Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Tenang

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Tenang
BAGIKAN:

Gempa bumi tektonik dengan magnitudo 4,6 mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (9/9/2026) dini hari pukul 00.42.22 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berlokasi di darat pada jarak 54 kilometer arah timur laut dari Kota Ruteng, dengan kedalaman hiposenter sekitar 10 kilometer. Getaran dilaporkan terasa hingga sejumlah kecamatan di Manggarai dan sekitarnya, meskipun hingga berita ini diturunkan belum ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Wilayah V Kupang, dalam konferensi pers daring, menyatakan bahwa gempa ini tergolong dangkal dan diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif di zona busur belakang (back-arc thrust) Flores. "Dengan kedalaman 10 km dan magnitudo 4,6, guncangan yang dirasakan berada pada skala II–III MMI (Modified Mercalli Intensity), yakni getaran terasa seperti truk berat melintas di dalam ruangan. Kami pastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami mengingat pusatnya di darat dan magnitudo di bawah ambang batas pembangkitan gelombang laut," jelasnya. Masyarakat pesisir di sekitar Selat Sape dan Laut Flores diimbau untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang lebih kecil.

Berdasarkan rekaman seismograf, gempa utama diikuti oleh tiga kali gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo di bawah 3,0 dalam kurun waktu satu jam pertama. BMKG terus memonitor perkembangan dan memastikan sistem peringatan dini tsunami dalam kondisi siaga normal. Pemerintah daerah setempat bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melakukan kaji cepat di wilayah terdampak, dengan fokus utama pada bangunan bertingkat dan infrastruktur publik seperti jembatan dan jalan raya. Hingga pukul 03.00 WIB, belum ditemukan retakan struktural yang membahayakan.

Analisis Pakar Geofisika

Gempa Ruteng ini terjadi di zona kompleks yang dikenal sebagai Sesar Flores, yaitu sesar mendatar (strike-slip) dengan komponen naik (thrust) yang memanjang dari Teluk Bone hingga Laut Flores. Wilayah NTT merupakan pertemuan tiga lempeng besar: Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia di palung Sunda, serta interaksi dengan Lempeng Pasifik di timur. Namun, gempa dangkal seperti ini lebih dikaitkan dengan sesar aktif lokal di kerak atas, yaitu Sesar Ruteng–Ranakah yang merupakan segmen dari sistem Sesar Flores bagian barat. Sesar ini memiliki laju pergeseran sekitar 5–7 mm per tahun dan mampu memicu gempa hingga magnitudo 6,5 berdasarkan studi paleoseismologi terbaru.

Dari mekanisme sumber (focal mechanism) yang dihitung BMKG, gempa ini menunjukkan pola pergerakan geser miring (oblique-slip) dengan arah tekanan utama (stress) berorientasi utara-selatan, konsisten dengan gaya kompresi dari tumbukan lempeng di utara Pulau Flores. Kedalaman 10 km mengindikasikan bahwa patahan yang aktif berada di zona brittle (rapuh) kerak benua, di mana akumulasi tegangan dilepaskan secara tiba-tiba. Meskipun magnitudo 4,6 tergolong sedang, energi yang dilepaskan setara dengan 15 ton TNT, cukup untuk mengguncang bangunan kategori tidak tahan gempa di radius 30 km dari episenter.

Mengenai potensi tsunami, perlu dipahami bahwa tsunami umumnya dibangkitkan oleh gempa bawah laut dengan magnitudo > 7,0 dan mekanisme naik (thrust) yang menggeser dasar laut secara vertikal. Gempa darat dangkal seperti ini, meskipun berada di dekat pantai, tidak memiliki mekanisme deformasi dasar laut yang signifikan. Namun, potensi gempa susulan tetap ada karena aktivasi segmen sesar sekunder. Berdasarkan statistik Gutenberg–Richter, untuk gempa magnitudo 4,6, probabilitas terjadinya gempa susulan dengan magnitudo lebih besar dari gempa utama hanya sekitar 5%. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu cemas berlebihan, namun tetap disarankan untuk menjauhi tebing curam dan bangunan retak akibat guncangan, serta memastikan informasi resmi hanya dari BMKG dan pemerintah daerah.

Meow! Tanya Nesi!
😸