Drama DK PBB: Rusia-China Bela Iran, AS Cs Paksa Sanksi Kembali, Voting 11-2-2

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Drama DK PBB: Rusia-China Bela Iran, AS Cs Paksa Sanksi Kembali, Voting 11-2-2
BAGIKAN:

Lima anggota tetap Dewan Keamanan PBB kembali bersitegang dalam sidang yang membahas keabsahan sanksi internasional terhadap Iran dan pemberlakuan kembali sanksi PBB lewat mekanisme snapback. Rusia dan China berada di satu kubu membela Teheran, sementara Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris menuntut sanksi ditegakkan karena Iran dinilai melanggar kesepakatan nuklir 2015. Sidang ini berlangsung setelah Resolusi 2231 diklaim kedaluwarsa pada 18 Oktober 2025, dan berujung pada voting agenda yang dimenangkan kubu Barat dengan 11 dukungan, 2 penolakan, serta 2 abstain.

Perbedaan tafsir hukum

Perwakilan Rusia menegaskan mekanisme snapback tidak berlaku karena Resolusi 2231 telah resmi kedaluwarsa. Moskow menilai agenda non-proliferasi telah dihapus dari daftar masalah aktif DK PBB, dan Komite 1737 yang dulu mengawasi sanksi Iran telah bubar pada 2015 sehingga tidak ada dasar hukum untuk menggelar pertemuan komite. China mendukung posisi itu. Beijing menyatakan kepresidenan DK PBB tidak memiliki mandat menyusun atau menyampaikan laporan 90 hari, dan menuduh beberapa anggota memaksakan agenda yang telah dihapus.

Kubu Barat menolak dalih tersebut. Inggris menyatakan bersama Prancis dan Jerman memulai mekanisme snapback sesuai Resolusi DK 2231. Prancis menegaskan resolusi dewan telah dipulihkan bersama mandat komite untuk melapor setiap 90 hari. Amerika Serikat bahkan menyebut Komite 1737 tetap ada, lalu menuduh Rusia dan China berusaha melemahkan keputusan dewan demi melindungi Iran.

Voting dan implikasi

DK PBB akhirnya menggelar pemungutan suara mengenai agenda pembahasan sanksi Iran. Hasilnya, 11 negara mendukung, 2 menolak, dan 2 abstain. Angka itu menggagalkan upaya China dan Rusia memblokir pertemuan, sekaligus menegaskan bahwa mayoritas anggota masih ingin membahas langkah hukum terhadap program nuklir Iran.

Dalam pernyataannya, China menilai situasi Timur Tengah yang runyam tidak lepas dari kebijakan Amerika Serikat. Beijing menyoroti penarikan sepihak AS dari JCPOA, penggunaan kekerasan terhadap Iran dua kali selama proses negosiasi, dan kebijakan tekanan maksimum. China juga membela hak Iran memakai energi nuklir secara damai serta mempercayai komitmen Teheran bahwa mereka tidak mengembangkan senjata nuklir. Sebaliknya, Inggris mengingatkan Iran adalah satu-satunya negara tanpa senjata nuklir yang memperkaya uranium hingga tingkat tinggi.

Secara analitis, bentrokan ini bukan sekadar adu prosedur. Ia memperlihatkan retakan mendalam di antara lima anggota tetap DK PBB, tepat ketika arsitektur non-proliferasi menghadapi ujian kepercayaan. Bagi Rusia dan China, mempertahankan Iran adalah cara menantang dominasi hukum Barat dan menjaga pengaruh di Timur Tengah. Bagi AS, Prancis, dan Inggris, snapback adalah instrumen untuk memastikan Iran tidak memperoleh celah menuju senjata nuklir. Namun, karena tafsir hukum kedua kubu saling bertabrakan, risiko kebuntuan diplomatik dan eskalasi kawasan tetap terbuka.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa itu mekanisme snapback? Mekanisme dalam Resolusi 2231 yang memungkinkan pemulihan sanksi PBB terhadap Iran jika dinilai melanggar JCPOA 2015, tanpa bisa dihalangi veto anggota tetap.

Mengapa Rusia dan China menolak? Keduanya menilai Resolusi 2231 sudah kedaluwarsa pada 18 Oktober 2025 dan Komite 1737 telah bubar, sehingga tidak ada dasar hukum untuk menggelar pertemuan atau memulihkan sanksi.

Apa dampak voting 11-2-2? Upaya Rusia dan China memblokir agenda gagal, sehingga pembahasan sanksi Iran tetap berlanjut meski perpecahan di DK PBB semakin terlihat.

Meow! Tanya Nesi!
😸