Keracunan MBG di Karo: Siswi Berprestasi Hilang Ingatan, KPPG Klaim Bisa Komunikasi
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) yang menimpa siswi SMK di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menyisakan tanda tanya besar. Febiona Purba (16), siswi berprestasi peraih ranking pertama dan Wakil Ketua OSIS, dikabarkan mengalami gangguan ingatan usai dirawat tiga hari di rumah sakit. Namun, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan, Donal Simanjuntak, justru menegaskan bahwa korban kini dapat berkomunikasi dengan baik—pernyataan yang kontras dengan kesaksian orang tua.
Peristiwa ini bermula dari program MBG yang digulirkan Badan Gizi Nasional (BGN) di sekolah-sekolah. Febiona diduga keracunan usai mengonsumsi makanan tersebut, lalu dirawat di RSU Haji Medan dan dirujuk ke RSUP Adam Malik. Orang tua, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengungkapkan bahwa setelah pulang ke rumah, putrinya mengalami kejang dan mulai berbicara layaknya anak kecil, bahkan tak lagi mengenali keluarga dan teman sekelas. "Pas awal dirawat masih normal, tapi setelah sampai rumah dia kejang, di situlah mulai omongannya kayak anak-anak," ujar Elvinus, Senin (7/9).
Menanggapi hal itu, Donal Simanjuntak menyatakan timnya menemui Febiona di RS Adam Malik pada 8 September dan menilai kondisinya stabil. "Yang bersangkutan dapat berkomunikasi dengan baik dan menceritakan pengalamannya. Kami terus memantau kondisi kesehatan korban," katanya, dikutip dari detikSumut. Namun, pernyataan ini tidak menjelaskan mengapa orang tua melaporkan adanya gejala regresi mental dan kesulitan bicara akibat lidah yang agak masuk ke dalam.
Analisis Redaksi: Pertanyaan kritis yang harus diajukan adalah: apakah standar pemantauan KPPG dan BGN hanya sebatas kemampuan bicara sesaat, ataukah ada evaluasi menyeluruh terhadap dampak neurologis dan psikologis? Hilang ingatan bukanlah kondisi remeh, apalagi pada remaja berprestasi. Gubernur Sumut, Bobby Nasution, tampak lebih arif dengan meminta pemeriksaan menyeluruh, termasuk psikologi, karena trauma keracunan bisa mengganggu mental. "Kita enggak bisa nilai traumatis seseorang hanya dari medis," tegas Bobby. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara laporan lapangan dan klaim instansi.
Kronologi dan Pergeseran Narasi
Febiona awalnya dirawat di RSU Haji Medan tanpa gejala aneh. Setelah pulang, kejang dan perubahan perilaku muncul, mendorong keluarga kembali ke RS Haji, lalu dirujuk ke Adam Malik. Di sanalah Febiona mulai menunjukkan gangguan ingatan yang parah. Elvinus baru menyadari kondisi ini saat perawatan inap, dan sejak itu ia bolak-balik membawa anaknya ke poli psikiatri dan neurologi. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Sumut Wilayah IV, Zulkarnain Barus, mengaku prihatin dan meminta sekolah berkoordinasi dengan orang tua untuk memfasilitasi kembali sekolah setelah sembuh.
Fakta vs Klaim: Siapa yang Benar?
Donal menyebut Febiona masih mengenali tim KPPG dan berbicara baik pada 8 September. Namun, orang tua menyatakan anaknya belum pulih fisik dan lidahnya sulit digerakkan. Perbedaan persepsi ini memicu spekulasi: apakah pihak KPPG hanya melihat momen sesaat, ataukah keluarga melebih-lebihkan? Sebagai jurnalis investigasi, kami mendesak BGN dan KPPG merilis hasil pemeriksaan medis independen. Jangan sampai program MBG yang mulia justru menimbulkan korban dengan dampak jangka panjang, sementara tanggung jawab dikesampingkan dengan pernyataan manis.
Kasus ini juga menyoroti lemahnya mekanisme pengawasan makanan di sekolah. Jika makanan bergizi gratis malah menyebabkan keracunan hingga memicu gangguan saraf, maka sistem keamanan pangan harus dievaluasi total. Febiona bukan kasus pertama—sebelumnya ada laporan keracunan MBG di beberapa daerah. Namun, baru kali ini dampaknya sampai mengganggu ingatan. Apakah ada kontaminasi tertentu? Apakah prosedur pengolahan dan distribusi sudah sesuai standar? Pertanyaan ini mengendap dan menuntut jawaban transparan dari BGN.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa yang menyebabkan siswi hilang ingatan setelah keracunan MBG?
Belum ada diagnosis resmi. Orang tua melaporkan gejala kejang dan regresi mental, namun pihak KPPG mengklaim korban bisa berkomunikasi. Pemeriksaan neurologi dan psikiatri masih berlangsung.
Apakah program MBG dihentikan sementara?
Sejauh ini tidak ada penghentian. BGN hanya menyatakan akan memantau korban, tanpa mengevaluasi rantai pasok makanan di Kabupaten Karo.
Bagaimana tanggapan pemerintah daerah?
Gubernur Bobby Nasution meminta pemeriksaan komprehensif, termasuk dampak psikologis, dan menunggu hasil laboratorium untuk menentukan langkah selanjutnya.


