Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Inggris Guncang Hubungan dengan Israel: Larangan Dagang Pemukiman dan Dukungan Tegas untuk Palestina

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Inggris Guncang Hubungan dengan Israel: Larangan Dagang Pemukiman dan Dukungan Tegas untuk Palestina
BAGIKAN:

Pemerintah Inggris secara resmi mengumumkan kebijakan ‘reset’ hubungan dengan Israel yang menandai pergeseran signifikan dalam pendekatan diplomatik London terhadap konflik Timur Tengah. Menteri Luar Negeri Ed Miliband, pada Selasa (8/9), memaparkan langkah konkret berupa larangan perdagangan barang dan jasa dari pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat, sekaligus menegaskan kembali komitmen terhadap solusi dua negara dan perlindungan hak-hak rakyat Palestina. Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya tekanan internasional pasca-opini Mahkamah Internasional (ICJ) tahun 2024, dan berpotensi mengubah dinamika ekonomi serta politik antara Inggris, Israel, dan Amerika Serikat.

Larangan Perdagangan dan Implikasi Hukum

Kebijakan inti yang diumumkan Miliband adalah pelarangan impor produk dari permukiman Israel di wilayah yang diduduki sejak 1967, serta pembatasan jasa terkait seperti pembiayaan dan periklanan. Inggris secara konsisten menganggap permukiman tersebut ilegal berdasarkan hukum internasional, dan langkah ini sejalan dengan pendapat penasihat ICJ yang menegaskan bahwa negara-negara tidak boleh mendukung pendudukan Israel. Meskipun pemerintah sebelumnya ragu karena sulit membedakan produk pemukiman dengan produk Israel, aturan baru ini menjadikan transaksi tertentu sebagai tindakan ilegal, memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha dan lembaga keuangan.

Total perdagangan barang dan jasa antara Inggris dan Israel mencapai sekitar £6 miliar pada 2025. Dampak kebijakan terhadap hubungan ekonomi bilateral masih bergantung pada respons Israel, namun para analis menilai bahwa langkah ini lebih bersifat simbolis dan politis ketimbang ekonomi, mengingat cakupan produk pemukiman relatif kecil. Namun, sinyal politik yang dikirimkan sangat kuat, terutama di tengah kritik global terhadap perluasan permukiman E1 di timur Yerusalem yang dikhawatirkan membelah Tepi Barat dan menggagalkan pembentukan negara Palestina yang berkelanjutan.

Dukungan Publik dan Tekanan Domestik

Keputusan Miliband tidak muncul dalam ruang hampa. Jajak pendapat Opinium yang dirilis The Guardian menunjukkan bahwa 46% warga Inggris mendukung larangan perdagangan barang dari pemukiman Israel, sementara hanya 18% yang menolak. Dukungan lintas spektrum politik ini mencerminkan perubahan opini publik pasca-eskalasi konflik di Gaza, serta meningkatnya kesadaran akan isu kemanusiaan. Pemerintah Partai Buruh, yang mengusung janji kebijakan luar negeri yang lebih berprinsip, tampaknya merespons sentimen tersebut dengan mengambil langkah yang sebelumnya dianggap terlalu kontroversial.

Namun, langkah ini menuai kecaman keras dari kalangan pro-Israel. Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menyerukan agar duta besar Inggris diusir, sementara Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee menuduh pemerintah Inggris diliputi kebencian terhadap Yahudi. Tuduhan ini dibantah oleh Miliband yang menegaskan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada penghormatan terhadap hukum internasional dan kepedulian terhadap hak asasi manusia, bukan sentimen anti-Semit. Menariknya, AS sendiri sebelumnya telah menekan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait pembangunan permukiman, bahkan meminta pembongkaran sejumlah permukiman liar, menunjukkan bahwa ada perbedaan pendekatan di dalam pemerintahan AS sendiri.

Analisis: Pergeseran Strategis atau Sekadar Simbolis?

Sebagai analis hubungan internasional, kebijakan Inggris ini dapat dibaca sebagai upaya untuk mengembalikan kredibilitas moral Inggris di panggung global, setelah bertahun-tahun dianggap terlalu akomodatif terhadap Israel. Di sisi lain, ini juga merupakan langkah pragmatis untuk mengamankan posisi negosiasi Inggris dalam setiap perjanjian perdamaian masa depan, dengan menunjukkan bahwa London memiliki posisi independen dari Washington. Namun, efektivitas kebijakan ini sangat bergantung pada implementasi teknis dan kerja sama negara-negara Eropa lainnya. Jika Inggris sendirian, dampaknya akan terbatas; tetapi jika diikuti oleh negara-negara seperti Prancis atau Jerman, tekanan kolektif dapat mengubah kalkulasi Israel.

Perlu dicatat bahwa Miliband juga menyoroti pembatasan bantuan kemanusiaan ke Gaza yang diberlakukan Israel dengan alasan keamanan—klaim yang dibantah keras oleh pemerintah Israel. Dalam pernyataannya di parlemen, ia diperkirakan akan menggunakan bahasa lebih tegas mengecam ketidakadilan kemanusiaan, menandakan bahwa Inggris tidak segan untuk mengkritik sekutu dekatnya jika melanggar norma internasional. Ini adalah sinyal penting bagi negara-negara lain yang selama ini diam atau bersikap ambigu.

Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap hak-hak Palestina dan mempertahankan dialog konstruktif dengan Israel, mengingat peran penting Israel dalam stabilitas kawasan dan intelijen bersama. Inggris tampaknya memilih jalur ‘tegas namun terbuka’, dengan tetap mengakui hak Israel untuk hidup dalam keamanan. Solusi dua negara tetap menjadi kerangka utama, namun tanpa tindakan nyata untuk menghentikan perluasan permukiman, solusi tersebut akan terus menjadi mimpi.

FAQ Terkait Berita Ini

Apa yang dimaksud dengan 'reset' hubungan Inggris-Israel?
Reset merujuk pada perubahan kebijakan Inggris yang lebih kritis terhadap Israel, khususnya dengan melarang perdagangan dari pemukiman ilegal dan memperkuat dukungan diplomatik bagi Palestina, sambil tetap mempertahankan hubungan diplomatik dasar.

Apakah larangan ini akan mempengaruhi produk-produk Israel secara umum?
Tidak. Larangan hanya berlaku untuk barang dan jasa yang berasal dari pemukiman di Tepi Barat, Yerusalem Timur, dan Dataran Tinggi Golan, bukan produk dari Israel dalam garis perbatasan 1967. Namun, implementasinya memerlukan verifikasi rantai pasok yang ketat.

Bagaimana respons Israel dan AS terhadap kebijakan ini?
Israel mengecam keras dan menyerukan pengusiran duta besar Inggris, sementara AS melalui duta besarnya mengkritik keras, meskipun AS sendiri sebelumnya juga menekan Israel soal permukiman. Respons ini menunjukkan adanya ketegangan diplomatik yang mungkin berlanjut.

Meow! Tanya Nesi!
😸