Harga Minyak Dunia Melejit, Pertamax Diramal Rp20.000 per Liter: Ini Pemicu dan Dampaknya
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Harga Minyak Dunia Melejit, Ancaman Rp20.000 per Liter di Depan Mata
Yogyakarta — Harga minyak dunia melonjak lebih dari 6% pada Kamis (10/9/2026): Brent naik 6,34% ke US$107,63 per barel dan WTI melonjak 6,69% ke US$102,48 per barel, level tertinggi sejak 19 Mei. Lompatan ini dipicu eskalasi serangan terhadap kapal, pengambilalihan Pelabuhan Mocha di Yaman oleh Houthi, dan gangguan di Selat Hormuz, yang menimbulkan kekhawatiran pasokan global. Dampaknya langsung terasa di Indonesia: Pertamina Patra Niaga memperingatkan harga Pertamax bisa menyentuh Rp18.000–Rp20.000 per liter jika harga minyak dunia tak kunjung turun.
Bagi saya, ini bukan sekadar kenaikan komoditas biasa. Pasar sedang memberi harga premium geopolitik yang mahal. Selat Hormuz adalah arteri minyak dunia; ketika kapal tanker diserang dan jalur pelayaran Laut Merah terancam, risiko pasokan naik eksponensial. Pemerintah dan pelaku usaha harus membaca ini sebagai sinyal bahwa ketahanan energi nasional tidak bisa lagi bertumpu pada asumsi harga normal.
Pertamina: Risiko Geopolitik Terberat
Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menilai risiko geopolitik saat ini menjadi yang terberat yang pernah dihadapi. Eko bahkan menyebut keadaan saat ini lebih berat dibanding perang Ukraina-Rusia. “Adanya perang di Timur Tengah, di Selat Hormuz ini, ternyata dampaknya secara global, selain ketersediaan energi di dunia, harga juga menjadi tidak stabil,” ujarnya di Yogyakarta, Jumat (11/9/2026).
Eko berharap tensi geopolitik segera menurun dan harga minyak kembali ke level US$70 per barel atau US$60 per barel seperti sebelum krisis. “Karena kalau tidak turun, kondisi ini akan berdampak, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp18 ribu sampai Rp20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia,” jelasnya.
ICP Agustus Melonjak, Proyeksi September Tetap Mahal
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan ICP atau Indonesian Crude Price sebesar US$89,43 per barel pada Agustus 2026, naik dari US$81,68 per barel pada Juli 2026. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyatakan kenaikan itu akibat dinamika pasar global yang dipengaruhi tingginya risiko geopolitik serta potensi gangguan pasokan di jalur krusial.
“Berbagai ketegangan di kawasan Selat Hormuz dan Laut Merah, termasuk serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas kilang, telah memicu kekhawatiran pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dunia,” kata Laode dalam siaran persnya, Jumat (11/9/2026).
Rincian kenaikan Agustus 2026 dibanding Juli 2026: ICP Indonesia dari US$81,68 menjadi US$89,43 per barel; Brent (ICE) dari US$83,97 menjadi US$88,08 per barel; WTI (Nymex) dari US$79,22 menjadi US$82,45 per barel; dan Dated Brent dari US$83,41 menjadi US$90,84 per barel. Memasuki September 2026, ICP diproyeksikan tetap tinggi di kisaran US$83,00–US$87,00 per barel.
Membaca Arah Pertamax dan Ruang Fiskal
Analisis saya: kenaikan ICP dan harga minyak internasional akan menekan formula harga BBM nonsubsidi. Pertamax tidak disubsidi, sehingga kenaikan biaya hampir pasti dialihkan ke konsumen. Jika Brent bertahan di atas US$100 per barel, pemerintah menghadapi pilihan sulit: menahan harga dengan beban fiskal tambahan atau membiarkan harga menyesuaikan pasar. Keduanya punya konsekuensi politik dan ekonomi.
Yang perlu diwaspadai, inflasi energi bisa merembet ke transportasi dan pangan. Dunia usaha akan menghitung ulang biaya logistik, sementara rumah tangga menahan belanja. Pemerintah menyatakan akan terus memantau pergerakan harga minyak mentah dunia sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional, dan memastikan formula ICP tetap transparan serta mencerminkan dinamika pasar internasional.
FAQ Terkait Berita Ini
Mengapa harga minyak dunia melonjak?
Karena meningkatnya serangan terhadap kapal, pengambilalihan Pelabuhan Mocha oleh Houthi, dan gangguan di Selat Hormuz yang mengancam pasokan minyak global.
Berapa proyeksi harga Pertamax?
Pertamina memperkirakan harga Pertamax dapat berada di kisaran Rp18.000–Rp20.000 per liter jika harga minyak dunia tidak turun ke US$60–US$70 per barel.
Berapa ICP Agustus 2026?
ICP Agustus 2026 ditetapkan US$89,43 per barel, naik dari US$81,68 per barel pada Juli 2026. Pemerintah memproyeksikan ICP September di kisaran US$83,00–US$87,00 per barel.


