Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Pagar Alam, BMKG Imbau Waspada Gempa Susulan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,5 mengguncang wilayah selatan Sumatera Selatan pada Rabu dinihari, 9 September 2026, pukul 03.23.19 WIB. Pusat gempa terletak di laut pada jarak 108 kilometer arah barat daya (SSW) Kota Pagar Alam, dengan kedalaman yang masih dalam analisis BMKG. Getaran dirasakan di sejumlah kecamatan di Kabupaten Lahat dan Empat Lawang, namun hingga berita ini diturunkan belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Palembang, dalam konferensi pers singkat, menyatakan bahwa gempa ini tergolong dangkal dengan mekanisme pergerakan sesar naik (thrust fault) yang aktif di zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah lempeng Eurasia. Meskipun magnitudo tergolong menengah, BMKG memastikan tidak terjadi potensi tsunami karena pusat gempa tidak memicu deformasi vertikal dasar laut yang signifikan. Namun, masyarakat di pesisir Bengkulu dan Lampung diingatkan untuk tetap tenang dan tidak terpapar hoaks.
Gempa susulan (aftershock) dengan magnitudo lebih kecil diperkirakan masih akan terjadi dalam beberapa jam ke depan, seiring dengan penyesuaian tegangan batuan di sekitar zona sumber. Masyarakat diminta untuk memeriksa bangunan rumah dan menghindari struktur yang retak. Pemerintah daerah setempat telah mengaktifkan posko tanggap darurat untuk memantau dampak sekunder, terutama tanah longsor di daerah perbukitan.
Analisis Pakar Geofisika
Berdasarkan peta sesar aktif Indonesia, wilayah selatan Sumatera khususnya di sekitar Pagar Alam berada pada jalur Sesar Semangko (Great Sumatran Fault) segmen Musi, yang berarah barat laut-tenggara, serta pengaruh zona subduksi megathrust di lepas pantai Bengkulu. Gempa M4,5 ini bukan berasal dari megathrust utama, melainkan dari sesar sekunder (minor fault) atau sesar imbrikasi di dalam lempeng yang tersubduksi (intra-slab earthquake). Data historis menunjukkan bahwa dalam radius 100 km dari lokasi ini, dalam 10 tahun terakhir terjadi belasan gempa M4โ5 yang diakibatkan oleh akumulasi tegangan pada bidang sesar miring ke timur. Dengan kedalaman hiposenter yang diperkirakan sekitar 30โ40 km (masih dikonfirmasi), gempa ini diklasifikasikan sebagai gempa menengah-dalam, yang guncangannya dapat terasa hingga radius 80 km.
Mengenai potensi tsunami, secara ilmiah tsunami dapat terjadi jika gempa berkekuatan M>7,0 dengan mekanisme naik vertikal dan kedalaman dangkal (<20 km). Karena M4,5 jauh di bawah ambang batas, maka ancaman tsunami dapat ditiadakan. Namun, masyarakat harus mewaspadai gempa susulan yang atenuasinya mengikuti hukum Omori, yaitu frekuensi akan menurun secara eksponensial, tetapi dapat terjadi fluktuasi. Sejarah kegempaan di segmen ini menunjukkan bahwa gempa M4โ5 sering kali diikuti oleh swarm (kumpulan gempa kecil) dalam 24 jam. Untuk itu, BMKG merekomendasikan agar warga tidak panik, tetap memeriksa instalasi gas dan listrik, serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan BNPB. Secara tektonik, peristiwa ini tidak mengubah tingkat stres signifikan pada megathrust, sehingga tidak ada indikasi pengaruh terhadap potensi gempa besar di masa dekat.