Erupsi Anak Krakatau Sambar Pencarian, 5 Jurnalis Masih Hilang di Tengah Abu Tebal
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Banten, 9 September 2026 – Bencana kemanusiaan kembali menimpa dunia jurnalistik. Proses pencarian lima jurnalis dan tiga awak kapal yang hilang kontak di Perairan Selat Sunda sejak Senin (7/9) mendadak dihadang oleh erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Rabu siang. Material abu vulkanik tebal menyembur ke langit saat tim Search and Rescue (SAR) tengah menyisir lokasi, memaksa petugas mengutamakan keselamatan di tengah misi yang kian darurat. Hingga berita ini diturunkan, delapan orang yang berada di atas speed boat 'Penida' itu masih belum ditemukan, dan pencarian hari kedua berakhir tanpa hasil.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten, Al Amrad, mengonfirmasi bahwa erupsi terjadi sekitar pukul 13.31 WIB, tepat ketika Search and Rescue Unit (SRU) 1 sedang melakukan operasi menggunakan KN SAR Tetuka 247. “Kami terus memantau aktivitas GAK. Saat terlihat material debu tebal, keselamatan personel adalah prioritas. Kami tetap melanjutkan pencarian dengan menyesuaikan kondisi lapangan,” ujar Al Amrad dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (9/9).
Cuaca di lokasi pencarian memang terpantau cerah berawan dengan kecepatan angin 14 knot dan gelombang 0,4–1 meter. Namun, ancaman dari kawah aktif yang masih terus bergolak menjadi variabel tak terduga. Erupsi ini bukan sekadar gangguan fisik, tetapi juga menghambat visibilitas dan risiko kesehatan bagi para penyelamat. Laporan dari SRU 5 yang menggunakan KP Sanjaya pada pukul 15.22 WIB menyatakan belum ada tanda-tanda kehidupan dari korban. “Sampai saat ini nihil. Kami tak berhenti, setiap perkembangan dievaluasi untuk strategi berikutnya,” tegas Al Amrad.
Operasi Besar-besaran di Tujuh Sektor
Memasuki hari kedua, tim gabungan yang terdiri dari Kantor SAR Banten dan Lampung, TNI, Polri, BPBD, KSOP, serta nelayan setempat, menurunkan tujuh SRU. Sektor 1 digarap oleh RIB 02 Banten dan RIB 03 Lampung dengan total jelajah 67 nautical mile (NM). KN SAR Tetuka 247 menyisir Sektor 2 sejauh 68,3 NM, sementara KAL Anyer mencatat 69,5 NM di sektor yang sama. KP Sanjaya bertugas di Sektor 4 dengan 67,3 NM, dan KRI Leuser serta KRI Lepu masing-masing mengamati sektor terpisah. Selain kapal, drone thermal dan peralatan medis dikerahkan untuk mengoptimalkan jangkauan.
Kronologi hilangnya rombongan bermula pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB, saat mereka berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, untuk meliput aktivitas vulkanik. Jurnalis sempat mengirim titik koordinat terakhir pada pukul 14.42 WIB, namun komunikasi terputus total pada pukul 15.04 WIB. Speed boat yang ditumpangi delapan orang itu dikapteni oleh Warta (55), dengan ABK Surakman (60) dan pemandu Heriyanto (49). Kelima jurnalis adalah M Bagus Khoirunnas (fotografer ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (pewarta lepas).
Analisis: Risiko yang Terabaikan dan Tuntutan Protokol Ketat
Sebagai jurnalis senior yang telah bertahun-tahun meliput bencana, saya melihat kejadian ini bukan sekadar musibah, tetapi cerminan dari lemahnya standar keselamatan bagi wartawan di lapangan ekstrem. Gunung Anak Krakatau adalah salah satu gunung aktif paling berbahaya di Indonesia — erupsinya tidak bisa diprediksi secara akurat. Mengapa rombongan diizinkan mendekati zona bahaya tanpa pengawalan tim vulkanologi yang memadai? Apakah ada koordinasi antara media dan otoritas setempat? Pertanyaan ini harus dijawab agar nyawa tidak terus menjadi taruhan dalam setiap liputan.
Lagi pula, respons SAR meskipu cepat dan terkoordinasi, tetap terbentur oleh kondisi alam yang tak bersahabat. Keberadaan abu vulkanik tidak hanya mengganggu navigasi tetapi juga mengancam kesehatan paru-paru para penyelamat. Saya mengapresiasi upaya tanpa henti dari semua pihak, namun evaluasi mendalam mengenai prosedur evakuasi dan pembatasan akses ke kawasan rawan harus segera dilakukan. Kejadian ini juga menjadi momentum bagi perusahaan media untuk menyediakan pelatihan keselamatan, komunikasi satelit, dan asuransi risiko tinggi bagi wartawan lapangan.
FAQ Terkait Berita Ini
Apa penyebab utama hilangnya kontak dengan rombongan jurnalis?
Hilang kontak terjadi setelah speed boat yang mereka tumpangi melintas di perairan Selat Sunda, dekat Gunung Anak Krakatau. Tidak ada sinyal bahaya, tetapi cuaca dan aktivitas vulkanik diduga menjadi faktor penghambat komunikasi.
Apakah erupsi Anak Krakatau mempengaruhi jalannya pencarian?
Ya. Erupsi yang mengeluarkan abu tebal pada Rabu siang memaksa tim SAR untuk mengutamakan keselamatan personel, meski operasi tetap berjalan dengan penyesuaian kondisi. Ini menambah kompleksitas pencarian.
Berapa lama tim SAR akan melakukan pencarian?
Pencarian akan terus dilakukan hingga ditemukan atau berdasarkan evaluasi lapangan. Strategi disesuaikan dengan dinamika cuaca dan aktivitas gunung. Belum ada batas waktu yang ditentukan.


