Bukan Ledakan, Tapi Longsoran: Benchmark Tsunami Anak Krakatau yang Wajib Dibaca Tech-Enthusiast
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menyatakan peristiwa tsunami Selat Sunda 2018 harus menjadi peta acuan bahaya baru atau benchmark untuk membaca potensi ancaman Anak Krakatau di masa depan. Pernyataan ini muncul saat erupsi gunung beberapa hari terakhir kembali disorot, Senin (7/9), dan menegaskan bahwa ancaman tsunami tidak selalu datang dari ledakan erupsi.
Daryono menjelaskan tsunami 2018 bukan disebabkan ledakan abu atau gas, melainkan longsornya tubuh gunung ke laut secara tiba-tiba atau flank collapse. “Peristiwa 2018 dapat menjadi peta acuan bahaya baru (benchmark), meskipun setiap siklus erupsi tetap memiliki dinamika yang unik,” kata Daryono kepada CNNIndonesia.com.
Longsoran Lereng: Ancaman Permanen
Menurut Daryono, mekanisme longsoran lereng akan selalu menjadi ancaman permanen selama proses pembangunan tubuh Anak Krakatau masih berlangsung. Gunung akan membangun kembali tubuhnya melalui tumpukan lava baru hingga mencapai titik ketidakstabilan struktur atau slope instability. Karena itu, mitigasi bencana tidak cukup hanya membaca aktivitas erupsi.
Badan Geologi: Saat Ini Tidak Berpotensi Tsunami Seperti 2018
Sebelumnya, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan erupsi Gunung Anak Krakatau tidak berpotensi memicu gelombang tsunami seperti tsunami 2018. Ada perbedaan mendasar antara kondisi fisik gunung saat ini dan morfologi sebelum tsunami. Pemicu utama 2018 adalah longsoran skala masif dinding gunung yang runtuh ke laut, sementara struktur fisik gunung kini dinilai jauh lebih kokoh dan stabil.
Berdasarkan evaluasi dan pemantauan data geologi terkini, bentuk kawah utama serta tubuh gunung pasca-runtuhan 2018 masih dalam kategori aman dari risiko longsoran besar. Proses pembentukan kembali tubuh gunung setelah erupsi 2018 juga belum mencapai volume kritis yang dapat membahayakan perairan sekitarnya.
Sensor Real-Time dan Evakuasi Mandiri
Daryono menekankan pemerintah perlu memperkuat mitigasi dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aktivitas erupsi, tetapi juga potensi longsoran dan tsunami vulkanik. Langkah pertama adalah penguatan pemantauan dan teknologi: menambah serta merawat kerapatan jaringan tide gauge, radar cuaca maritim, dan sensor deformasi lereng secara real-time di garis pantai paling rawan paparan tsunami vulkanik. Ini bagian dari teknologi pemantauan yang harus jadi prioritas.
Mitigasi juga perlu diterapkan melalui tata ruang berbasis risiko. Pemerintah harus menetapkan zona kerawanan bencana (ZKB) di pesisir Selat Sunda yang ketat dan membatasi pembangunan infrastruktur permanen di garis pantai paling rawan. Selanjutnya, memperkuat sistem peringatan berbasis komunitas atau community-based evacuation. Masyarakat pesisir perlu dibiasakan melakukan evakuasi mandiri saat melihat indikasi erupsi besar atau mendengar sirene peringatan dini.
“Mengingat jeda waktu tsunami Selat Sunda sangat singkat, masyarakat dilatih untuk melakukan evakuasi mandiri segera setelah melihat indikasi erupsi visual besar atau sirene peringatan dini berbunyi, tanpa menunggu kepastian kabar,” imbuh Daryono.
Pemerintah juga perlu membangun dan merawat jalur evakuasi tsunami (JET), Tempat Evakuasi Sementara (TES) di dataran tinggi, serta penanaman mangrove di sepanjang pesisir Selat Sunda. Edukasi masyarakat harus ditingkatkan melalui literasi kebencanaan berbasis mandiri dan pemahaman risiko bencana ganda atau multi-hazard.
Sebagai tech-reviewer, saya menilai persoalan ini bukan sekadar wacana kebencanaan, melainkan tantangan arsitektur data dan kecepatan respons. Sensor real-time, integrasi dashboard, sirene, dan pelatihan komunitas adalah rantai sistem yang harus bekerja tanpa lag. Selat Sunda tidak hanya menghadapi guncangan tektonik biasa, tetapi juga tsunami non-tektonik akibat erupsi atau longsoran Anak Krakatau yang bisa datang sangat cepat tanpa guncangan awal.
FAQ Terkait Berita Ini
Q: Apa yang membuat tsunami 2018 berbeda?
A: Tsunami 2018 dipicu longsoran tubuh Anak Krakatau ke laut, bukan ledakan abu atau gas.
Q: Apakah erupsi sekarang berpotensi memicu tsunami seperti 2018?
A: Badan Geologi menilai kondisi fisik gunung saat ini lebih kokoh dan stabil, serta belum mencapai volume kritis longsoran besar.
Q: Apa langkah mitigasi yang disarankan?
A: Penguatan sensor real-time, tata ruang berbasis risiko, evakuasi berbasis komunitas, jalur evakuasi, TES, mangrove, dan literasi kebencanaan multi-hazard.


