India Selenggarakan KTT BRICS, Blok Global South Perkuat Pengaruh di Tengah Ketegangan Barat
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

India menjadi tuan rumah KTT BRICS pada 12‑13 September, menandai upaya blok Global South memperkuat posisi geopolitik di tengah ketegangan terkait perang Amerika Serikat‑Iran serta masuknya anggota baru seperti Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Ethiopia, dan Indonesia.
Skala Ekonomi dan Politik BRICS
Dengan 11 negara anggota, blok ini mencakup hampir setengah populasi dunia, 40% output global, 44% produksi minyak, dan sekitar 25% perdagangan internasional. Proyeksi pertumbuhan 3,7% tahun ini melampaui G7 yang stagnan di 1%.
Ketergantungan pada Dolar dan Tantangan Institusional
Meski didirikan untuk menantang tatanan Barat, mayoritas perdagangan anggota masih berpusat pada dolar AS. Bank Pembangunan Baru (NDB) hanya menyalurkan US$ 39 miliar hingga akhir 2024, jauh di bawah komitmen Bank Dunia, dan sebagian besar dana tetap dalam dolar.
Peneliti Octavio Oliveira dan Enzo Godinho (University of São Paulo) menekankan bahwa BRICS tetap menjadi platform penting bagi Global South untuk bersuara, meski belum mampu menciptakan alternatif kelembagaan yang koheren.
Prospek dan Batas Kekuatan
Analisis geopolitik menunjukkan bahwa meski China dan Arab Saudi mendorong mata uang alternatif, hegemoni dolar tidak akan terguncang signifikan dalam satu dekade. Ketiadaan komitmen pertahanan kolektif dan perbedaan kepentingan—seperti sengketa Iran‑UEA—menyulitkan kohesi internal.
Secara keseluruhan, BRICS berfungsi lebih sebagai arena kemandirian ekonomi daripada ancaman langsung terhadap dominasi Barat, memberikan ruang bagi negara berkembang menavigasi antara pengaruh Washington dan Beijing.


