Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Reseller Online Serbu Asemka, Barang Viral Jadi Ladang Cuan Gen Z

Ekonomi & PasarHendra GunawanHendra GunawanSumber: CNBC Indonesia
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Reseller Online Serbu Asemka, Barang Viral Jadi Ladang Cuan Gen Z
BAGIKAN:

Pusat Grosir Asemka di Jakarta Barat mendadak berdenyut lagi. Di tengah gempuran e-commerce, ribuan reseller online dari kalangan Gen Z justru membanjiri lorong-lorong pertokoan, memburu aksesori, mainan, dan barang-barang yang sedang viral di media sosial. Fenomena ini menunjukkan pergeseran strategi bisnis daring: dari ketergantungan pada platform digital ke arah kulakan fisik dengan harga grosir yang tetap kompetitif.

Tak seperti kekhawatiran sebelumnya bahwa media sosial akan membunuh pasar tradisional, TikTok dan Instagram justru menjadi pintu masuk baru bagi Asemka. Para pembeli tidak lagi datang sekadar untuk kebutuhan pribadi, melainkan untuk menemukan produk yang bisa dijual kembali dengan margin keuntungan. Slime, squishy, jepit rambut berbentuk bintang, hingga gantungan kunci lucu menjadi komoditas panas yang diburu—semuanya mengikuti gelombang tren yang cepat berganti.

Harga Grosir yang Menggoda, Modal Kecil Bisa Beromzet Jutaan

Manto, salah satu pedagang di Asemka, mengungkapkan bahwa slime dan squishy kini menjadi primadona. "Sekarang yang lagi banyak dicari itu ada slime, squishy, gantungan boneka, aksesori lucu-lucu," ujarnya saat ditemui, Selasa (8/9/2026). Untuk butter squishy, harga eceran Rp50.000 per buah, namun jika membeli satu kotak (12 buah) harganya turun menjadi Rp45.000 per buah atau Rp540.000 per kotak. Nina, pedagang lainnya, menambahkan bahwa jepit rambut bintang model Naykilla sempat ludes dalam sepekan karena tingginya permintaan dari Gen Z.

Dengan modal awal hanya Rp500.000, Teni, seorang reseller yang terkena PHK dua bulan lalu, memulai usaha dengan mengambil dua lusin slime. Tak disangka, barangnya laris karena momen hype. Kini ia rutin datang ke Asemka seminggu dua kali dan mengaku omzetnya sudah menembus angka jutaan rupiah. "Kayaknya waktu itu saya modal Rp500 ribu, nggak nyangka laku, karena ternyata hype lagi," katanya.

Dari Pembeli Pribadi Menjadi Supplier: Peluang di Balik Tren

Kisah serupa juga dialami Amira, reseller bulu mata palsu. Awalnya ia mencari bulu mata untuk pernikahan kakaknya, tapi justru menemukan supplier di Asemka. Sekarang ia membeli bulu mata dengan harga Rp67.000–Rp120.000 per lusin, lalu menjualnya per pack seharga Rp25.000 setelah melakukan rebranding produk. "Lumayan banget. Saya tinggal rebranding dikit, tapi sudah oke penjualan," ujar Amira.

Dari dua kisah ini, pelajaran penting bagi pelaku usaha adalah bahwa produk murah dan viral bisa menjadi pintu masuk yang cerdas, asalkan tahu cara mendapatkan harga kulakan yang tepat dan mengemasnya dengan nilai tambah. Di sinilah peran kritis Siti Amalia melihat bahwa ekonomi kreatif berbasis pasar fisik dan digital justru saling mengisi, bukan bertabrakan. Pemerintah dan pelaku industri perlu memfasilitasi ekosistem ini dengan kebijakan yang mendukung akses modal dan pelatihan pemasaran, agar tren ini tidak hanya sesaat tetapi menjadi jembatan bagi wirausaha baru.

Strategi Bisnis: Modal Kecil, Kecepatan Respons, dan Rebranding

Para reseller sukses di Asemka menunjukkan bahwa kecepatan merespons tren dan kemampuan menambahkan nilai (rebranding) adalah kunci. Mereka tidak sekadar menjual barang, tetapi membaca selera pasar yang sedang panas. Asemka menjadi laboratorium hidup bagi siapa pun yang ingin memulai bisnis dengan modal terbatas, tanpa harus menyetok barang mahal dalam jumlah besar. Yang dibutuhkan adalah mata tajam untuk tren, negosiasi harga yang cerdas, dan kreativitas dalam kemasan serta pemasaran online.

Di tengah ancaman inflasi dan daya beli yang belum pulih sepenuhnya, segmen produk murah dengan permintaan tinggi justru menjadi ceruk yang menjanjikan. Namun, tantangannya adalah keberlanjutan: bagaimana menjaga pasokan dan menghindari kejenuhan pasar ketika tren meredup. Untuk itu, diversifikasi produk dan membangun basis pelanggan setia menjadi langkah lanjutan yang wajib dipikirkan.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apa saja produk yang paling banyak dicari di Asemka saat ini?
Slime, squishy, aksesori rambut (terutama jepit bintang), gantungan kunci lucu, dan bulu mata palsu. Semua mengikuti tren viral di media sosial.

2. Berapa modal yang dibutuhkan untuk mulai berjualan dari Asemka?
Bisa dimulai dari Rp500.000, cukup untuk membeli dua lusin slime atau beberapa paket aksesori. Harga grosir membuat keuntungan cukup besar jika produk laku.

3. Apakah rebranding penting untuk reseller pemula?
Sangat penting. Dengan mengemas ulang produk, memberi nama menarik, atau menambahkan kemasan cantik, reseller bisa meningkatkan harga jual tanpa mengubah harga beli, seperti yang dilakukan Amira.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸