Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5,3 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Waspada

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa M5,3 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Waspada
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (8/9/2026) pukul 07.40.28 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa terletak di darat, tepatnya 51 km arah timur laut dari kota Ruteng, dengan kedalaman hiposenter sekitar 10 km. Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah kecamatan, termasuk Ruteng, Lembor, dan Cibal, dengan skala intensitas III–IV MMI, yang menyebabkan kepanikan warga dan sedikit kerusakan ringan pada bangunan di wilayah episentral.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini tidak berpotensi tsunami mengingat lokasi sumbernya berada di darat dan magnitudo di bawah ambang batas pemicu gelombang laut. Hingga pukul 08.30 WIB, telah tercatat dua kali gempa susulan dengan kekuatan di bawah M3,0. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, menghindari bangunan retak, dan memantau informasi resmi dari BMKG serta pemerintah daerah. Tim reaksi cepat BPBD Manggarai telah diterjunkan untuk melakukan asesmen di wilayah terdampak, terutama di desa-desa yang berada di lereng curam guna mengantisipasi longsor susulan akibat guncangan.

Analisis Pakar Geofisika

Secara tektonik, wilayah Ruteng dan sekitarnya berada pada zona kompleks yang dipengaruhi oleh tumbukan lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah busur Sunda. Sesar aktif yang berperan dalam kejadian ini adalah Sesar Flores, yang merupakan struktur geser (strike-slip) dengan komponen normal, yang membentang dari Teluk Bone hingga Laut Sawu. Segmen sesar di sekitar Ruteng memiliki laju geser sekitar 5–6 mm per tahun, dan gempa M5,3 merupakan pelepasan energi menengah yang wajar pada sistem sesar ini. Dari mekanisme fokal, pola pergerakan menunjukkan dominasi sesar geser menganan (dextral) dengan sedikit patahan naik, konsisten dengan orientasi sesar aktif yang terpetakan dalam peta gempa nasional 2017 dan 2022.

Sejarah kegempaan di zona ini mencatat beberapa peristiwa signifikan, antara lain gempa M6,8 tahun 1992 di Maumere, serta gempa M5,9 tahun 2005 di Ruteng yang menimbulkan kerusakan sedang. Kejadian M5,3 hari ini berada dalam koridor aktivitas seismik yang sama, namun dengan energi yang jauh lebih kecil. Mengingat kedalaman dangkal (10 km), guncangan di permukaan terasa kuat, tetapi skala magnitudo membatasi luas area kerusakan pada radius 20–30 km dari pusat. Potensi gempa susulan diprediksi akan berlangsung dalam beberapa jam ke depan dengan magnitudo maksimum M4,0, sesuai dengan hukum Gutenberg-Richter dan tingkat aktivitas aftershock yang umum pada sesar berkarakter geser.

Perihal tsunami, perlu ditegaskan bahwa karena sumber gempa berada di darat dan tidak memicu deformasi dasar laut yang signifikan, maka ancaman gelombang tinggi dapat dikesampingkan. Namun, warga yang bermukim di daerah tebing dan lembah harus mewaspadai bahaya sekunder berupa gerakan tanah, terutama pada tanah gembur dan lereng dengan kemiringan >30 derajat. Berdasarkan peta kerentanan gempa BMKG, wilayah ini masuk dalam zona merah dengan percepatan tanah puncak (PGA) 0,25–0,35 g, sehingga konstruksi tahan gempa menjadi keharusan. Pemerintah daerah disarankan untuk segera melakukan evaluasi struktur bangunan publik dan memastikan jalur evakuasi tersosialisasikan dengan baik, mengingat siklus pengulangan gempa besar di zona Flores diperkirakan 100–150 tahun, dan segmen Ruteng masih menyimpan potensi magnitudo maksimum hingga M7,0 dalam jangka panjang.

Meow! Tanya Nesi!
😸