Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5,2 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Tenang

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M5,2 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Tenang
BAGIKAN:

Gempa bumi bermagnitudo 5,2 mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (8/9/2026) pukul 18.36.35 WIB. Pusat gempa terletak di darat pada jarak 123 km arah timur laut dari Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, dengan kedalaman hiposenter sekitar 10 km. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami karena sumbernya berada di darat dan magnitudo di bawah ambang batas pembangkit gelombang laut besar.

Guncangan dilaporkan terasa hingga ke sejumlah kota di sekitarnya, seperti Labuan Bajo dan Ende, dengan skala intensitas III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity), yakni getaran dirasakan nyata oleh banyak orang dan benda-benda ringan bergoyang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa. Namun, tim BPBD setempat telah diterjunkan untuk melakukan asesmen cepat di wilayah-wilayah yang berpotensi mengalami retakan tanah atau longsor, mengingat topografi NTT yang berbukit dan rawan gerakan tanah.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu hoaks yang beredar. Warga di sekitar pusat gempa diminta untuk menjauhi bangunan yang retak dan memeriksa instalasi listrik serta gas sebelum kembali ke dalam rumah. Meski gempa utama telah terjadi, kewaspadaan terhadap gempa susulan (aftershock) yang umumnya lebih kecil magnitudonya tetap diperlukan, namun tidak perlu menimbulkan kepanikan berlebihan.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Nusa Tenggara Timur merupakan zona tektonik yang sangat kompleks sebagai pertemuan tiga lempeng besar, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Eurasia, serta banyak sesar lokal aktif. Gempa M5,2 ini kemungkinan besar dipicu oleh aktivitas Sesar Flores Timur (Flores Back Arc Thrust) atau sesar naik belakang busur yang membentang dari timur Flores hingga Wetar. Sesar ini terbentuk akibat gaya kompresi dari tumbukan lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah busur Sunda-Banda, menimbulkan patahan naik dengan bidang sesar miring ke utara. Mekanisme fokal gempa yang terpantau menunjukkan pergerakan naik (thrust) dominan, konsisten dengan karakter sesar tersebut.

Dari sejarah kegempaan, wilayah Ruteng dan sekitarnya pernah diguncang gempa merusak pada tahun 1992 (M6,8) dan 2018 (M5,7) yang menyebabkan kerusakan bangunan dan longsor. Namun, gempa kali ini relatif kecil dan tidak cukup untuk memicu deformasi besar di dasar laut, sehingga potensi tsunami dapat ditiadakan. Meskipun kedalaman gempa tergolong dangkal (10 km), energi yang dilepaskan hanya sekitar 2,0 x 10^12 Joule—setara dengan 0,5 kiloton TNT—sehingga dampak guncangan terbatas pada radius beberapa puluh kilometer dari episenter.

Untuk gempa susulan, berdasarkan analisis statistik, probabilitas terjadinya aftershock dengan magnitudo >4,0 dalam 24 jam pertama mencapai 15-20%, namun umumnya magnitudo akan menurun seiring waktu. BMKG terus memantau perkembangan menggunakan jaringan seismograf regional. Masyarakat diharapkan mengikuti arahan resmi dan tidak mempercayai sumber tidak jelas. Dari sisi geoteknik, kewaspadaan utama justru pada risiko longsor di lereng curam akibat getaran, mengingat kondisi tanah yang poros dan curah hujan tinggi di akhir musim kemarau. Oleh karena itu, warga yang tinggal di perbukitan dan tepi sungai diminta untuk waspada terhadap retakan tanah dan pergerakan massa batuan.

Meow! Tanya Nesi!
😸