BYD Batal Bangun Pabrik Sendiri di Malaysia, Sinyal Perang Regulasi EV ASEAN Memanas

Otomotif
Doni SuryaDoni Surya
Doni Surya
Doni Surya
Reviewer Mobil

Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

BYD Batal Bangun Pabrik Sendiri di Malaysia, Sinyal Perang Regulasi EV ASEAN Memanas
BAGIKAN:

KUALA LUMPUR — BYD resmi mengesampingkan rencana pembangunan pabrik perakitan sendiri di Malaysia. Keputusan itu disampaikan Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma, dalam sesi taklimat media, Kamis (10/9) malam waktu setempat, dan dikutip Nikkei Asia, Jumat (11/9). Fasilitas di Tanjung Malim, Perak, yang semula diumumkan pada Agustus 2025, tidak akan dilanjutkan. Alih-alih membangun fasilitas milik sendiri, BYD kini menjajaki kerja sama dengan mitra lokal untuk mengejar target produksi di pasar EV Malaysia. Langkah ini diambil karena aturan impor CBU Malaysia yang kian ketat, terutama ambang nilai CIF minimal 200.000 ringgit atau setara Rp865,8 juta dan tenaga minimal 180 kW.

Ma menegaskan, Untuk meluruskan, fasilitas Tanjung Malim tidak akan dilanjutkan. Pernyataan itu memastikan bahwa pabrik BYD Malaysia tidak lagi berbentuk fasilitas milik sendiri, melainkan berpotensi menjadi skema perakitan kontrak bersama pemain lokal.

Regulasi CBU yang Mengubah Peta

Sejak 1 Juli, Malaysia mewajibkan kendaraan listrik impor utuh atau completely built up (CBU) memiliki nilai cost, insurance, and freight (CIF) minimal 200.000 ringgit, dengan tenaga minimal 180 kW. Aturan ini menyusul berakhirnya pembebasan pajak khusus untuk EV impor utuh pada akhir 2025. Menurut laporan Nikkei Asia, sejumlah model terlaris BYD di Malaysia dijual di bawah ambang nilai tersebut, sehingga kebutuhan pabrik perakitan lokal disebut kian mendesak.

Secara teknis, ini bukan sekadar soal harga. Ambang CIF 200.000 ringgit memukul segmen volume, sementara syarat 180 kW mengarah ke EV berperforma tinggi. BYD menghadapi dua pilihan: menaikkan harga dan kehilangan daya saing, atau merakit lokal untuk mengubah status CBU menjadi CKD. Opsi kedua lebih rasional jika ambisi volume tetap besar. Di sinilah mitra lokal menjadi kunci, karena mereka sudah punya kapasitas, rantai pasok, dan pemahaman regulasi domestik.

Mitra Lokal dan Syarat Ekspor

BYD kini bekerja sama dengan pemain lokal yang, menurut Ma, punya kapasitas dan kapabilitas memenuhi persyaratan perusahaan serta mendukung operasi perakitan lokal secara penuh. Diskusinya sudah berada pada tahap yang sangat lanjut, dan kami tengah menuntaskan dokumen-dokumen yang diperlukan. Kami akan membuat pengumuman resmi begitu semuanya siap, ujar Ma.

Pada Mei lalu, sempat dilaporkan BYD menjajaki kerja sama perakitan kontrak dengan Sime Motors, memakai pabrik anak usahanya, Inokom, di Kulim, Kedah. Sime Motors adalah distributor resmi BYD di Malaysia, namun Ma tidak menyebut nama mitra yang kini dimaksud. Ma juga tidak menjawab langsung soal alasan pembatalan proyek pabrik. Ia hanya menyebut budaya BYD adalah menjajaki secara jangka panjang.

The Edge melaporkan pada Maret, dikutip Nikkei Asia, bahwa rencana pabrik Tanjung Malim sempat diragukan setelah BYD disebut tak menyepakati sejumlah syarat dari Kementerian Investasi, Perdagangan, dan Industri (MITI) Malaysia. Salah satu ganjalan yang dilaporkan adalah syarat agar hingga 80 persen kendaraan rakitan lokal harus diekspor. Bagi BYD, kewajiban ekspor sebesar itu bisa mengunci alokasi produksi dan mengurangi fleksibilitas menghadapi permintaan domestik yang sedang tumbuh.

Malaysia Tetap Strategis, Indonesia Sudah Jalan

Menurut Nikkei Asia, BYD telah menjual lebih dari 35.000 unit EV di Malaysia sejak masuk pasar pada 2022. Sepanjang 2025, penjualannya tercatat 14.407 unit, menjadikan BYD merek EV terlaris di negara itu. Managing Director Sime Motors, Adeline Lew, menyebut penjualan BYD pada semester I 2026 telah melampaui 7.000 unit.

Berbeda dengan di Malaysia, opsi pabrik sendiri BYD di Indonesia sudah terealisasi lebih dulu. Pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, resmi beroperasi sejak Kamis (3/9), dengan kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun. Kontras ini menunjukkan bahwa strategi manufaktur BYD di ASEAN tidak seragam; setiap negara diuji oleh insentif, aturan lokal, dan skala pasar masing-masing.

Ma menegaskan BYD akan tetap berada di Malaysia meski bentuk investasinya berubah. Lokasi dan pengaturannya mungkin berubah, tapi niat kami tetap sama. Kami terus melihat Malaysia sebagai pasar penting dan bagian strategis dari pertumbuhan BYD ke depan, kata Ma.

Sebagai reviewer otomotif, saya menilai keputusan ini adalah kompromi cerdas sekaligus peringatan. Malaysia ingin EV tidak hanya dijual, tetapi diproduksi dan diekspor. BYD ingin fleksibilitas dan volume. Perakitan lewat mitra lokal adalah jalan tengah yang secara teknis bisa memenuhi syarat CIF, tenaga, dan kandungan lokal, tanpa harus menanggung beban pabrik sendiri di tengah perang harga EV. Namun, jika syarat ekspor 80 persen tetap dipaksakan, negosiasi bisa kembali alot. Di paddock ASEAN, regulasi kini sama menentukan dengan spesifikasi baterai.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah BYD benar-benar batal bangun pabrik di Malaysia? Ya, fasilitas Tanjung Malim tidak dilanjutkan, tetapi BYD tetap menjajaki perakitan lokal lewat mitra.

Apa penyebab utama pembatalan? Regulasi CBU Malaysia, ambang CIF 200.000 ringgit dan tenaga minimal 180 kW, serta syarat ekspor hingga 80 persen.

Di mana BYD sudah punya pabrik sendiri di ASEAN? Di Subang, Jawa Barat, Indonesia, dengan kapasitas hingga 150.000 unit per tahun.

Meow! Tanya Nesi!
😸