Cabai Rawit Sulut Tembus Rp152.872/Kg, Bapanas Kebut Distribusi Antarwilayah

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Cabai Rawit Sulut Tembus Rp152.872/Kg, Bapanas Kebut Distribusi Antarwilayah
BAGIKAN:

Jakarta, 11 September 2026 — Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengakui lonjakan harga cabai rawit di sejumlah daerah. Rata-rata nasional per 10 September 2026 mencapai Rp81.052 per kilogram (kg), dengan harga tertinggi di Sulawesi Utara Rp152.872 per kg dan terendah di Nusa Tenggara Timur Rp56.604 per kg. Pemerintah menyiapkan mobilisasi stok dari daerah surplus ke wilayah defisit melalui skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP).

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan FDP perlu segera dijalankan untuk merespons dinamika harga dan pasokan. 'Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons. Karena itu, kami ingin terkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP,' kata Ketut.

Disparitas Harga Antarwilayah

Selisih harga Sulawesi Utara dan NTT mencapai Rp96.268 per kg. Pemerintah akan kembali melibatkan petani Champion Cabai binaan Kementerian Pertanian (Kementan). Pasokan dari daerah berharga relatif rendah akan diarahkan ke wilayah yang harganya tinggi. 'Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi,' ujarnya.

Skema serupa sebelumnya dijalankan pada triwulan I-2026. Bapanas mencatat FDP cabai rawit saat itu mencapai 5.590 kg. Rinciannya, 3.150 kg dimobilisasi dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta; 1.140 kg ke Lombok Tengah; dan 1.300 kg ke Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Program itu turut menekan inflasi pangan pada April 2026, ketika komponen harga bergejolak atau volatile food menurun dan cabai rawit menyumbang deflasi.

Tekanan Produksi dan Proyeksi Pasokan

Fluktuasi harga terjadi di tengah sejumlah tantangan produksi. Dalam rapat koordinasi Bapanas bersama petani cabai pada 26 Agustus 2026, terungkap faktor kemarau berkepanjangan, serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) seperti trips dan kutu kebul, serta alih tanam petani ke komoditas lain. Meski demikian, Kementan memastikan produksi cabai rawit nasional masih mencukupi hingga akhir tahun.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementan Sudi Mardianto mengatakan produksi cabai rawit nasional pada September diperkirakan sekitar 119 ribu ton. 'Untuk cabai rawit secara nasional itu produksinya di bulan September itu sekitar 119 ribu ton. Di Jawa Timur itu Banyuwangi standing crop yang ada sekarang sekitar 1.486 hektare. Kemudian di Sampang itu ada 1.691 hektare. Itu produksinya sudah mulai tinggi sekitar 5 ribuan,' jelas Sudi.

Selain Jawa Timur, sentra produksi cabai di Pulau Jawa masih berada di Temanggung, Brebes, dan Magelang. Produksi di wilayah tersebut diperkirakan meningkat seiring masuknya masa panen. Kementan juga menyatakan petani Champion Cabai siap mendukung pemerintah apabila FDP kembali digelar untuk mengatasi disparitas harga antarwilayah.

Analisis: Pereda Jangka Pendek, Bukan Obat Permanen

Dalam kacamata ekonomi makro, disparitas harga cabai rawit bukan sekadar gejala musiman. Ini cermin biaya logistik, informasi pasar, dan tata niaga yang belum efisien. FDP bisa menjadi pereda jangka pendek, tetapi tanpa perbaikan rantai pasok dan ketahanan pangan yang lebih struktural, lonjakan harga berpotensi berulang, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru. Pemerintah perlu menjaga sinyal pasar agar petani tidak terjebak dalam siklus alih tanam yang memperparah ketidakpastian pasokan.

FAQ Terkait Berita Ini

Berapa harga cabai rawit nasional saat ini? Rata-rata nasional Rp81.052 per kg per 10 September 2026, dengan harga tertinggi Rp152.872 per kg di Sulawesi Utara.

Mengapa harga cabai rawit berbeda tajam antarwilayah? Karena perbedaan pasokan, biaya distribusi, dan dinamika panen setempat.

Apa itu FDP? Fasilitasi Distribusi Pangan, skema mobilisasi stok dari daerah surplus ke daerah yang mengalami kekurangan pasokan atau harga tinggi.

Meow! Tanya Nesi!
😸