Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Krisis Kepercayaan di Israel: Eisenkot Tuding Netanyahu Utamakan Jabatan di Tengah Perang Multifront

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Krisis Kepercayaan di Israel: Eisenkot Tuding Netanyahu Utamakan Jabatan di Tengah Perang Multifront
BAGIKAN:

Pertarungan politik Israel memasuki babak baru menjelang pemilu Oktober. Jenderal purnawirawan Gadi Eisenkot secara terbuka menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu lebih mementingkan kelangsungan jabatan pribadi daripada keamanan negara, di saat Tel Aviv masih berkutat dengan konflik bersenjata di beberapa lini Timur Tengah. Tuduhan keras itu dilontarkan dalam rapat umum di kota Rosh Haayin, Israel tengah, pada Minggu (7/9), dan langsung mengubah peta persaingan menuju kursi pemerintahan.

Eisenkot, yang kini memimpin partai baru Yashar (berarti "lurus" atau "teguh"), menyampaikan serangkaian pertanyaan retoris yang menyindir gaya kepemimpinan Netanyahu. "Akankah kita terus berada di bawah pemerintahan yang mempromosikan penghindaran kewajiban tanpa rasa malu selama bertahun-tahun lagi?" tanyanya di hadapan pendukung, seraya mengkritik kebijakan fiskal yang dianggapnya memberikam insentif bagi kelompok yang tidak berkontribusi pada layanan publik atau tenaga kerja.

Perpecahan Nasional dan Tantangan Keamanan

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat itu juga menyoroti dampak psikologis dan sosial dari agresi militer di Gaza yang dilancarkan di bawah kabinet Netanyahu. Menurutnya, peristiwa 7 Oktober—yang menandai eskalasi dramatis—telah menciptakan retakan dalam masyarakat Israel. "Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengatasi besarnya situasi, yang menyatukan dan memulihkan prinsip-prinsip kenegaraan serta Zionisme," tegas Eisenkot, menarik garis pembeda antara dirinya yang berlatarbelakang militer dan karier politik panjang Netanyahu.

Analisis jurnalis global menilai bahwa pernyataan Eisenkot tidak semata-mata kampanye elektoral, melainkan cerminan kegagalan koalisi yang berkuasa dalam merumuskan strategi keluar dari konflik multifront—baik menghadapi faksi Palestina, ketegangan dengan Hizbullah di utara, maupun ancaman dari Iran. Eisenkot, meski tidak merinci solusi taktis, menekankan perlunya kepemimpinan yang kredibel dan tidak terpecah oleh agenda internal.

Lonjakan Dukungan: Isyarat Perubahan?

Kehadiran Eisenkot di panggung politik nasional tergolong baru, namun partai Yashar—yang baru didirikan setahun lalu—mencatatkan lonjakan signifikan dalam survei. Lembaga penyiaran publik Israel, Kan, merilis jajak pendapat pada 6 September yang memproyeksikan Yashar meraih 23 kursi Knesset, mengungguli Likud pimpinan Netanyahu yang hanya 20 kursi. Secara keseluruhan, blok anti-Netanyahu diperkirakan memperoleh 51 kursi, sementara koalisi pendukung PM memperoleh 52 kursi—masih di bawah ambang mayoritas 61 yang diperlukan untuk membentuk pemerintahan.

Kondisi ini menciptakan dinamika pemilu yang cair. Eisenkot optimistis dapat menarik pemilih tradisional Likud, seperti diakui langsung: "Saya bertemu banyak orang yang telah memilih partai yang sama selama beberapa dekade. Mereka bilang betapa sulitnya berpindah. Saya menjawab: sebagaimana Anda mempercayai saya, saya percaya Anda mampu membuat pilihan yang berani dan tepat untuk Israel."

Di sisi lain, pengamat politik mencatat bahwa program partai Yashar masih belum teruji dalam isu-isu kunci seperti penyelesaian dua negara atau kebijakan permukiman. Latar belakang militer Eisenkot mungkin menjadi aset, namun tidak otomatis menjawab pertanyaan tentang masa depan hubungan Israel-Palestina dan diplomasi regional. Kekuatan Netanyahu justru terletak pada pengalaman dan jaringan internasional, meski reputasinya tergerus oleh proses hukum dan kritik internal.

Analisis: Pertarungan Narasi dan Simbol

Persaingan antara Eisenkot dan Netanyahu lebih dari sekadar perebutan kursi; ini adalah benturan antara generasi politik baru yang mengusung citra "pemimpin krisis" melawan petahana yang telah berkuasa total 19 tahun. Eisenkot mencoba memanfaatkan sentimen lelah terhadap politisi karier, sementara Netanyahu membangun kampanye pada stabilitas dan keamanan—meski keduanya sama-sama kuat dalam wacana nasionalis.

Yang menarik, tuduhan Eisenkot tidak langsung menyasar kebijakan luar negeri, melainkan integritas internal. Ini mengindikasikan bahwa medan perang utama adalah kepercayaan publik, bukan platform ideologis. Dalam konteks krisis kepercayaan yang melanda banyak negara demokrasi, strategi Eisenkot mungkin relevan, namun tetap perlu diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret agar tidak berakhir sebagai retorika belaka.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa latar belakang Gadi Eisenkot sehingga dianggap pesaing serius Netanyahu?
Eisenkot adalah mantan Kepala Staf Angkatan Darat Israel (2015–2019), figur militer terhormat dengan pengalaman memimpin operasi besar. Meski baru terjun ke politik, rekam jejaknya di bidang keamanan memberinya kredibilitas tinggi di mata pemilih yang meragukan kemampuan Netanyahu dalam mengelola perang.

Bagaimana peluang Eisenkot untuk benar-benar menjegal Netanyahu?
Berdasarkan jajak pendapat terbaru, partainya unggul tipis di kursi Knesset, namun blok koalisi pro-Netanyahu masih lebih kuat secara agregat (52 vs 51). Eisenkot perlu memenangkan kursi tambahan atau mengajak partai-partai kecil untuk mencapai 61 mayoritas. Dinamika masih sangat terbuka hingga Oktober.

Apakah tuduhan Eisenkot mempengaruhi proses perdamaian atau konflik di Gaza?
Secara langsung, tuduhan tersebut tidak mengubah kebijakan di lapangan. Namun, jika mentransformasi peta politik, pemerintahan baru mungkin akan mengadopsi pendekatan berbeda terhadap Gaza, Iran, dan Lebanon—tergantung pada komposisi koalisi yang terbentuk. Pasar dan diplomat asing mencermati hal ini sebagai sinyal perubahan arah.

Meow! Tanya Nesi!
😸