Trump Sebut Perang AS-Iran Berakhir usai Pemilu Paruh Waktu, Harga Minyak dan Rating Jadi Taruhan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperkirakan perang AS-Iran akan berakhir tidak lama setelah pemilu paruh waktu November. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan sebelum ia berangkat ke Konvensi Nasional Partai Republik di Dallas, Rabu (9/9), dan menempatkan konflik tujuh bulan itu dalam bingkai tekanan ekonomi, politik domestik, serta pasar energi global.
Menurut Trump, Teheran berupaya memengaruhi pemungutan suara, tetapi tidak akan mampu bertahan lebih lama menghadapi tekanan ekonomi AS. Ia juga memproyeksikan harga minyak akan turun tepat setelah pemilihan. Soal jalur diplomatik, Trump menyebut negosiasi masih mungkin, namun bukan opsi yang sedang dipertimbangkan.
Konflik, Selat Hormuz, dan Lonjakan Minyak
Klaim itu muncul ketika perang telah memasuki bulan ketujuh tanpa tanda-tanda mereda. Pada hari yang sama, Iran mengatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz setelah AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran. Eskalasi ini mendorong harga minyak mentah Brent berjangka menembus 100 dolar AS per barel untuk pertama kali sejak Juli.
Dari sudut hubungan internasional, pernyataan Trump berfungsi ganda: sinyal kepada pemilih domestik bahwa beban perang akan segera berakhir, sekaligus tekanan psikologis kepada Tehran. Namun, pasar energi dan aktor regional cenderung membaca retorika seperti ini sebagai sinyal campuran. Di satu sisi, janji penurunan harga minyak dapat meredakan kekhawatiran inflasi. Di sisi lain, serangan di jalur pelayaran strategis justru memperbesar risiko pasokan.
Pemilu Paruh Waktu sebagai Referendum
Pemilihan paruh waktu pada 3 November biasanya menjadi referendum terhadap penghuni Gedung Putih. Rating Trump dilaporkan anjlok ke titik terendah sepanjang sejarah, dipicu frustrasi pemilih atas perang Iran dan krisis biaya hidup. Karena itu, narasi bahwa perang akan berakhir setelah pemilihan dapat dibaca sebagai upaya mengendalikan agenda politik, bukan sekadar perkiraan strategis.
Yang perlu dicermati, pernyataan Trump belum tentu mencerminkan realitas di lapangan. Iran masih memiliki opsi asimetris di laut, sementara AS menghadapi dilema antara menegakkan tekanan maksimum dan menghindari perang regional yang lebih luas. Jika negosiasi tidak menjadi prioritas, maka ruang de-eskalasi tetap sempit. Dalam kerangka itu, harga minyak dan keamanan pelayaran akan terus menjadi indikator utama arah konflik.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang dikatakan Trump tentang akhir perang AS-Iran?
Trump memperkirakan perang berakhir segera setelah pemilu paruh waktu AS pada November karena Iran disebut tidak mampu bertahan lebih lama di bawah tekanan ekonomi.
Mengapa pernyataan ini penting bagi pasar minyak?
Karena ia menjanjikan harga minyak turun setelah pemilihan, tetapi eskalasi di dekat Selat Hormuz justru membuat pasokan dan harga berisiko naik.
Apakah negosiasi masih mungkin?
Trump menyebut negosiasi mungkin, tetapi bukan sesuatu yang sedang dipertimbangkan secara utama.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
