Hilang di Selat Sunda, Istri Jurnalis ANTARA Desak SAR Cari ke Pulau Sertung: 'Itu Feeling Saya'

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Hilang di Selat Sunda, Istri Jurnalis ANTARA Desak SAR Cari ke Pulau Sertung: 'Itu Feeling Saya'
BAGIKAN:

PANDEGLANG — Desi, istri pewarta foto LKBN ANTARA Bagus Khoirunnas, salah satu dari lima jurnalis yang hilang kontak di Selat Sunda, secara terbuka meminta tim pencarian dan pertolongan untuk memfokuskan upaya di Pulau Sertung. Permintaan itu disampaikan di hadapan Gubernur Banten Andra Soni dan Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad, Rabu (9/9) malam, berdasarkan informasi bahwa rombongan suaminya berencana singgah di pulau yang terletak di sebelah barat Anak Krakatau tersebut.

"Saya dapat informasi dari yang mengarahkan dia, bahwa kapal bisa berhenti di Sertung. Dari informasi itu, feeling saya yang harus dicari ya ke Sertung," ujar Desi dengan nada tegas di Posko Pencarian, Pandeglang. Pernyataan itu langsung mendapat respons hati-hati dari Kepala SAR Banten, Al Amrad, yang menyebutkan pihaknya akan mempertimbangkan usulan tersebut, namun tetap mengutamakan keselamatan tim mengingat Gunung Anak Krakatau masih dalam status erupsi.

Pertimbangan SAR: Erupsi dan Zona Bahaya

Al Amrad menjelaskan, tim tidak bisa begitu saja merapat ke Pulau Sertung karena lokasinya yang dekat dengan titik erupsi. "Kami tidak berani terlalu merapat ke situ. Informasi dari rekan di lapangan menyatakan bahwa pada saat itu masih erupsi. Ada peringatan yang tidak bisa kami abaikan. Safety tim juga harus kami pikirkan," katanya. Pernyataan ini menunjukkan dilema antara tuntutan keluarga dan realitas bahaya vulkanik yang masih mengancam.

Sebagai jurnalis investigasi yang kerap meliput bencana, saya menilai pendekatan SAR sudah tepat secara prosedur, namun ironisnya, justru para jurnalis yang seharusnya menjadi garda terdepan informasi kini menjadi korban dari minimnya koordinasi antara pihak berwenang dan awak media. Apakah ada izin resmi untuk peliputan di zona rawan? Dan mengapa peringatan erupsi tidak cukup menghalangi mereka berlayar? Ini pertanyaan yang harus dijawab pemerintah daerah dan BMKG.

Kronologi Hilangnya Rombongan

Speed boat yang mengangkut delapan orang—dua awak kapal (Warta, 55, dan Surakman, 60), seorang pemandu (Heriyanto, 49), serta lima jurnalis—bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB. Rombongan hendak meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau. Salah satu jurnalis sempat mengirim titik lokasi terakhir pada pukul 14.42 WIB, namun komunikasi terputus total pada pukul 15.04 WIB. Sejak itu, keberadaan mereka tidak diketahui.

Para jurnalis yang hilang adalah Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (freelance). Hingga berita ini diturunkan, tim SAR masih menyisir perairan dengan mengacu pada titik terakhir dan informasi dari keluarga. Namun, permintaan Desi menambah dimensi baru dalam pencarian yang sudah sarat risiko.

Analisis: Antara Harapan Keluarga dan Realitas Lapangan

Desi bukan sekadar istri yang cemas; ia adalah suara yang mewakili keluarga besar jurnalis yang mempertaruhkan nyawa demi tugas. Tuntutannya untuk mencari di Sertung bukan tanpa dasar, karena informasi dari pemandu kapal memang menyebut kemungkinan singgah di sana. Namun, keputusan SAR untuk tidak memaksakan diri ke zona erupsi adalah langkah yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang menjadi catatan kritis adalah mengapa tidak ada protokol ketat yang mewajibkan peliputan di kawasan bencana disertai pemantauan real-time dari BMKG dan Basarnas? Kasus ini seharusnya menjadi evaluasi besar bagi Dewan Pers dan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk menyusun standar keselamatan jurnalis di lapangan ekstrem.

Sebagai insan pers, saya turut berduka dan berharap rombongan segera ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, kita tidak boleh menutup mata bahwa kelalaian dalam mengantisipasi kondisi geologis aktif telah berulang kali terjadi. Semoga ini menjadi pelajaran berharga, bukan hanya bagi awak media, tetapi juga bagi otoritas yang memberikan akses tanpa pengawalan memadai.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Mengapa Pulau Sertung dianggap sebagai titik pencarian penting?
Karena istri salah satu jurnalis mendapat informasi bahwa rombongan berencana singgah di pulau tersebut sebelum melanjutkan perjalanan. Pulau Sertung berada di barat Anak Krakatau dan termasuk dalam kawasan Selat Sunda.

2. Apa kendala utama tim SAR untuk mencari di sekitar Pulau Sertung?
Kendala utama adalah status erupsi Gunung Anak Krakatau yang masih aktif, sehingga zona sekitar pulau dianggap berbahaya bagi tim penyelamat. SAR wajib memprioritaskan keselamatan anggota tim tanpa mengabaikan upaya pencarian.

3. Berapa jumlah korban dan siapa saja mereka?
Delapan orang hilang, terdiri dari lima jurnalis (Bagus Khoirunnas, Ari Basuki, Yudhis, Daus, Donal), dua awak kapal (Warta dan Surakman), dan satu pemandu (Heriyanto). Mereka hilang kontak sejak 7 September setelah berlayar dari Pandeglang.

Meow! Tanya Nesi!
😸