Aljazair Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA di Tengah Ketegangan Regional
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Aljazair secara resmi memutus hubungan diplomatik dengan Uni Emirat Arab pada Jumat 11 September, setelah menuduh tindakan provokatif dan bermusuhan dari pihak UEA yang dianggap tidak dapat ditoleransi.
Latar Belakang Ketegangan
Kementerian Luar Negeri Aljazair menyatakan bahwa upaya‑upaya diplomatik untuk mempertahankan hubungan bilateral telah habis, sementara serangkaian langkah UEA yang dianggap menyinggung menambah tekanan. Media‑media Aljazair secara berulang menuduh UEA berupaya memecah belah negara‑negara di kawasan.
Isu Regional yang Memperuncing Konflik
Perbedaan sikap terhadap Abraham Accords menjadi salah satu penyebab utama. Aljazair menolak normalisasi hubungan dengan Israel, sementara UEA, bersama Maroko, telah menjalin hubungan diplomatik dengan Israel sejak 2020. Kedua negara juga berada di pihak yang berlawanan dalam sengketa Sahara Barat; UEA mendukung klaim kedaulatan Maroko, sedangkan Aljazair mendukung Front Polisario.
Langkah-Langkah yang Diambil
Aljazair memanggil Duta Besar UEA, Yousef Saif Khamis Subaa Al Ali, untuk menyampaikan keputusan tersebut, memberi waktu 48 jam bagi pihak UEA menyesuaikan diri, serta menutup ruang udara bagi penerbangan UEA mulai Jumat, 11 September.
Respons UEA
Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan harapannya bahwa keputusan Aljazair bersifat sementara dan menegaskan komitmen Abu Dhabi untuk menjaga hubungan antarwarga serta kepentingan bersama.
Komentar ahli: Pengamat hubungan internasional menilai bahwa pemutusan diplomatik ini mencerminkan semakin terpolarisasinya aliansi regional, khususnya dalam konteks persaingan antara Aljazair‑Maroko dan dinamika geopolitik Sahel.

