bukan sekadar peristiwa kemanusiaan. Selat Sunda adalah jalur strategis yang menghubungkan Jawa dan Sumatra, dengan nilai logistik, pariwisata, dan investasi yang besar. Ketidakpastian operasi SAR dapat memengaruhi persepsi risiko pelaku usaha terhadap rute pelayaran, asuransi, dan aktivitas wisata bahari di sekitar Banten dan Lampung. Biaya pencarian yang melibatkan lintas provinsi juga menunjukkan bahwa keselamatan maritim adalah bagian dari infrastruktur ekonomi yang tidak bisa diabaikan.
Pemerintah dan operator wisata perlu memperkuat protokol keselamatan, sistem komunikasi darurat, serta mitigasi risiko vulkanik. Tanpa itu, potensi kerugian ekonomi tidak hanya muncul saat insiden terjadi, tetapi juga dalam bentuk premi asuransi yang lebih tinggi dan menurunnya minat kunjungan. Masyarakat pun berhak mendapat informasi yang transparan dan cepat agar tidak terjadi kepanikan yang memperburuk dampak sosial-ekonomi.
FAQ Terkait Berita Ini
Q: Di mana lokasi pencarian diperluas?
A: Pencarian diperluas dari sisi selatan Gunung Anak Krakatau hingga sekitar 20 nautical mile, lalu ke arah utara dan perairan Lampung dengan mempertimbangkan arus, gelombang, dan angin.
Q: Apa temuan terbaru tim SAR?
A: Tim menemukan benda yang diduga pelampung atau jaket keselamatan, namun masih diidentifikasi dan belum dipastikan terkait rombongan yang hilang.
Q: Siapa saja yang terlibat dalam operasi SAR?
A: Kantor SAR Banten dan Lampung, BPBD, TNI/TNI AL, Polri/Polairud, pemerintah daerah, nelayan, masyarakat, Potensi SAR, dan unsur terkait lainnya.


