Dari Serie D ke Liga Champions! Como 1907 Siap Guncang Eropa di Bawah Naungan Hartono
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Sebuah dongeng sepak bola modern tengah tercipta di tepi Danau Como. Como 1907, klub yang tujuh tahun lalu masih terpuruk di kasta keempat Liga Italia (Serie D), kini bersiap melakoni debut bersejarah di UEFA Champions League 2026/2027. Laga perdana akan digelar di Stadion Giuseppe Sinigaglia melawan RB Leipzig pada Kamis (10/9) waktu Italia atau Jumat dini hari WIB. Di balik lompatan luar biasa ini, ada sentuhan tangan dingin taipan Indonesia, Hartono bersaudara, yang mengakuisisi klub pada 2019 dan mengubahnya dari tim amatir menjadi penantang raksasa Eropa hanya dalam tujuh musim.
Revolusi Diam-Diam di Serie D
Ketika Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono mengambil alih saham Como pada 2019, banyak yang menganggapnya sebagai proyek iseng. Namun, musim 2018/2019 justru menjadi titik balik. Como keluar sebagai juara Serie D dan promosi ke Serie C, sekaligus mengakhiri status amatir yang melekat selama bertahun-tahun. Dua musim berselang, Serie C pun takluk – Como juara 2020/2021 dan naik ke Serie B. Laju tak terbendung berlanjut: hanya dua musim di kasta kedua, Como finis sebagai runner-up Serie B 2023/2024 dan untuk pertama kalinya dalam 22 tahun tampil di Serie A. Dan kini, hanya dalam dua musim setelah promosi ke kasta tertinggi, Como mengamankan posisi keempat Serie A 2025/2026 – tiket emas ke Liga Champions.
Strategi Cerdas di Balik Layar
Hartono bersaudara tak bekerja sendirian. Mereka menggandeng dua legenda sepak bola sebagai pemegang saham minoritas sekaligus ikon strategis: Cesc Fàbregas, yang kini menjabat sebagai pelatih kepala, dan Thierry Henry. Kehadiran mereka memberikan magnet bagi pemain bintang dan filosofi permainan ofensif khas Spanyol-Prancis. Fàbregas, yang juga memiliki saham, menerapkan pola serangan balik cepat dan penguasaan bola pendek yang membuat lawan Serie A kewalahan. Di kursi kepresidenan, Mirwan Suwarso – orang kepercayaan Hartono yang pernah menangani program Garuda Select – menjadi ujung tombak manajemen. Mirwan baru-baru ini mencuri perhatian dunia setelah menawarkan kursi tribun kehormatannya di Stadion Sinigaglia kepada suporter berusia di atas 75 tahun, sebuah gestur rendah hati yang memicu pujian global.
Sebagai pengamat olahraga, saya melihat ini bukan sekadar keberuntungan. Como membangun infrastruktur muda, merekrut pemain dengan data analitik, dan memanfaatkan kekuatan finansial tanpa membeli gelar secara instan. Mereka belajar dari kesalahan klub kaya lainnya – dengan menjaga identitas lokal dan menghormati budaya sepak bola Italia. Debut melawan RB Leipzig akan menjadi ujian sesungguhnya: tim Jerman yang disiplin dan agresif. Namun, dengan dukungan suporter yang fanatik dan danau indah sebagai latar belakang, Como punya modal mental untuk menciptakan kejutan.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Kapan pertandingan perdana Como di Liga Champions?
Pertandingan akan digelar pada Kamis (10/9) waktu Italia, atau Jumat dini hari WIB, melawan RB Leipzig di kandang sendiri.
2. Siapa pelatih Como saat ini?
Pelatih kepala adalah Cesc Fàbregas, yang juga merupakan pemegang saham minoritas klub.
3. Apa peran Mirwan Suwarso di Como?
Mirwan menjabat sebagai Presiden Klub dan merupakan orang kepercayaan Hartono bersaudara. Ia dikenal karena aksi sosialnya memberikan kursi tribun kepada suporter lansia.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Judoka Muda Sashenka Persembahkan Medali Perunggu Historis bagi Indonesia di YOG Dakar

Sassuolo Terjun Bebas: Jay Idzes dkk Terancam Masuk Zona Degradasi usai Raih 1 Poin dari 6 Laga

Klasik PSMS vs Persija Pembuka: Duel Bersejarah Kembali di League Cup 2026/2027
