Makam Mewah Rp35 M dan Tradisi Kerajaan: Raja Norwegia Harald V Dimakamkan Hari Ini

Jenazah Raja Harald V dari Norwegia dimakamkan pada Rabu (9/9) dalam sebuah upacara kenegaraan di Katedral Oslo, diiringi protokol kerajaan yang kental dan satu sorotan tak biasa: peti mati ganda yang dirancang khusus bersama Ratu Sonja menelan anggaran sekitar 20 juta kroner (Rp35 miliar). Sang raja yang wafat pada 28 Agustus dalam usia 89 tahun itu sempat melontarkan candaan mengenai sarkofagus tersebut dalam pidato Oktober 2024, menyebutnya mengingatkan pada "piramida dan ruang pemakaman Mesir".
Prosesi pemakaman dimulai pukul 13.00 waktu setempat (11.00 GMT) di Katedral Oslo, kemudian peti mati diarak menuju Kastil Akershus, benteng abad pertengahan yang menghadap Teluk Oslo. Di sana, keluarga kerajaan mengikuti upacara tertutup sebelum jenazah disemayamkan di makam kerajaan, berdampingan dengan dua sarkofagus lain milik kakeknya, Raja Haakon VII, dan orang tuanya, Raja Olav V.
Desain Sarkofagus dan Tradisi Pemakaman Kerajaan
Sarkofagus ganda untuk Harald dan Ratu Sonja dirancang oleh firma arsitektur Norwegia Snøhetta, yang juga dikenal sebagai perancang Gedung Opera Oslo dan Bibliotheca Alexandrina di Mesir. Istana Kerajaan menyatakan desain tersebut dibuat dengan tetap menghormati tradisi, dan proses pembuatannya melalui konsultasi langsung dengan pasangan kerajaan. Menurut surat kabar Aftenposten, penggunaan sarkofagus merupakan tradisi pemakaman khusus bagi keluarga kerajaan Norwegia, berbeda dengan rakyat biasa yang umumnya menggunakan peti kayu sederhana.
Makam kerajaan di Kastil Akershus, yang diresmikan pada 1949 sebagai tambahan kapel benteng, biasanya terbuka untuk umum saat kastil dibuka. Namun, kini ditutup bagi pengunjung untuk menghormati prosesi pemakaman. Dua sarkofagus yang sudah ada—satu dari marmer putih untuk Haakon VII dan Ratu Maud, dan satu dari perunggu berlapis patina hijau gelap untuk Olav V dan Putri Mahkota Martha—karya arsitek Arnstein Arneberg, menjadi inspirasi bagi desain baru yang akan menemani pasangan raja dan ratu tersebut untuk selama-lamanya.
Anggaran Mewah dan Canda Raja yang Menggugat
Dalam pidato Oktober 2024, Harald dengan jenaka mengomentari pos anggaran pemerintah yang mencakup dana khusus untuk pembuatan peti mati. "Anggaran pemerintah tahun ini mencakup sebuah pos yang, secara mengejutkan, mungkin mengingatkan pada piramida dan ruang pemakaman Mesir, sebelum beberapa orang terburu-buru mencari di Google untuk mencari arti kata tersebut," ujarnya, seraya menambahkan, "Saya harap peti mati itu dilapisi dengan baik agar tinggal di sana nyaman. Lagi pula, kita akan berada di sana cukup lama."
Pernyataan itu menyulut perbincangan publik tentang kewajaran biaya pemakaman kerajaan di tengah krisis biaya hidup yang melanda Eropa. Meskipun monarki Norwegia masih mendapat dukungan luas—sekitar 70% rakyat mendukung institusi kerajaan—transparansi anggaran dan proporsionalitas pengeluaran kerap menjadi sorotan. Sebagai perbandingan, biaya pemakaman Ratu Elizabeth II di Inggris diperkirakan mencapai £8 juta (sekitar Rp160 miliar), namun mencakup pengamanan dan protokol yang jauh lebih besar. Angka Rp35 miliar untuk sarkofagus di Norwegia, meski terdengar fantastis, masih di bawah rata-rata pengeluaran seremonial kerajaan Eropa.
Analis politik Universitas Oslo, Dr. Lars Eriksen, menilai bahwa candaan Harald justru menjadi strategi komunikasi yang cerdas: "Dengan membuka selubung anggaran dan menyelipkan humor, ia meredam potensi kritik dan mengajak publik melihat pemakaman sebagai bagian dari warisan budaya, bukan sekadar kemewahan semata." Tradisi makam kerajaan di Akershus bukan hanya tempat peristirahatan terakhir, melainkan juga simbol kontinuitas dinasti dan identitas nasional Norwegia yang telah berdiri sejak kemerdekaan dari Swedia pada 1905.
Meski demikian, di media sosial muncul beragam tanggapan. Sebagian netizen mempertanyakan relevansi biaya sebesar itu di saat pemerintah masih mengalokasikan subsidi energi dan kesehatan. Namun, pihak istana menegaskan bahwa anggaran tersebut telah melalui proses persetujuan parlemen dan merupakan bagian dari perencanaan jangka panjang yang sudah diumumkan sejak 2024, jauh sebelum wafatnya sang raja.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Mengapa peti mati Raja Harald V disebut sarkofagus dan bukan peti biasa?
Sarkofagus adalah peti mati batu atau bahan kokoh yang biasanya digunakan untuk tokoh penting, terutama dalam tradisi kerajaan Eropa. Di Norwegia, penggunaan sarkofagus merupakan tradisi turun-temurun bagi keluarga kerajaan, berbeda dengan peti kayu untuk rakyat biasa.
2. Apakah biaya Rp35 miliar berasal dari uang rakyat?
Ya, anggaran tersebut berasal dari dana pemerintah Norwegia yang dialokasikan khusus untuk pemakaman kerajaan. Namun, alokasi ini telah melalui proses persetujuan parlemen dan diumumkan secara transparan sejak 2024, sehingga bukanlah pengeluaran mendadak.
3. Bisakah masyarakat mengunjungi makam kerajaan setelah pemakaman?
Makam kerajaan di Kastil Akershus biasanya terbuka untuk umum saat kastil dibuka, namun kini ditutup sementara untuk menghormati prosesi pemakaman. Belum ada kepastian kapan akan dibuka kembali untuk pengunjung.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
