Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Susan Sarandon Dikucilkan Hollywood Karena Bela Palestina: 'Saya Baik-Baik Saja!'

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Susan Sarandon Dikucilkan Hollywood Karena Bela Palestina: 'Saya Baik-Baik Saja!'
BAGIKAN:

Aktris legendaris Susan Sarandon mengaku kesulitan mendapat tawaran film usai vokal dukung Palestina. Tapi di tengah pemboikotan, bintang Dead Man Walking ini justru mendapat sambutan hangat di Venesia dan menegaskan: 'I'm OK.'

Susan Sarandon, aktris peraih Oscar yang namanya melegenda selama lima dekade, kini menjadi salah satu korban pemboikotan Hollywood karena sikap politiknya yang blak-blakan. Di usianya yang ke-79, perempuan kelahiran 4 Oktober 1946 itu mengaku kehilangan banyak peluang bermain film setelah secara terbuka mengkritik Israel dan mendukung perjuangan rakyat Palestina. Meski begitu, ia tak gentar—bahkan di tengah tekanan, ia justru merasa lebih diterima di kancah internasional.

Dari Panggung Oscar ke Panggung Pemboikotan

Karir Sarandon yang cemerlang—dengan segudang penghargaan termasuk Academy Award, BAFTA, dan tujuh nominasi Emmy—tiba-tiba terhambat. Dalam konferensi pers film terbarunya, The Echo Chamber, di Venice Film Festival 2026 pada Minggu (6/9), ia mengungkapkan bahwa agensi-agensinya terus mendapat tekanan untuk tidak mempekerjakannya. "Saya masih kehilangan kesempatan bermain film belakangan ini karena ada pihak agensi yang terus meminta orang-orang untuk tidak mempekerjakan saya," ujarnya.

Langkah tersebut bukanlah yang pertama. Pada 2023, agensi UTA memutus kontrak dengan Sarandon setelah ia melontarkan pernyataan keras dalam unjuk rasa pro-Palestina. Lalu awal 2026, ia kembali mengaku diasingkan oleh industri hiburan karena menyerukan gencatan senjata di Gaza. Namun, Sarandon menegaskan bahwa ia tidak akan menarik dukungannya—sebuah sikap yang justru mengukuhkan posisinya sebagai salah satu selebriti paling berani di Hollywood.

Sambutan Hangat di Venesia, Meski Dijauhi di Negeri Sendiri

Menariknya, meski dianggap 'panas' di kalangan petinggi Hollywood, Sarandon justru mendapat pelukan hangat dari dunia internasional. Di Venice Film Festival, ia disambut meriah oleh penonton dan insan film Eropa. "Di kalangan masyarakat umum—terutama di tingkat internasional—saya merasa diterima dengan baik," tuturnya, seperti dilansir Variety. Menurutnya, narasi tentang perjuangan Palestina dan hubungan Zionis dengan politik Amerika telah berubah drastis. "Sebelumnya, tidak banyak yang benar-benar paham seberapa besar dana yang dikucurkan Amerika Serikat untuk Israel," tambahnya.

Film The Echo Chamber sendiri merupakan garapan sutradara Italia Andrea Pallaoro, dengan proses syuting di Italia dan Belgia. Sarandon berperan dalam drama romantis yang naskahnya merupakan karya terakhir dari maestro Bernardo Bertolucci, bersama Luca Marinelli dan Alicia Vikander. "Saya berterima kasih kepada Andrea karena ia tidak mengindahkan peringatan-peringatan tersebut," ujar Sarandon, merujuk pada tekanan yang mencoba menggagalkan keterlibatannya.

Analisis: Ketika Suara Kemanusiaan Ditabrak Kepentingan Industri

Kasus Sarandon menjadi cermin bagaimana industri hiburan kerap terjebak dalam kepentingan geopolitik. Di satu sisi, Hollywood mendengungkan keberagaman dan kebebasan berekspresi, tapi di sisi lain, mereka dengan mudah mengucilkan talenta yang berani melawan arus. Sarandon sendiri mengakui bahwa masih ada posisi-posisi yang dipegang oleh kaum Zionis yang belum melunakkan sikap terhadapnya. "Tapi saya telah menemukan keluarga dan komunitas saya sendiri, dan I'm OK," katanya dengan tegas.

Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bahwa solidaritas terhadap Palestina tidak lagi bisa dibungkam, bahkan di tengah pusaran Hollywood. Di Venice, para aktivis bahkan menyerukan pengibaran bendera Palestina sebagai penghargaan kepada sineas Palestina yang filmnya ditayangkan—meski panitia kesulitan karena Italia belum mengakui Palestina secara resmi. Namun, beberapa film yang mengangkat perjuangan warga Palestina tetap diputar, menandakan adanya ruang bagi narasi alternatif.

Dengan karir yang membentang dari The Rocky Horror Picture Show (1975) hingga Enchanted (2007) dan The Lovely Bones (2009), Sarandon telah membuktikan bahwa integritas lebih berharga dari sekadar tawaran film. Ia mungkin kehilangan beberapa peran, tetapi ia mendapatkan sesuatu yang lebih besar: penghormatan dari publik global dan tempat dalam sejarah sebagai aktris yang tak hanya bermain, tetapi juga bersuara.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang menyebabkan Susan Sarandon dikucilkan Hollywood?
Susan Sarandon dikucilkan karena secara terbuka mendukung Palestina dan mengkritik kebijakan Israel serta Zionis, yang memicu pemutusan kontrak oleh agensinya dan tekanan dari kalangan industri agar tidak mempekerjakannya.

Apakah Susan Sarandon menyesal atas sikapnya?
Tidak. Ia menegaskan tidak akan menarik dukungannya dan tetap bersuara untuk Palestina. Ia mengaku merasa baik-baik saja ('I'm OK') karena mendapat dukungan dari komunitas internasional dan keluarga barunya.

Bagaimana respons industri film di luar Hollywood?
Sarandon mendapat sambutan hangat di Venice Film Festival 2026 dan diterima dengan baik di kancah internasional. Filmnya, The Echo Chamber, tetap diproduksi di Italia dan Belgia tanpa terpengaruh tekanan dari Hollywood.

Meow! Tanya Nesi!
😸