Mbappe Bodo Amat PSG Juara Liga Champions: 'Sensasi, Bukan Analisis!'
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Kylian Mbappe angkat bicara soal anggapan bahwa kepergiannya dari Paris Saint-Germain justru membawa keberuntungan bagi klub asal Ibu Kota Prancis itu untuk meraih dua gelar Liga Champions. Dalam konferensi pers di Ciudad Real Madrid, Senin (7/9), megabintang Prancis itu dengan tegas menyatakan: "Bodo amat"āia tidak ambil pusing dengan narasi yang berkembang, dan justru mempersilakan publik terus membicarakannya, baik positif maupun negatif.
Mbappe, yang membela PSG selama tujuh musim (2017ā2024) tanpa pernah membawa pulang trofi Si Kuping Besar, kini menyaksikan mantan klubnya meraih sukses Eropa setelah ia pindah ke Real Madrid. Namun, alih-alih tersinggung, pemain berusia 25 tahun itu menilai wacana tersebut sebagai bagian dari "sensasi" yang sengaja diciptakan untuk menarik perhatian, bukan cerminan analisis sepak bola murni.
Reaksi Mbappe: Sepak Bola Bukan Sekadar Angka
"Saya tidak bisa berkomentar secara umum karena ada banyak analisis berbeda. Tapi jujur, saya tidak terlalu ambil pusing," ujar Mbappe dengan nada santai. Ia menambahkan, "Saya paham cara menganalisis sepak bola, meski bukan segalanya. Namun, terkadang sepak bola bukan lagi soal analisis di lapangan, melainkan tentang menciptakan sensasi agar jadi bahan perbincangan."
Pernyataan ini menjadi sorotan, mengingat PSG justru tampil perkasa di kompetisi Eropa setelah ditinggal sang bintang. Banyak pengamat menilai bahwa kepergian Mbappe memberi ruang taktis bagi pelatih Luis Enrique untuk membangun permainan kolektif yang lebih seimbang. Namun, Mbappe memilih untuk tidak terjebak dalam perdebatan tersebut.
Analisis Dimas Pratama: Antara Sensasi dan Realitas Taktik
Sebagai pengamat olahraga, saya melihat ada dua sisi menarik dari kasus ini. Pertama, secara taktik, PSG memang berubah drastis setelah kehilangan Mbappe. Mereka tidak lagi bergantung pada serangan balik kilat individu, melainkan membangun penguasaan bola dan pressing tinggi yang efektif di laga-laga besar. Kedua, narasi bahwa Mbappe adalah "biang kegagalan" adalah simplifikasi berlebihan. Ingat, PSG juga pernah gagal di final bersama Neymar dan Messi. Jadi, saya cenderung setuju dengan Mbappeāini lebih ke sensasi daripada analisis mendalam.
Yang patut diapresiasi adalah sikap dewasa Mbappe. Ia tidak terprovokasi dan malah memanfaatkan momen ini untuk fokus pada misi barunya bersama Real Madrid. Di Santiago Bernabeu, ia akan menghadapi Inter Milan pada laga pembuka Liga Championsālaga yang menjadi panggung sempurna untuk membuktikan bahwa dirinya adalah pemain pemenang, di mana pun ia berada.
Fokus ke Inter Milan: Bernabeu Jadi Panggung Pembuktian
Mbappe mengakui bahwa tampil di Bernabeu di ajang Liga Champions memberikan motivasi ekstra. "Kami sangat senang bisa kembali berlaga. Memulai turnamen di kandang memberi suntikan semangat tambahan. Kondisi kami prima, meski laga akan berjalan sengit," tegasnya. Dengan dukungan penuh fans Madrid, Mbappe bertekad menunjukkan bahwa ia bukan hanya bintang sensasi, melainkan mesin gol yang haus trofi.
Pertandingan kontra Inter diprediksi berlangsung panas, mengingat kedua tim sama-sama mengincar kemenangan perdana. Bagi Mbappe, ini adalah kesempatan emas untuk merespons semua kritik dan anggapan miringādengan aksi di lapangan, bukan kata-kata.
FAQ Terkait Berita Ini
Apakah benar PSG juara Liga Champions setelah Mbappe pergi?
Ya, PSG berhasil meraih gelar Liga Champions pada musim 2024/25 dan 2025/26 setelah kepergian Mbappe ke Real Madrid, meski banyak faktor lain yang turut berpengaruh.
Bagaimana tanggapan Mbappe terhadap anggapan tersebut?
Mbappe mengaku tidak ambil pusing dan menganggapnya sebagai sensasi buatan untuk menarik perhatian, bukan analisis taktik yang valid.
Apa fokus Mbappe saat ini?
Mbappe kini fokus bersama Real Madrid dan bersiap menghadapi Inter Milan di laga perdana Liga Champions di Stadion Santiago Bernabeu.


