Menlu Iran Telepon Saudi Saat Houthi Menggempur: Sinyal Reda atau Diplomasi Semu?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

TEHERAN, RIYADH — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan pada Kamis (10/9), di tengah meningkatnya ketegangan kawasan akibat serangan milisi Houthi terhadap sasaran di Arab Saudi. Dalam pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, kedua pihak menekankan perlunya melanjutkan kerja sama dan upaya diplomatik untuk mencegah meluasnya ketegangan serta memulihkan stabilitas.
Percakapan itu menjadi penting karena berlangsung saat milisi Houthi di Yaman terus melancarkan serangan ke Saudi. Meski laporan resmi soal telepon tersebut tidak menyebut Yaman secara spesifik, Iran dalam pernyataan terpisah mengenai pertempuran di sana menegaskan bahwa penyelesaian krisis Yaman melalui intervensi militer adalah hal yang mustahil.
Diplomasi di Tengah Perang Proksi
Iran selama ini memberikan dukungan militer dan finansial kepada Houthi, kelompok yang selama bertahun-tahun menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman. Houthi juga dilaporkan telah merebut kota pelabuhan strategis Mocha di Laut Merah. Sementara itu, Saudi lama mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional dan melancarkan serangan udara terhadap Houthi sejak kelompok itu mulai bergerak maju.
Houthi telah menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, dan kota pelabuhan utama Hodeida selama bertahun-tahun. Namun dalam beberapa hari terakhir, mereka melancarkan serangan baru yang bergerak menuju Selat Bab Al Mandab. Jalur perairan yang menghubungkan Asia dengan Eropa melalui Terusan Suez itu semakin penting sebagai rute transit sejak konflik Timur Tengah meningkat, termasuk ketika Iran dikabarkan melakukan blokade terhadap Selat Hormuz.
Riyadh dan Teheran: Rivalitas yang Tetap Rapuh
Arab Saudi dan Iran juga berada dalam posisi saling berhadapan selama konflik Timur Tengah. Teheran pernah melancarkan serangan ke infrastruktur minyak Saudi dan target-target yang terkait dengan Amerika Serikat di wilayah Saudi. Karena itu, telepon antara kedua menlu tidak bisa dibaca hanya sebagai gestur protokoler. Ia menunjukkan bahwa saluran diplomatik tetap dibuka ketika risiko perang proksi meningkat.
Analisis yang lebih luas: pemulihan hubungan Riyadh-Teheran pasca kesepakatan 2023 masih diuji oleh dinamika Yaman. Bagi Saudi, serangan Houthi adalah ancaman langsung terhadap keamanan perbatasan dan ekonomi. Bagi Iran, Houthi adalah kartu pengaruh yang murah namun berisiko. Jika eskalasi di Bab Al Mandab berlanjut, dampaknya tidak hanya pada dua negara, tetapi pada harga energi, pelayaran internasional, dan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.
Karena itu, seruan stabilitas dalam pembicaraan itu perlu dibaca sebagai upaya menahan diri, bukan tanda konflik selesai. Tanpa pengaturan politik di Yaman dan jaminan keamanan maritim, diplomasi telepon hanya mampu menunda, bukan menghapus, sumber ketegangan.
FAQ Terkait Berita Ini
Siapa yang melakukan pembicaraan telepon?
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan.
Apa isu utama pembicaraan?
Keduanya membahas ketegangan kawasan dan menekankan perlunya kerja sama diplomatik untuk mencegah eskalasi serta memulihkan stabilitas.
Mengapa Yaman relevan?
Karena serangan Houthi terhadap Saudi meningkat, sementara Iran memiliki pengaruh terhadap Houthi dan Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diakui internasional.


