Kebakaran TPA Galuga Bogor Padam, Asap Beracun Masih Mengepul dan Ancam Warga
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

BOGOR, (BeritaHariIni.net) — Api yang melahap tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kabupaten Bogor, akhirnya berhasil dipadamkan setelah petugas gabungan berjibaku selama berjam-jam. Namun, kepulan asap tebal masih terus mengepul dari lokasi, menyisakan kekhawatiran warga sekitar akan dampak gas beracun dan ancaman kesehatan jangka panjang. Insiden yang terjadi pada Selasa (08/09/2026) ini kembali menyoroti darurat pengelolaan sampah di wilayah Jabodetabek.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, melalui keterangan tertulis, membenarkan bahwa proses pemadaman telah dilakukan sejak dini hari dengan mengerahkan puluhan personel dari pemadam kebakaran, BPBD, dan TNI/Polri. "Kami mengerahkan 6 unit mobil pemadam dan 2 unit alat berat untuk menyingkirkan tumpukan agar api tidak menjalar ke zona lain," ujar salah satu petugas di lokasi. Meski api sudah tidak terlihat, upaya pendinginan terus dilakukan untuk mencegah penyalaan ulang di kedalaman tumpukan sampah yang bisa mencapai puluhan meter.
Kebakaran di TPA Galuga bukanlah kejadian pertama. Dalam lima tahun terakhir, setidaknya tiga kali kebakaran besar terjadi di lokasi yang sama. Pengamat lingkungan menilai, akar masalahnya adalah metode penimbunan terbuka (open dumping) yang masih diterapkan, ditambah musim kemarau yang mempercepat pembakaran spontan akibat gas metana. "Ini seperti bom waktu. Tanpa pengelolaan berbasis teknologi, kebakaran akan terus berulang," tegas Budi Santoso, jurnalis investigasi yang memantau langsung perkembangan kasus ini.
Asap Beracun dan Gangguan Pernapasan Warga
Pantauan di lapangan, asap berwarna putih keabu-abuan masih membubung tinggi hingga Selasa sore, terbawa angin ke pemukiman padat penduduk di sekitar Kecamatan Cibungbulan dan wilayah Bogor Barat. Warga mengeluh bau menyengat dan iritasi mata, bahkan beberapa balita dilaporkan mengalami sesak napas. Pemerintah setempat telah membagikan masker dan mendirikan posko kesehatan darurat, namun banyak warga memilih mengungsi sementara ke rumah kerabat karena khawatir menghirup partikel berbahaya seperti dioksin dan furan yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik.
"Kami sudah terbiasa dengan asap, tapi kali ini lebih pekat dan bikin pusing. Anak-anak saya tidak bisa sekolah karena jarak pandang berkurang," keluh Siti, warga Kampung Galuga. Keluhan serupa juga disampaikan melalui media sosial, menandakan keresahan yang meluas. Padahal, berdasarkan data Dinas Kesehatan, kadar PM2,5 di sekitar TPA sempat melonjak hingga 150 µg/m³, jauh di atas ambang batas aman 50 µg/m³.
Kritik Tajam: Manajemen Sampah yang Mandeg
Kasus ini mengungkap kegagalan sistemik dalam pengelolaan sampah di tingkat kabupaten. Kebakaran sampah di TPA Galuga seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera menghentikan praktik open dumping dan beralih ke fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (WTE) atau sistem sanitary landfill yang dilengkapi instalasi penampungan gas metana. Namun, hingga kini, rencana pembangunan fasilitas tersebut masih terkatung-katung di meja birokrasi.
Seharusnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat turun tangan memberikan sanksi tegas dan pendanaan darurat. Bukan hanya sekadar memadamkan api, tetapi juga memulihkan lahan dan memberikan kompensasi bagi warga yang terdampak. "Kita tidak bisa terus-menerus menutup mata. Setiap kali kebakaran, yang rugi adalah rakyat dan lingkungan. Sudah saatnya ada terobosan hukum dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan publik," tegas Budi Santoso dalam analisisnya.
Pakar lingkungan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menambahkan, potensi kebakaran bawah tanah masih tinggi mengingat suhu di inti tumpukan bisa mencapai 200 derajat Celcius. Mereka merekomendasikan pemantauan suhu dan gas secara berkala, serta pembuatan kanal atau barrier untuk membatasi penyebaran api. Namun, rekomendasi ini jarang diimplementasikan secara konsisten di lapangan.
Kejadian di Bogor ini sekaligus menjadi peringatan bagi daerah lain yang memiliki TPA sejenis, seperti Bantargebang dan Jatibarang. Tanpa perubahan paradigma, siklus kebakaran, asap, dan penderitaan warga akan terus terulang, menghabiskan biaya pemadaman dan kesehatan yang tidak sedikit. Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak cepat dan berani mengambil keputusan berisiko untuk masa depan lingkungan yang lebih baik.
FAQ Terkait Berita Ini
1. Apakah TPA Galuga sudah beroperasi normal kembali?
Belum. Meski api padam, proses pendinginan dan pemadatan masih berlangsung. TPA ditutup sementara untuk kendaraan pengangkut sampah hingga kondisi dinyatakan aman.
2. Apa dampak kesehatan dari asap kebakaran sampah?
Asap mengandung partikel halus dan gas beracun seperti dioksin, furan, dan karbon monoksida. Dampak jangka pendek meliputi iritasi mata, batuk, dan sesak napas, sedangkan jangka panjang dapat memicu penyakit pernapasan kronis hingga kanker.
3. Bagaimana solusi jangka panjang agar kebakaran tidak terulang?
Diperlukan penghentian open dumping dan implementasi teknologi pengolahan sampah modern seperti sanitary landfill dengan sistem pengumpulan gas metana, serta penguatan daur ulang dan pengurangan sampah dari sumbernya. Regulasi yang ketat dan pengawasan rutin juga mutlak diperlukan.


